"ASI adalah makanan terbaik bagi bayi sampai usia enam bulan. Selanjutnya penuhi kebutuhan ASI buah hati hingga dua tahun usianya."

Aisha Menulis Balon

May 20, 2017 2 comments

Tak terasa, sudah hampir setahun Aisha sekolah di TK. Kadang, tanpa disadari, bertambah kemampuannya. Di TK Islam yang menargetkan lulus dengan hafal juz 30, alhamdulillah sangat membantu kami sebagai orang tua murid, untuk membuat anak kami lebih banyak berinteraksi dengan Al-Qur’an. 

Seperti di TK pada umunya, sekolah Aisha pun juga sudah mulai mengenalkan anak didiknya huruf-huruf, bahkan mulai membaca. Buku yang digunakan untuk membaca adalah buku yang tidak melalui proses mengeja. Jadi sepertinya memang membuat anak lebih cepat membaca. Walaupun tetap ada faktor internal yang berpengaruh, seperti keunikan anak masing-masing. 

Nah, saat ini Aisha sangat suka membaca dan menulis. Saat di jalan pun, berusaha membaca semua tulisan  yang dilihatnya. Dan kemarin, saya surprise karena Aisha menitipkan catatan kecil untuk saya. Aisha minta diberikan balon 😀

Seperti ini tulisan Aisha, yang genap berusia lima tahun April lalu. 


Semoga anak-anak kami selalu semangat untuk belajar semua hal yang bermanfaat.

Persiapan Ramadhan Si Kecil

Menyambut Ramadhan, bagi seorang ibu, tidak hanya melulu menyiapkan menu sahur dan berbuka, namun juga mempersiapkan juga puasa bagi buah hati. Bagi anak usia TK tentu sudah mulai dikenalkan tentang puasa. Bahkan mulai latihan puasa walau cuma setengah hari saja. 

Alhamdulillah, ada sebuah website milik seorang rekan yang juga seorang ibu yang menyediakan berbagai ebook menarik untuk buah hati. Khusus menyambut Ramadhan pun, ada Ramadhan Chart yang dapat diunduh lengkap dengan stiker bintang yang menarik. Saya pun tertarik untuk mencetaknya untuk anak-anak kami. 

Begini penampakan Ramadhan Chart yang colorful dan sangat menarik. 


Silakan download di link berikut ini, GRATIS.

https://muslimkecil.com/ramadhan-chart-dan-stiker-bintang/

Terimakasih Muslim Kecil ^^

Edit Foto dengan Aplikasi Snapseed 

March 25, 2017 Leave a comment

Sebenarnya sudah lama saya ingin mencoba aplikasi yang konon banyak peminatnya ini. Ya, Snapseed. Sebuah aplikasi foto editor yang bisa diunduh di Play Store secara gratis bagi pengguna Android. 

Aplikasi yang mudah, ringan, dan fiturnya lumayan lengkap. 

Selain Snapseed, saya biasa menggunakan aplikasi Pixlr. Fiturnya banyak dan ada opsi untuk efek foto juga. Namun Pixlr ini lebih berat daripada Snapseed. 

Mengombinasikan keduanya, membuat editing foto lebih menyenangkan. 🙂 

Berikut ini contoh-contoh gambar hasil editan saya dengan Snapseed. 


Selain memainkan brightness, contrast, dan efek lainnya,  pemakaian text dengan macam-macam style membuat Snapseed memiliki daya tarik tersendiri.


Snapseed adalah aplikasi photo editor yang mudah dipakai untuk pemula sekalipun. Bagi olshopper, penambahan caption pada sebuah foto produk mampu membuat foto produk lebih cantik.

​Tertarik untuk mencoba? 🙂 

Cara Membuat Paspor Indonesia 

March 12, 2017 Leave a comment

Ingin ke luar negeri? Pasti butuh paspor bisa dibuat dengan cara datang langsung ke kantor imigrasi ataupun bisa juga dengan cara online. Untuk pembahasan kali ini khusus dengan datang langsung (walk in). Begini cara membuatnya. Penulis mmembuat di Yogyakarta. 

Sesi Pertama (Isi formulir) 

1. Datang ke kantor Imigrasi. Di Yogyakarta, letaknya di jalan Solo, sebelumnya Bandara Adisucipto. 

2. Ambil formulir (satu lembar) beserta map berwarna kuning. Semuanya GRATIS. 

3. Khusus untuk yang belum punya paspor, ada lembar pernyataan yang wajib diisi, serta melampirkan MATERAI 6000. Pada lembar ini, ditanya tentang NEGARA TUJUAN dan MAKSUD BEPERGIAN.

4. Mengambil nomor antrian. TIPS. Antrinya bakal panjaaaaang… Pengalaman penulis, jam 9.30 ambil nomor antrian, dapat nomor 166. Dan baru dipanggil jam 3 sore. Jadi, kalau dapat antrian di atas 90, datang setelah jam istirahat saja.

5. Melampirkan dokumen ASLI dan FOTO COPY satu lembar, meliputi: KTP, KK (Kartu Keluarga), Akta Kelahiran, Surat Nikah (bagi yang sudah menikah), dan Paspor Lama (bagi yang akan mengganti paspor karena habis berlaku, perpanjangan masa berlaku, rusak, atau hilang). 

6. Melengkapi lembar formulir tadi, meliputi: Jenis paspor yang dibuat (24 lembar atau 48. Lihat catatan di bawah untuk perbedaannya), Nama, Alamat lengkap, no telp, tinggi badan, tempat tanggal lahir, no KTP, masa berlaku KTP, nama ayah dan ibu, tanggal lahir ayah dan ibu, nama suami/istri berikut tanggal lahir. Jadi, jangan lupa BAWA PULPEN dan TIPEX ya.

7. Nunggu antrian. Bagi yang membawa bayi, ada ruang laktasi bagi ibu menyusui. Buat yang lapar bisa makan dulu. Ada kantin di bawah, dekat tempat parkir. Ada juga musholla dan kamar mandi. 

Sesi Foto dan Wawancara
Setelah dipanggil, (biasanya 10 nomor sekali panggil, dengan waktu sekitar 1/2 jam, selang seling antara pendaftar walk in dan online, makanya harus sabaaaar) pemohon paspor langsung masuk ruang Foto dan Wawancara. 

Sekarang sudah gabung ruangannya. 

1. Sesi Wawancara. Pemohon akan ditanya, mau untuk apa paspornya, dan tujuannya ke mana. Santai aja, ngga usah grogi. Jawab aja seperlunya.

2. Nunggu lagi untuk dipanggil foto.

3. Sesi Foto, sekaligus cap sidik jari.

4. Selesai, dapat kertas BUKTI PEMBAYARAN. Nah kertas ini nanti dibawa ke bank untuk kemudian mentransfer biaya yang tertera di sana.

Pembayaran Paspor di Bank

Paspor ada dua jenis, yaitu 24 halaman dan 48 halaman. 

Menurut info yang kami dapat, untuk paspor 24 halaman, biasanya untuk TKI. Dan ada tambahan info lagi, bahwa paspor ini hanya berlaku SE-ASEAN. Artinya, ada negara2 yang mungkin akan menolak paspor 24 halaman. Sehingga, untuk amannya, apply saja paspor 48 halaman, meski harganya 2x lipat. Untuk paspor 48 halaman yang kami apply, biaya totalnya adalah 355.000 (tahun 2017). 

Sayang juga sebetulnya ya kalau jarang ke luar negeri. Tapi daripada ditolak di belakang.. 

Bayar paspor sesuatu nominal yg tertulis. Teller akan memberikan bukti pembayaran. Simpan bukti tersebut untuk ditukar dengan paspor saat pengambilan paspor. 

Proses Pengambilan Paspor 

Paspor dapat diambil TIGA HARI SETELAH PEMBAYARAN. 

Langkah2 pengambilan paspor:

1. Datang ke kantor imigrasi, bawa bukti pembayaran dan jangan lupa MATERAI 6000

2. Masukkan bukti pembayaran ke meja petugas. Tunggu panggilan. 

3. Saat dipanggil, tanda tangan paspor. Selesai. 

4. Jika paspor adalah perpanjangan, maka perlu untuk mengambil paspor lama yg sebelumnya ikut dikumpulkan di map, dengan menandatangani pernyataan (yg telah disediakan) dengan dilampiri materai 6000. Paspor lama nantinya akan digunting. Selesai. 

Semoga bermanfaat. 

(gambar paspor baru, diambil dari website kompas[dot]com)

Aisha, Rautan, dan Keberanian 

March 9, 2017 Leave a comment

Aisha, adalah anak kami yang ke tiga. Saat ini tengah bersekolah di sebuah TK bermanhaj salaf di Yogyakarta. 

Problem yang saya hadapi adalah bahwa meski sudah setengah tahun lebih bersekolah, masih saja sulit untuk ditinggal.

Kadang, mau salim lamgsung masuk kelas. Namun seringnya merengek, rewel, ngga masuk masuk. Narik jilbab umi, ngga mau ditinggal pulang, mbuntutin di belakang. Sampai-sampai menangi keras, karena saya memaksa pulang, dan ustadzah memeganginya. Itu berlangsung beberapa kali. 

Namun, drama itu hanya terjadi saat masuk kelas saja. Waktu dijemput pulang, wajahnya sumringah seperti tidak pernah ada peristiwa apapun sebelumnya. 

Saya sampai heran, bahkan pernah sampai sedih akan keadaan ini. Namun juga geli, karena saya jadi ingat masa kecil saya dulu, yang sama dengan anakku Aisha, ngga mau ditinggal sekolah, harus ditungguin. Dan dulu, nenek saya yang nungguin saya di sekolah, bahkan ikut duduk di kelas, disediakan “dingklik” (kursi pendek) pula sama bu guru TK 😀 

Kembali ke Aisha, akhirnya drama itu pun berakhir. Hanya karena sebuah rautan. Tentu saja ada campur tangan Allah di sini. 🙂 

Ya, dengan iming2 sebuah rautan, lalu dia pun mau salim dan langsung masuk kelas sendiri, seterusnya sampai hari ini.  Masya Allah.. walhamdulillah. 

Seperti sebuah keajaiban.
Saya bilang, “Ais, mau ngga dibeliin rautan, tapi janji besok kalau sekolah, salim  lamgsung masuk kelas?” Dia pun menjawab, “Ya, janji.” Dan disambung dengan Horee.. 

Esoknya, saya antar dia ke sekolah. Dan benar saja, dia salim, jarak beberapa meter dari gerbang, langsung salim, dadah sama saya, lalu berjalan menuju kelasnya. Tanpa drama, tanpa rewel, tanpa narik jilbab saya, dan tanpa membuntuti saya di belakang. 

Ya Allah, senang tak terkira. Memandangi langkahnya yang menjauh, dengan rasa senang dan terharu. Hanya dengan rautan. Kenapa ngga dari dulu dibelikan rautan seperti ini.. 🙂

Saya jadi ingat, bahwa terkadang ada ujian terlebih dahulu, untuk mmendapatkan sebuah kegembiraan. Inilah salah satu ujian seorang ibu, yang menyekolahkan anaknya. Ada drama sebagai bumbunya yang kelak ketika diingat kembali akan membuat tersenyum sendiri. 🙂

Categories: Family

Anak Tetap Sayang Meskipun Ibu Tak Pandai Masak

C360_2016-06-01-16-08-13-618Baper, akronim yang akhir-akhir ini sering didefinisikan sebagai “Bawa Perasaan”, pernah juga melanda saya. Kala itu ketika saya membaca sebuah status yang intinya bahwa ada seorang ibu yang pandai memasak. Dan dia berharap kelak anaknya ini akan punya kenangan manis tentang masakan ibunya ketika dewasa. Saya yang sadar diri bahwa tidak pandai memasak pun langsung baper. Lalu membayangkan apa yang akan terjadi kelak ketika anak saya tidak mempunyai kenangan manis pernah dimasakkan makanan favorit oleh ibunya.

Itu dulu, sekarang kebaperan itu sudah tak ada lagi. Bukan karena saya mendadak suka masak, bahkan masuk dapur pun enggan rasanya. Saya mengandalkan ART untuk memasak menu yg saya inginkan. Dan salah satu keberuntungan besar adalah punya ART yang cukup pandai memasak hehe.

Kini, saya tak lagi baper meski saya tetap tidak punya hobi masak, sehingga berdampak pada kesulitan menuangkan tulisan resep ke bentuk nyata dalam wajan atau loyang.
Saya tak lagi baper meski banyak yg share foto2 menu masakan yg bikin ngiler, karena di balik foto itu saya yakin dapurnya juga butuh satu jam lebih untuk bersih kembali. 😀

Intinya bukan itu ya. Itu intermezzo saja, selingan sebagai pemanis cerita.
Intinya adalah kebaperan saya hilang dengan mengingat apa yang ada pada diri ibu saya.

Sebagai seorang wanita karir alias wanita yang bekerja di luar rumah, ibu saya hanya beberapa jam saja berada di samping saya. Ketika pagi sebelum berangkat sekolah, dan ketika ibu pulang sore hari hingga menjelang tidur. Ibu dan bapak sy bekerja sebagai pedagang di sebuah pasar tradisional. Karena tuntutan ekonomi, ibu pun ikut membantu bapak mencari tambahan rezeki. Jaman kecil dulu, uang 100 rupiah sudah cukup untuk beli nasi kucing. Uang lima puluh rupiah sudah mengenyangkan ketika ditukar dengan sebuah arem-arem. Tapi jaman segitu juga SPP SD per bulan sudah berada di angka 6000. Angka itu tidak mutlak. Masih bisa mengajukan keringanan bagi siswa yang tergolong tidak mampu. Itu di SD-ku, SD Muhammadiyah Wirobrajan yang kan ku kenang selalu. :p

Ibuku bukanlah tipe ibu yang gemar memotret hasil masakannya dan meng-upload di Facebook. Iya, jaman dulu belum ada Facebook. Boro-boro Facebook, Friendster aja belum launching.

Ibu sy memang tak pandai memasak.
Menu makanan yg tersaji setiap hari hanya berkutat di ayam, tempe-tahu, dan telor. Biasanya ayam semur, atau tempe goreng, atau oseng tempe atau telor ceplok, atau telor dadar yang dicampur irisan tempe, atau saat sudah mentok ide, maka ayam, tahu, tempe, dan telor itu pun akan berkolaborasi menjadi satu dalam satu wajan, menjadi semur atau opor. Cukup sekali masak bisa untuk beberapa hari, dengan cara mejik: diangetin. Kalau masih mentok lagi, maka yang menjadi pilihan terakhir dan saya yakin sampai sekarang pun makanan ini tetap menjadi favorit siapa pun di dunia: Indomie goreng. Maaf menyebut merk karena sudah ngga bisa pindah ke lain mie.

Begitulah ibu saya yang menurut saya memang tidak pandai memasak.
Mungkin anak di belahan bumi lain sudah mengenal pizza, burger, atau spaghetti. Tapi, buat saya, makanan-makanan “elit” itu baru saya cicipi ketika sudah punya belahan hati. #eaaa.

Ibu, meski tak pandai masak, saya tetap sayang pada beliau.
Ibu yang tiap pagi menyiapkan sarapan, apa pun menunya.
Menyiapkan bekal ke sekolah berupa sebotol air putih yang penuh terisi di botol aqua 600 ml yang sudah beberapa kali pakai, padahal di bawah kemasannya ada angka satu dalam bingkai segitiga yang artinya hanya boleh sekali pakai. Botol itu nyatanya tetap saya pakai berkali-kali, kecuali jika sudah parah tingkat ke-penyok-annya baru diganti.

Ibu selalu menyiapkan bekal berupa nasi dan lauk, ketika tau saya akan pulang agak sore hari itu, karena ada ekstra kurikuler.
Ibu yang menunggui saya mengerjakan pekerjaan rumah, meski kadang beliau tak paham apa yang tengah saya kerjakan.
Ibu yang rela membolak-balik baju seragam di atas kompor ketika hujan turun setiap hari, dan hanya itu seragam satu-satunya yang akan dipakai esok hari.
Ibu yang mencucikan baju-baju saya, sepatu saya, piring dan gelas bekas makan saya, mengganti sprei di tempat tidur saya, bahkan saat kecil, dengan terkantuk-kantuk menyanyikan lagu “Lir-Ilir” sehingga belum juga genap liriknya, beliau sudah tidur duluan.

Ah, masih banyak kebaikan beliau yang tak bisa disebutkan. Jauh lebih banyak dan tak akan tergantikan dengan sebanyak apa pun balasan saya sebagai seorang anak.

Hanya do’a tulus yang selalu saya panjatkan ketika mengingat ibu dan bapak. Rabbigh firli waliwalidayya warhamhuma kama rabbayani shaghira.
Ya Allah ampuni dosaku dan dosa kedua orang tuaku, dan kasihanilah keduanya sebagaimana mereka telah mengasihiku sejak kecil.

Ibu saya tak pernah marah. Tak pernah sekalipun. Entah, mungkin beliau ibu satu-satunya yang tak bisa marah di dunia ini. Jauh sekali dari anaknya ini. Saya pun heran. Mungkin peribahasa “buah jatuh tak jauh dari pohonnya” itu perlu dikaji ulang.

Oya, dari tadi saya cerita panjang, tapi belum cerita tentang gambar di postingan ini.
Ini adalah roti maryam (harapannya… ). Tapi nyatanya, saya sendiri ragu menyebutnya sebagai roti maryam.
Roti ini sebetulnya hasil campur-campur adonan anak saya dengan bantuan saya ketika membaca resep di buku. Saya juga membantu bagian menggoreng. Anak saya keukeuh kepingin bikin. Dan saya ngga tahan karena dia terus memelas. Dan ketika hasilnya gagal seperti ini pun, saya tetap dibuat surprise ketika anak saya bilang, “Umi tu pandai memasak, pandai bikin roti, dan pandai menjahit.”

Ah, terimakasih anakku…
Saya ngga peduli anak saya berkata benar atau hanya sekedar nge-gombalin uminya setelah uminya mau membantunya bikin roti. Yang jelas, saya senang dipuji begitu. Hihi.

Ya, intinya adalah, para ibu janganlah khawatir jika tidak pandai memasak. Karena tingkat kemahiran memasak bukanlah ukuran yang akan menentukan besar kecilnya rasa sayang anak kepada ibunya.

Kasih sayang orang tua dan do’a tulus memohon kepada Allah, yang akan membawa anak-anaknya kelak untuk selalu memuliakan kedua orang tuanya. Bentuk pemuliaan kepada orang tua ini yang akan terlihat dalam sikap-sikap sayang yang nyata seperti birul walidain atau berbuat baik dan mendo’akan kedua orang tuanya. Apalagi yang akan kita harapkan sebagai orang tua, selain do’a tulus dari anak-anak untuk kita?

#CeritaUminyaSyifa
#KetikaRinduKepadaIbuSedemikianMenggebu

Categories: Cerita, Uncategorized

Punya Banyak Anak, Salah Siapa?

April 1, 2014 5 comments

baby-feet1Melihat suatu keluarga yang ibunya mengenakan jilbab lebar dan ayahnya berpakaian celana cingkrang, tetangga langsung begitu “perhatian” ketika di dalamnya ternyata banyak kepala kecil yang perlu diberi makan. Ya, di Jawa, sering sekali ditemui istilah “ndrindil”, yaitu keluarga yang punya banyak anak dengan jarak yang termasuk pendek. Bahkan lebih miris lagi dijuluki KB alias “Kerep Bayen” (sering melahirkan).
Menanggapi hal itu, bukan tidak mungkin jika keluarga tersebut menjadi minder karena sering diberi “perhatian lebih” oleh tetangga. Melihat anaknya sakit, disalahkan, dikira kurang perhatian. Melihat baju anaknya kumal sedikit, dikritik, katanya tidak keurus, dan lain sebagainya. Bahkan mungkin bisa saja itu hanya terlihat sekali saja, namun menjadi pembicaraan hangat bahkan hot di tengah kampung. Sungguh miris.

Apa yang hendak saya utarakan pada posting kali ini adalah tentang sebuah takdir. Read more…