"ASI adalah makanan terbaik bagi bayi sampai usia enam bulan. Selanjutnya penuhi kebutuhan ASI buah hati hingga dua tahun usianya."

Vaccines Don’t Save Lives, Allah Does

November 7, 2017 Leave a comment

Satu yang perlu diwaspadai dengan hadirnya vaksin adalah masalah tauhid. Jargon “Vaccines Save Lives” Sudah sering terdengar. HATI-HATI karena itu sudah masuk ranah akidah. Yang menyelamatkan kita itu Allah, bukan vaksin. Jangan sampai menyandarkan keselamatan kepada benda. Bisa jatuh dalam syirik.

Btw saya hanya ingin share dua foto ini saja. Dua foto yang bagi saya cukup membuktikan bahwa kekebalan bisa didapat walau tanpa vaksin. Jadi, yang bilang “Vaksin satu-satunya cara untuk mencegah penyakit” itu sudah terbantahkan.

image

Foto di atas ini adalah hasil tes darah saat saya hamil di Australia. Usia saya waktu itu 24 tahun.

Di situ, di bawah sticker bulat, ada keterangan, Hep B negatif, lalu di bawahnya Rubella immune > 100.
Sebelahnya yg terpotong itu, Hep C Neg, dan HIV neg. Di bawahnya lagi, tidak terfoto, ada tulisan Varicella detected (+).

Nah, dari sekian itu, kita lihat Rubella dan Varicella.
Varicella atau cacar air, sudah pernah menimpa saya ketika saya SD. Dan alhamdulillah, antibodi masih ada. Setahun lalu saat keempat anak saya semua kena cacar air, saya sudah tidak tertular lagi, bi idznillah. (anak saya empat, tidak ada yang vaksin cacar air, semuanya melalui penyakit tsb dgn biasa saja, alhamdulillah, bi idznillah).

Rubella, saya sendiri tidak ingat kapan saya kena Rubella. Tapi waktu dites itu ternyata sy sudah kebal Rubella, bi idznillah. Vaksin Rubella juga baru-baru ini ditemukan, jadi jaman dulu sudah pasti saya tidak divaksin Rubella.

image

Gambar ke dua ini adalah hasil tes darah anak saya, Sarah. Waktu tes itu kurang lebih 2,5 tahun. Terlihat di sana IgG CMV positif 54. Sementara IgM CMV negatif.

Ini menandakan bahwa antibodi CMV sudah terbentuk, ditandai dgn IgG positif. Dan saat tes dilakukan, dia tidak sedang terpapar virus tsb (IgM negatif).

Saya sendiri berpendapat, bisa jadi Sarah dulu pernah terpapar virus CMV ketika masih rutin terapi. Sebagai anak yang terlahir dengan Down Syndrome, Sarah harus rutin fisioterapi di awal-awal kehidupannya, untuk menguatkan otot-ototnya. Nah, di tempat terapi itu, bareng sama anak-anak dgn penyakit lain. Ada yg memang kena virus2 itu. Dan otomatis di sana kita hanya bisa ihtiar dengan menjaga kebersihan kita sendiri.

Kita tidak mungkin menolak bersalaman dengan ibunya yang sudah terpapar virus sejak hamil..
Kita tak mungkin menolak anaknya ketika merangkak menghampiri kita.. Lengkap dengan sisa liur atau ingusnya kalau kebetulan lagi pilek, dll.

Kembali lagi. Jika kemudian Sarah lalu pernah kena virus tersebut namun tidak sakit, kita bilang alhamdulillah tubuhnya mampu memerangi virus atas seizin Allah. Walau tanpa vaksin.
Ingat, vaksin CMV ini belum ditemukan. Sekarang masih tahap penelitian dan pengembangan.

Jadi intinya apa?
Jangan lagi menyalahkan mereka yang tidak vaksin, karena sistem imun mereka sudah mampu melawan penyakit, atas izin Allah.

Jangan lagi menyalahkan mereka yang tidak vaksin sebagai penyebar penyakit.
Jika mungkin, cobalah cek mereka yang vaksin itu, apakah antibodinya terbentuk?
Apakah antibodinya masih ada sampai puluhan tahun kemudian?
Banyak kasus, sudah divaksin bolak-balik, udah booster berkali-kali, tetep aja antibodi negatif.

Kalau sudah begitu, maka teori herd immunity jadi ngga berlaku lagi. Cakupan imunisasi 100% juga ngga ada gunanya, kalau setelah dites nyatanya ngga semua terbentuk antibodinya.

Semoga kita dikaruniai sifat tawadhu’, rendah hati. Mengedepankan husnudzon pada saudara sesama muslim. Agar tidak bermudah-mudahan menuduh orang lain begini begitu, tanpa bukti yang nyata.

Hanya Allah tempat bergantung. Dan hanya Allah tempat meminta pertolongan.
Semoga bermanfaat. Jika ada kesalahan, silakan dikoreksi ya. Terimakasih.

Advertisements

Beberapa Macam Prenatal Testing

November 4, 2017 Leave a comment

Ikut suami kopdar sama temen-temennya, saya mojok ngobrol sama istri temen suami. Beliau dokter anak dan kebetulan ke Jogja karena mau menghadiri seminar genetika. Jadi kopdar itu dalam rangka “nemoni” mereka yang kebetulan ke Jogja.

Kami ngobrol soal pre-natal test. Kebetulan, beliau ini juga tengah mengembangkan usaha di bidang NIPT (Noninfasive Prenatal Testing), sebuah tes darah yang dilakukan untuk mengetahui adanya kelainan gen. Misalnya, seperti Down Syndrome. Ke depan, nantinya tes ini bahkan bisa mendeteksi apakah si bayi ini akan berpeluang punya penyakit tertentu. Ketika itu beliau mencontohkan kasus bayi yang berpeluang untuk mengalami intususepsi, bahkan bisa ketahuan. Caranya dgn mengambil cell-free DNA dan kemudian dicocokkan hasilnya dengan kode-kode tertentu di database. Biaya tes ini sekitar tujuh juta rupiah, karena sampel harus dikirim ke Jerman dan hasilnya akan didapat sekitar 10 hari.

NIPT, menurut beliau, akurasinya lebih tinggi daripada NT (Nuchal Translucency), yaitu sebuah tes USG yang dapat mengukur ketebalan cairan di belakang leher, untuk mengetahui resiko bayi lahir dengan Down Syndrome. Saya pun melakukan tes ini pada dua kehamilan setelah Sarah.

Sebetulnya, baik tes darah maupun USG NT, sama-sama hanya screening test dan bukan diagnostic test. Artinya, hasil yang didapat hanya dapat menyatakan peningkatan resiko saja dan bukan kepastian bahwa bayi tersebut benar-benar mengalami kelainan.

image

Buku pemberian RS sewaktu hamil Sarah di Australia

Hasil screening test bisa false negatif atau false positif.
Misal dalam kasus Down Syndrome, false negatif apabila hasilnya si anak dideteksi tidak DS, namun ternyata lahir DS.
sedangkan false positif, dikatakan bahwa hasil tes si anak ini DS (mungkin karena ketebalan cairan belakang leher tadi melebihi normal), padahal ternyata si anak baik-baik saja.

Jadi pengaruhnya tentu saja tidak bagus ya, buat si ibu.
Seperti kemarin ketika ada yang WA saya. Seorang ibu tengah mengandung bayi, setelah sebelumnya melahirkan anak dengan Down Syndrome. Beliau sudah melakukan USG NT kepada dua dokter dan hasilnya berbeda, namun hasil NT angkanya tipis, mendekati angka rata-rata bayi normal. Sehingga (karena selisih sedikit itu) dia jadi khawatir, kalau-kalau si anak lahir seperti kakaknya yang DS. Meski sebetulnya kedua dokter bilang bahwa janin normal.

Di luar negeri, kadang membolehkan untuk menggugurkan kandungan bila janin diketahui beresiko cacat. Biasanya, setelah screening test lalu didapat hasil positif, maka bisa dilakukan diagnostic test, seperti CVS atau Amniocentesis. Keduanya mempunyai resiko akan keguguran, karena mengambil suatu jaringan placenta (pada CVS) atau cairan ketuban (pada Amniocentesis), meski resikonya kecil.

Hasil positif setelah diagnostic test pun agaknya tidak mempunyai keuntungan signifikan bagi perkembangan bayi, karena dokter juga tidak bisa mengubah kondisi kecacatan tersebut. Salah satu keuntungannya hanya orang tua jadi punya waktu untuk mempersiapkan segala sesuatunya sebelum anaknya lahir nanti. Karena bayi dengan kelainan kromosom biasanya akan mengalami beberapa keterlambatan maupun penyakit bawaan.

Aisha Menulis Balon

May 20, 2017 2 comments

Tak terasa, sudah hampir setahun Aisha sekolah di TK. Kadang, tanpa disadari, bertambah kemampuannya. Di TK Islam yang menargetkan lulus dengan hafal juz 30, alhamdulillah sangat membantu kami sebagai orang tua murid, untuk membuat anak kami lebih banyak berinteraksi dengan Al-Qur’an. 

Seperti di TK pada umunya, sekolah Aisha pun juga sudah mulai mengenalkan anak didiknya huruf-huruf, bahkan mulai membaca. Buku yang digunakan untuk membaca adalah buku yang tidak melalui proses mengeja. Jadi sepertinya memang membuat anak lebih cepat membaca. Walaupun tetap ada faktor internal yang berpengaruh, seperti keunikan anak masing-masing. 

Nah, saat ini Aisha sangat suka membaca dan menulis. Saat di jalan pun, berusaha membaca semua tulisan  yang dilihatnya. Dan kemarin, saya surprise karena Aisha menitipkan catatan kecil untuk saya. Aisha minta diberikan balon 😀

Seperti ini tulisan Aisha, yang genap berusia lima tahun April lalu. 


Semoga anak-anak kami selalu semangat untuk belajar semua hal yang bermanfaat.

Persiapan Ramadhan Si Kecil

Menyambut Ramadhan, bagi seorang ibu, tidak hanya melulu menyiapkan menu sahur dan berbuka, namun juga mempersiapkan juga puasa bagi buah hati. Bagi anak usia TK tentu sudah mulai dikenalkan tentang puasa. Bahkan mulai latihan puasa walau cuma setengah hari saja. 

Alhamdulillah, ada sebuah website milik seorang rekan yang juga seorang ibu yang menyediakan berbagai ebook menarik untuk buah hati. Khusus menyambut Ramadhan pun, ada Ramadhan Chart yang dapat diunduh lengkap dengan stiker bintang yang menarik. Saya pun tertarik untuk mencetaknya untuk anak-anak kami. 

Begini penampakan Ramadhan Chart yang colorful dan sangat menarik. 


Silakan download di link berikut ini, GRATIS.

https://muslimkecil.com/ramadhan-chart-dan-stiker-bintang/

Terimakasih Muslim Kecil ^^

Edit Foto dengan Aplikasi Snapseed 

March 25, 2017 Leave a comment

Sebenarnya sudah lama saya ingin mencoba aplikasi yang konon banyak peminatnya ini. Ya, Snapseed. Sebuah aplikasi foto editor yang bisa diunduh di Play Store secara gratis bagi pengguna Android. 

Aplikasi yang mudah, ringan, dan fiturnya lumayan lengkap. 

Selain Snapseed, saya biasa menggunakan aplikasi Pixlr. Fiturnya banyak dan ada opsi untuk efek foto juga. Namun Pixlr ini lebih berat daripada Snapseed. 

Mengombinasikan keduanya, membuat editing foto lebih menyenangkan. 🙂 

Berikut ini contoh-contoh gambar hasil editan saya dengan Snapseed. 


Selain memainkan brightness, contrast, dan efek lainnya,  pemakaian text dengan macam-macam style membuat Snapseed memiliki daya tarik tersendiri.


Snapseed adalah aplikasi photo editor yang mudah dipakai untuk pemula sekalipun. Bagi olshopper, penambahan caption pada sebuah foto produk mampu membuat foto produk lebih cantik.

​Tertarik untuk mencoba? 🙂 

Cara Membuat Paspor Indonesia 

March 12, 2017 Leave a comment

Ingin ke luar negeri? Pasti butuh paspor bisa dibuat dengan cara datang langsung ke kantor imigrasi ataupun bisa juga dengan cara online. Untuk pembahasan kali ini khusus dengan datang langsung (walk in). Begini cara membuatnya. Penulis mmembuat di Yogyakarta. 

Sesi Pertama (Isi formulir) 

1. Datang ke kantor Imigrasi. Di Yogyakarta, letaknya di jalan Solo, sebelumnya Bandara Adisucipto. 

2. Ambil formulir (satu lembar) beserta map berwarna kuning. Semuanya GRATIS. 

3. Khusus untuk yang belum punya paspor, ada lembar pernyataan yang wajib diisi, serta melampirkan MATERAI 6000. Pada lembar ini, ditanya tentang NEGARA TUJUAN dan MAKSUD BEPERGIAN.

4. Mengambil nomor antrian. TIPS. Antrinya bakal panjaaaaang… Pengalaman penulis, jam 9.30 ambil nomor antrian, dapat nomor 166. Dan baru dipanggil jam 3 sore. Jadi, kalau dapat antrian di atas 90, datang setelah jam istirahat saja.

5. Melampirkan dokumen ASLI dan FOTO COPY satu lembar, meliputi: KTP, KK (Kartu Keluarga), Akta Kelahiran, Surat Nikah (bagi yang sudah menikah), dan Paspor Lama (bagi yang akan mengganti paspor karena habis berlaku, perpanjangan masa berlaku, rusak, atau hilang). 

6. Melengkapi lembar formulir tadi, meliputi: Jenis paspor yang dibuat (24 lembar atau 48. Lihat catatan di bawah untuk perbedaannya), Nama, Alamat lengkap, no telp, tinggi badan, tempat tanggal lahir, no KTP, masa berlaku KTP, nama ayah dan ibu, tanggal lahir ayah dan ibu, nama suami/istri berikut tanggal lahir. Jadi, jangan lupa BAWA PULPEN dan TIPEX ya.

7. Nunggu antrian. Bagi yang membawa bayi, ada ruang laktasi bagi ibu menyusui. Buat yang lapar bisa makan dulu. Ada kantin di bawah, dekat tempat parkir. Ada juga musholla dan kamar mandi. 

Sesi Foto dan Wawancara
Setelah dipanggil, (biasanya 10 nomor sekali panggil, dengan waktu sekitar 1/2 jam, selang seling antara pendaftar walk in dan online, makanya harus sabaaaar) pemohon paspor langsung masuk ruang Foto dan Wawancara. 

Sekarang sudah gabung ruangannya. 

1. Sesi Wawancara. Pemohon akan ditanya, mau untuk apa paspornya, dan tujuannya ke mana. Santai aja, ngga usah grogi. Jawab aja seperlunya.

2. Nunggu lagi untuk dipanggil foto.

3. Sesi Foto, sekaligus cap sidik jari.

4. Selesai, dapat kertas BUKTI PEMBAYARAN. Nah kertas ini nanti dibawa ke bank untuk kemudian mentransfer biaya yang tertera di sana.

Pembayaran Paspor di Bank

Paspor ada dua jenis, yaitu 24 halaman dan 48 halaman. 

Menurut info yang kami dapat, untuk paspor 24 halaman, biasanya untuk TKI. Dan ada tambahan info lagi, bahwa paspor ini hanya berlaku SE-ASEAN. Artinya, ada negara2 yang mungkin akan menolak paspor 24 halaman. Sehingga, untuk amannya, apply saja paspor 48 halaman, meski harganya 2x lipat. Untuk paspor 48 halaman yang kami apply, biaya totalnya adalah 355.000 (tahun 2017). 

Sayang juga sebetulnya ya kalau jarang ke luar negeri. Tapi daripada ditolak di belakang.. 

Bayar paspor sesuatu nominal yg tertulis. Teller akan memberikan bukti pembayaran. Simpan bukti tersebut untuk ditukar dengan paspor saat pengambilan paspor. 

Proses Pengambilan Paspor 

Paspor dapat diambil TIGA HARI SETELAH PEMBAYARAN. 

Langkah2 pengambilan paspor:

1. Datang ke kantor imigrasi, bawa bukti pembayaran dan jangan lupa MATERAI 6000

2. Masukkan bukti pembayaran ke meja petugas. Tunggu panggilan. 

3. Saat dipanggil, tanda tangan paspor. Selesai. 

4. Jika paspor adalah perpanjangan, maka perlu untuk mengambil paspor lama yg sebelumnya ikut dikumpulkan di map, dengan menandatangani pernyataan (yg telah disediakan) dengan dilampiri materai 6000. Paspor lama nantinya akan digunting. Selesai. 

Semoga bermanfaat. 

(gambar paspor baru, diambil dari website kompas[dot]com)

Aisha, Rautan, dan Keberanian 

March 9, 2017 Leave a comment

Aisha, adalah anak kami yang ke tiga. Saat ini tengah bersekolah di sebuah TK bermanhaj salaf di Yogyakarta. 

Problem yang saya hadapi adalah bahwa meski sudah setengah tahun lebih bersekolah, masih saja sulit untuk ditinggal.

Kadang, mau salim lamgsung masuk kelas. Namun seringnya merengek, rewel, ngga masuk masuk. Narik jilbab umi, ngga mau ditinggal pulang, mbuntutin di belakang. Sampai-sampai menangi keras, karena saya memaksa pulang, dan ustadzah memeganginya. Itu berlangsung beberapa kali. 

Namun, drama itu hanya terjadi saat masuk kelas saja. Waktu dijemput pulang, wajahnya sumringah seperti tidak pernah ada peristiwa apapun sebelumnya. 

Saya sampai heran, bahkan pernah sampai sedih akan keadaan ini. Namun juga geli, karena saya jadi ingat masa kecil saya dulu, yang sama dengan anakku Aisha, ngga mau ditinggal sekolah, harus ditungguin. Dan dulu, nenek saya yang nungguin saya di sekolah, bahkan ikut duduk di kelas, disediakan “dingklik” (kursi pendek) pula sama bu guru TK 😀 

Kembali ke Aisha, akhirnya drama itu pun berakhir. Hanya karena sebuah rautan. Tentu saja ada campur tangan Allah di sini. 🙂 

Ya, dengan iming2 sebuah rautan, lalu dia pun mau salim dan langsung masuk kelas sendiri, seterusnya sampai hari ini.  Masya Allah.. walhamdulillah. 

Seperti sebuah keajaiban.
Saya bilang, “Ais, mau ngga dibeliin rautan, tapi janji besok kalau sekolah, salim  lamgsung masuk kelas?” Dia pun menjawab, “Ya, janji.” Dan disambung dengan Horee.. 

Esoknya, saya antar dia ke sekolah. Dan benar saja, dia salim, jarak beberapa meter dari gerbang, langsung salim, dadah sama saya, lalu berjalan menuju kelasnya. Tanpa drama, tanpa rewel, tanpa narik jilbab saya, dan tanpa membuntuti saya di belakang. 

Ya Allah, senang tak terkira. Memandangi langkahnya yang menjauh, dengan rasa senang dan terharu. Hanya dengan rautan. Kenapa ngga dari dulu dibelikan rautan seperti ini.. 🙂

Saya jadi ingat, bahwa terkadang ada ujian terlebih dahulu, untuk mmendapatkan sebuah kegembiraan. Inilah salah satu ujian seorang ibu, yang menyekolahkan anaknya. Ada drama sebagai bumbunya yang kelak ketika diingat kembali akan membuat tersenyum sendiri. 🙂

Categories: Family