Family · Informasi

Membuat Akta Kelahiran Tahun 2020 di Sleman Yogyakarta

Jarak lima tahun dari kehamilan sebelumnya, teknis pembuatan akta kelahiran anak sudah berubah. Alhamdulillah sekarang makin mudah.

Jika dulu harus melalui step-step dari RT, RW, Kelurahan, Kecamatan, baru ke Disdukcapil, maka kali ini hanya lewat Kelurahan dan bisa langsung ke Disdukcapil.
Dengan CATATAN: pembuatan akte kelahiran tersebut harus tidak lebih dari 60 hari sejak bayi dilahirkan.

Khusus warga Sleman Yogyakarta, ada inovasi yang namanya IDOLA, yaitu Integrasi Dokumen Layanan Kependudukan.

Continue reading “Membuat Akta Kelahiran Tahun 2020 di Sleman Yogyakarta”

Bayi · Family · Melahirkan

Kisah Kelahiran Baby Hasna, 09-02-2020

Nggak Niat Lahiran di Bidan, Tapi Ternyata…
(Kisah Kelahiran Baby Hasna, 09-02-2020)
***
Tapi.. Ternyata takdir berkata lain. Baby Hasna satu-satunya anak kami yang lahir di bidan dengan segala ‘drama’nya. Irit sih, tapi penuh dengan perjuangan. 😅

Kehamilan Baby Hasna begitu mudah, alhamdulillah. Tanpa morning sickness yang berarti. Tanpa masalah apapun, kecuali HB rendah. Dan saya memang sudah langganan HB rendah waktu hamil. Vitamin zat besi sudah rutin dikonsumsi, berharap bisa normal ketika menjelang persalinan.

Periksa kehamilan selalu ke dokter di sebuah RS Ibu dan Anak. Tapi pernah sekali periksa ke klinik bersalin dekat rumah untuk sekedar cek HB dan cari opsi tempat melahirkan lain yang lebih dekat dari rumah. Juga pernah sekali cek ANC di puskesmas dekat rumah (karena permintaan dokter untuk cek semua, termasuk cek HIV). Baru tau juga jika sekarang ada cek komplit. Dan di puskesmas semuanya gratis.

Tiba di minggu menjelang kelahiran udah agak resah. Resah menunggu HPL, yaitu tanggal 10 Februari. Kata dokter, semua bagus. Plasenta di atas, kepala bayi sudah di bawah, air ketuban cukup (waktu lahir ternyata banyak banget), berat bayi normal cenderung besar, dengan range 3,2 kg – 3,4 kg. Akan jadi bayi terbesar kami, mengingat kakak-kakaknya dulu paling berat hanya 3,1 kg. (Dan kalau bayinya gede, itu salah suami karena sering membelikan saya es krim).

Continue reading “Kisah Kelahiran Baby Hasna, 09-02-2020”

Diary Syifa · Family · Islam · Pesantren · Sekolah

Rindu Anak di Pondok

Teruntuk para orang tua yang memilih memasukkan anaknya ke pesantren.

Berat, memang sangat berat.
Dan saya pun merasakannya sendiri kemarin.
Saat melepas si sulung di pondok. Berpamitan. Dia cium tangan saya, lalu melambaikan tangan.
Masih ada senyum. Dia terlihat kuat, atau berusaha kuat.

Sebelum momen itu, kami menyaksikan seorang santriwati menangis sambil memeluk ayahnya. Tampak pula ibunya, mengalihkan pandangan sambil menyeka bulir air matanya yg jatuh. Matanya merah.

Ah, memang situasi yang sangat tidak menyenangkan.

Continue reading “Rindu Anak di Pondok”

Diary Syifa · Family · Informasi · Pesantren · Sekolah

Pendaftaran dan Seleksi Masuk Pesantren Al Irsyad Putri Bagian 1

Pada postingan kali ini saya akan membagikan cerita ketika sulung saya mendaftar di sebuah pesantren di daerah Tengaran. Ya, Pesantren Islam Al Irsyad Putri tepatnya, yang berlokasi di Tengaran, Semarang.

Sebenarnya sudah jauh-jauh hari, kami memikirkan tentang kelanjutan anak kami setelah SD nanti. Bahwa kami sepakat akan mencari pesantren tahfidz untuk anak kami.

Kami pun browsing dan menemukan beberapa nama pesantren yang sekiranya cocok dan sesuai dengan yang kami inginkan.

Mengapa Mondok di Pesantren?

Pertanyaan yang seringkali terlontar ketika anak selesai belajar di jenjang Sekolah Dasar adalah akan ke mana meneruskan sekolah nanti?

Kami sendiri memutuskan untuk memondokkan anak kami setelah melalui pertimbangan yang cukup banyak, diantaranya:

Continue reading “Pendaftaran dan Seleksi Masuk Pesantren Al Irsyad Putri Bagian 1”

Family · Parenting · Proses Belajar Anak

Menunda Sekolah

Suatu kali sang ayah bertanya, kenapa Ais belum masuk SD. Ngga kasihan kah?
Sebelum itu, ayahnya bertanya tentang teman-teman Aisha, siapa yang sudah SD dan siapa yang TK lagi.

Memang sebagian besar sudah SD karena umurnya sudah tujuh tahun atau mendekati tujuh. Sementara di kelas, yang masih mengulang TK hanya dua orang termasuk Aisha, yang usianya masih enam tahun.

Saya cenderung menunda setahun lagi, semata agar Ais benar-benar siap.
Belum hilang dari ingatan, ketika tangisnya keras sekali, dulu saat masuk TK pertama kali. Ketika itu usianya baru empat tahun. (hal ini juga yang membuat saya menunda Maryam adiknya, masuk TK).

Hari-hari jadi seperti sebuah pertempuran, bagi saya. Tentang kuat-kuatan. Kalau saya nggak kuat melepasnya, pasti saya kalah.

Continue reading “Menunda Sekolah”

Family · Umroh

Umroh dengan Travel Nur Ramadhan

Menginjakkan kaki di tanah haram, selain takjub dengan ka’bah dan sekelilingnya yang megah, saya pun “gumun” (bahasa Jawa artinya heran karena baru pertama kali melihat) dengan gedung-gedung yang tinggi menjulang. Sebelumnya, di Madinah pun demikian.

Masya Allah..

Baru pertama kali itu saya merasakan berada di antara gedung-gedung sangat tinggi, yang sebelumnya hanya saya saksikan di TV. (Saya memang belum pernah melihat gedung-gedung tinggi di Jakarta dan kota metropolitan lainnya. Selama ini di Jogja saja hehe).

Foto gedung Al-Shofwa di Mekah. Di dalamnya ada beberapa hotel dan toko. Termasuk hotel tempat saya menginap, Dar el Haram.

Kembali ke topik.

Sewaktu umroh, saya menginap di hotel Al-Rhaudhah di Madinah dan di Mekah menginap di hotel Dar El Iman. Dua-duanya hotel Bintang 5.

Alhamdulillah, bersyukur bisa mendapatkan travel umroh yang bagus (Nur Ramadhan).

Makanan terjamin, meski mungkin bagi para orang tua bisa merasa bosan karena menunya yang monoton. Pernah ketemu menu nasi teri saja, ibu mertua saya seneng banget. Sayang cuma sekali itu saja menu teri hadir. Biasanya nasi kebuli dengan daging atau ayam. Padahal ibu bukan penikmat daging.

Mengenai kegiatan dari travel ini sudah bagus. Kegiatan lumayan padat dengan agenda ziaroh ke tempat-tempat bersejarah, seperti Gunung Uhud, Jabal Nur, Jabal Rahmah, Jabal Magnet, dll dan juga disempatkan untuk belanja ke Jakfariyah, sebuah pasar layaknya tenabang Jakarta (saya sendiri malah belum pernah ke Tanah Abang).

Sewaktu di Madinah juga mendapat pembimbing putri yang bisa memimpin jamaah umroh putri sampai ke Rhaudah, tentu saja dengan menembus lautan manusia yang saling berdesakan, Masya Allah.. Sesuatu yang akan selalu terkenang, kala “berjuang” untuk bisa sholat dan berdo’a (meskipun sebentar) di Rhaudah.

Ketika di Makkah pun dibimbing untuk melakukan seluruh rukun umroh dengan baik. Masing-masing jamaah diberikan sebuah headset agar suara pembimbing dapat terdengar jelas tanpa harus berteriak.

Ada juga pembimbing yang sudah berada di sana, fasih bahasa Arab, yang sangat cekatan membimbing perjalanan ziaroh.

Oh iya, sebelum berangkat pun, kami sudah dibimbing untuk manasik umroh dua kali, serta diberikan wejangan tentang kiat-kiat hidup sehat dan menjaga tubuh agar tetap fit ketika umroh nanti.

Masya Allah.. Wal hamdulillah…

Pengalaman yang sangat berharga dan semoga ibadah kami diterima oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Aamiin.

Lain waktu insya Allah saya akan menulis tentang apa saja yang perlu dipersiapkan dan dibawa ketika akan umroh.

Yang jelas, jangan bawa banyak baju, malah membuat koper sudah penuh duluan. 🙂

Family

Aisha Menulis Balon

Tak terasa, sudah hampir setahun Aisha sekolah di TK. Kadang, tanpa disadari, bertambah kemampuannya. Di TK Islam yang menargetkan lulus dengan hafal juz 30, alhamdulillah sangat membantu kami sebagai orang tua murid, untuk membuat anak kami lebih banyak berinteraksi dengan Al-Qur’an.

Seperti di TK pada umunya, sekolah Aisha pun juga sudah mulai mengenalkan anak didiknya huruf-huruf, bahkan mulai membaca.

Continue reading “Aisha Menulis Balon”