Family · Umroh

Umroh dengan Travel Nur Ramadhan

Menginjakkan kaki di tanah haram, selain takjub dengan ka’bah dan sekelilingnya yang megah, saya pun “gumun” (bahasa Jawa artinya heran karena baru pertama kali melihat) dengan gedung-gedung yang tinggi menjulang. Sebelumnya, di Madinah pun demikian.

Masya Allah..

Baru pertama kali itu saya merasakan berada di antara gedung-gedung sangat tinggi, yang sebelumnya hanya saya saksikan di TV. (Saya memang belum pernah melihat gedung-gedung tinggi di Jakarta dan kota metropolitan lainnya. Selama ini di Jogja saja hehe).

Foto gedung Al-Shofwa di Mekah. Di dalamnya ada beberapa hotel dan toko. Termasuk hotel tempat saya menginap, Dar el Haram.

Kembali ke topik.

Sewaktu umroh, saya menginap di hotel Al-Rhaudhah di Madinah dan di Mekah menginap di hotel Dar El Iman. Dua-duanya hotel Bintang 5.

Alhamdulillah, bersyukur bisa mendapatkan travel umroh yang bagus (Nur Ramadhan).

Makanan terjamin, meski mungkin bagi para orang tua bisa merasa bosan karena menunya yang monoton. Pernah ketemu menu nasi teri saja, ibu mertua saya seneng banget. Sayang cuma sekali itu saja menu teri hadir. Biasanya nasi kebuli dengan daging atau ayam. Padahal ibu bukan penikmat daging.

Mengenai kegiatan dari travel ini sudah bagus. Kegiatan lumayan padat dengan agenda ziaroh ke tempat-tempat bersejarah, seperti Gunung Uhud, Jabal Nur, Jabal Rahmah, Jabal Magnet, dll dan juga disempatkan untuk belanja ke Jakfariyah, sebuah pasar layaknya tenabang Jakarta (saya sendiri malah belum pernah ke Tanah Abang).

Sewaktu di Madinah juga mendapat pembimbing putri yang bisa memimpin jamaah umroh putri sampai ke Rhaudah, tentu saja dengan menembus lautan manusia yang saling berdesakan, Masya Allah.. Sesuatu yang akan selalu terkenang, kala “berjuang” untuk bisa sholat dan berdo’a (meskipun sebentar) di Rhaudah.

Ketika di Makkah pun dibimbing untuk melakukan seluruh rukun umroh dengan baik. Masing-masing jamaah diberikan sebuah headset agar suara pembimbing dapat terdengar jelas tanpa harus berteriak.

Ada juga pembimbing yang sudah berada di sana, fasih bahasa Arab, yang sangat cekatan membimbing perjalanan ziaroh.

Oh iya, sebelum berangkat pun, kami sudah dibimbing untuk manasik umroh dua kali, serta diberikan wejangan tentang kiat-kiat hidup sehat dan menjaga tubuh agar tetap fit ketika umroh nanti.

Masya Allah.. Wal hamdulillah…

Pengalaman yang sangat berharga dan semoga ibadah kami diterima oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Aamiin.

Lain waktu insya Allah saya akan menulis tentang apa saja yang perlu dipersiapkan dan dibawa ketika akan umroh.

Yang jelas, jangan bawa banyak baju, malah membuat koper sudah penuh duluan. 🙂

Advertisements
Family · Islam · Umroh

See You Again, Haramain

Nothing to say when I landed at Haramain, except الحمدلله الذي بنعمته تتم الصالحات.

Masya Allah, Masya Allah..

The never sleep city.

The peaceful city.

See you again Haramain, insya Allah.

IMG20180215070051.jpg

IMG20180212142718.jpg

IMG20180215064306.jpg

Family

Aisha Menulis Balon

Tak terasa, sudah hampir setahun Aisha sekolah di TK. Kadang, tanpa disadari, bertambah kemampuannya. Di TK Islam yang menargetkan lulus dengan hafal juz 30, alhamdulillah sangat membantu kami sebagai orang tua murid, untuk membuat anak kami lebih banyak berinteraksi dengan Al-Qur’an.

Seperti di TK pada umunya, sekolah Aisha pun juga sudah mulai mengenalkan anak didiknya huruf-huruf, bahkan mulai membaca.

Continue reading “Aisha Menulis Balon”