Diary Syifa · Family · Islam · Pesantren · Sekolah

Rindu Anak di Pondok

Teruntuk para orang tua yang memilih memasukkan anaknya ke pesantren.

Berat, memang sangat berat.
Dan saya pun merasakannya sendiri kemarin.
Saat melepas si sulung di pondok. Berpamitan. Dia cium tangan saya, lalu melambaikan tangan.
Masih ada senyum. Dia terlihat kuat, atau berusaha kuat.

Sebelum momen itu, kami menyaksikan seorang santriwati menangis sambil memeluk ayahnya. Tampak pula ibunya, mengalihkan pandangan sambil menyeka bulir air matanya yg jatuh. Matanya merah.

Ah, memang situasi yang sangat tidak menyenangkan.

Membayangkan bakal berpisah sebulan untuk masa karantina saja, rasanya berat.

Kami pun melangkah, menjauh.
Sekian langkah menjauhi asrama, aku pun tak kuasa membendung tangis.
Masya Allah.
Seperti ini rasanya.
“Semedhot” istilah Jawanya.

Jangan tanya bagaimana saat sampai di rumah.
Ketika melihat bajunya, barang-barangnya di rumah, ketika malam akan tidur, mengingat wajahnya membuat mata ini menangis kembali.

Sedang apa dia di sana?
Bagaimana adaptasinya?
Apakah dia sudah punya kawan?
Bagaimana makannya, tidurnya, dll.

Aku pun mencoba menepisnya.
Melihat tingkah adik-adiknya. Tak jarang mereka bertanya, kapan mbak Syifa pulang. Atau sekedar ungkapan, “Aku kangen mbak Syifa..”

Hanya sebulan. Insya Allah bukan waktu yang lama.
Kelak kita kan bertemu kembali, dengan keadaan yang lebih baik, Insya Allah.

Bukan maksud kami menjauhkan dirimu, Nak.
Namun ini adalah ihtiar kami dalam menjagamu.

Kalau kata seorang ustadz, “Menangislah sekarang, daripada menangis kelak saat anakmu berzina atau dipenjara.”

Semoga ihtiar kami berbuah manis.
Semangat, Nak.
Bersabarlah, Nak.
Tekunlah menimba ilmu agama, Nak.
Teguhlah menghafal Kalamullah, Nak.

Kelak, suatu saat kau akan mengerti.
Kelak kau akan paham dan bersyukur atas apa yang kami lakukan.

Karena anak adalah investasi.
Jadilah seorang anak yang mampu memberikan syafa’at melalui perantaraan hafalan Qur’anmu, pada kedua orang tuamu kelak.
Jadilah anak yang kelak mampu memakaikan mahkota cahaya untuk kami di akhirat.

Hanya kepada Allah kami memohon.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s