Archive

Posts Tagged ‘Diary Syifa’

Perkembangan Syifa

March 11, 2009 2 comments

Satu kata, alhamdulillah… begitu cepat Syifa belajar dan menghafal.

Saat ini satu setengah tahun usia Syifa, dan sekarang si kecil sudah dapat merangkai dua sampai tiga kata, misalnya umi duduk, ayep mimi (ayep=arep, mau), mbak jini (manggil nama orang), dan lainnya. Yang lebih membuat umi bangga adalah Syifa sekarang sudah bisa berhitung sendiri dari 1-10. Ya, meskipun masih cedal, sehingga saat berhitung cuma buntutnya aja. Kira-kira begini saat Syifa berhitung, “atu dua ga mpat ma anam uju apan yan yuh…” šŸ˜€ Read more…

Advertisements

Syifa, Sudah Bisa Apa Aja Sekarang?

January 7, 2009 3 comments

Syifa sudah 16 bulan 8 hari. Kalau menurut sebuah iklan, usia ini sudah memasuki usia emas atauĀ golden age, di mana otak anak akan terus berkembang hingga mencapai 80% berat otak dewasa pada saat usia tiga tahun.

Masa-masa ini adalah masa Syifa banyak belajar dan mengenal apa saja yang ada di sekitarnya. Usia di mana seorang anak banyak mencari tahu dan bereksperimen terhadap apa pun yang ditemuinya. Ia banyak melihat, mendengar, merekam semua kejadian di sekitar dan kemudian menirunya. Sebagai orang tua perlu lebih menjaga tingkah laku karena semuanya akan ditiru oleh sang anak, tanpa pilih-pilih. Yang baik dan yang jelek, semua bisa saja ditirukan oleh si kecil.

Sampai hari ini banyak hal yang telah dipelajari si kecil. Umi ingin me-list apa aja yang sudah bisa Syifa lakukan. Read more…

Syifa dan Balon Toet-Toet

December 12, 2008 1 comment

Sepulang dari kuliah, saat masuk ke rumah saya melihat ada balon berwarna merah jambu tergeletak begitu saja. Balon itu, balon seharga dua ribu rupiah yang bila dipencet bagian tangkainya akan berbunyi, toet-toet.
Saat saya bertanya tentang balon itu, simbok menjawab dengan sebuah cerita. Kurang lebih intinya, bahwa tadi saat maen di rumah tetangga, telah terjadi perebutan balon antara Syifa dan kedua teman sebayanya, yaitu Bagas dan Veni. Akhirnya simbok berinisiatif membelikan balon untuk Syifa. Tentu saja saya merasa tidak senang. Bukan karena harus mengganti uang sebesar dua ribu rupiah kepada simbok. Masalahnya, saya tidak ingin Syifa menjadi manja. Loh, apa hubungannya? Let’s see.

Pertama, terjadi perebutan balon.
Saya tidak tahu persis kejadiannya, tapi bisa digambarkan adegan perebutan balon ala anak kecil. Pasti ada mimik-mimik muka yang mrengut (cemberut), tangan-tangan yang ingin mengambil balon, lalu salah satu anak yang tidak mendapat balon akan menangis, merengek, dan karena penjualnya masih ada di situ, pasti tangan anak yang ngga kebagian balon itu spontan menunjuk ke arah situ. Ini mengindikasikan bahwa si kecil bilang, “Aku ingin balon.”

Ke dua, balon dibeli karena si kecil nangis.

Read more…