Salah Kaprah Penggunaan “Subhanallah” dan “Masya Allah”
Masyarakat Indonesia sering salah kaprah menggunakan dua kalimat ini, “Subhanallah” dan “Masya Allah”. Biasanya, mereka menggunakan “Subhanallah” ketika melihat sesuatu yang indah-indah atau menakjubkan. Sedangkan “Masya Allah” digunakan ketika mendapati hal buruk, misalnya karena terkejut mendengar berita buruk.
Tahukah teman, bahwa ternyata penggunaan keduanya kurang tepat?
Berikut ini insya Allah paparan yang benar tentang penggunaan “Subhanallah” dan “Masya Allah”.
Penggunaan “Subhanallah” yang benar
“Subahanallah” di dalam Al Qur’an digunakan untuk mensucikan Allah dari hal-hal yang tidak pantas. Seperti misalnya, “Subahanallahi ‘amma yashifuun” Maha Suci Allah dari apa yang mereka sifatkan, “Subhanallahi ‘amma yusyrikuun” Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan, dll.
Rumah Kontrakan
Pagi tadi saya berkunjung ke rumah seorang teman baru. Benar-benar baru karena tidak pernah bertemu sebelumnya. Selama ini hanya berinteraksi lewat dunia maya. Kebetulan, “profesi” kami sama, yaitu sebagai penjual online
Kemarin dia sudah memberikan denah. Saya tahu persis karena daerah yang disebutkannya adalah daerah yang dulu sekali pernah kami (saya dan suami) tinggali semasa masih berdua
Singkat cerita, saya pun telah bertemu dengan teman saya, ngobrol, dan melakukan transaksi (saya membeli sebuah barang jualannya). Selesai, saya pamit pulang. Nah, di perjalanan pulang inilah memori saya seakan terbuka kembali.
Saya menyusuri jalan yang sangat saya kenal. Jalan yang sudah banyak berubah; rumah-rumah yang berdiri di kanan kirinya, plang-plang baru (yang dulu belum ada), kondisi jalan yang sudah lebih baik, dan rumah itu. Ya, sebuah rumah yang kini sudah tidak ada lagi, berganti dengan rumah baru yang kelihatannya belum lama berdiri.
Motor saya melaju santai. Pandangan saya masih saja tertuju kepada bangunan baru bercat krem. Rumah cukup bagus yang belum selesai dibangun. Di bagian depan masih terlihat belum jadi. Saya melihatnya tidak terlalu lama. Namun saya amati sepanjang motor saya melaju, dari depan hingga bagian belakang rumah itu. Sama sekali tak tersisa “rumah” kami yang dulu.
Daerah jakal km 7, tepatnya di daerah Ngabean. Ya, sebuah rumah mungil yang kami sewa pertama kali sejak awal menikah, enam tahun yang lalu.
Rumah (yang sebenarnya lebih mirip bangunan warung karena bentuknya yang memanjang) sederhana, berlantaikan semen dan bukan keramik. Rumah bercat biru (atau putih dengan pintu berwarna biru? Ah ingatan saya buruk sekali) yang menyimpan banyak memori.
Rumah yang pernah bocor di bagian dapurnya
Rumah yang sewaktu hujan deras sempat “mengundang” pacet turun dari pohon besar di belakang dan masuk ke dalam.
Rumah yang jika malam sering tercium aroma nasi goreng dari warung sebelah yang menempel dengan bangunannya.
Rumah yang penuh dengan suara tawa anak kecil. Ketika itu di depan rumah kami ada rumah tetangga dengan dua anak kecil. Dua rumah di belakangnya adalah rumah saudara mereka, yang masing-masing mempunyai dua dan satu anak kecil. Ramai, saat mereka main ke tempat kami. Mereka mencari-cari suami saya yang sering memberikan “mainan gratis” untuk mereka. Sebuah laptop yang disetelkan VCD kartun
Sekarang rumah-rumah mereka sudah tidak ada
Rumah sederhana itu, banyak sekali kenangan di dalamnya.
Kenangan sewaktu saya melewati hari-hari mabok hamil anak pertama.
Kenangan saat jajan mie ayam favorit suami di warung tetangga. Saat saya lewat, warungnya juga sudah tidak ada lagi.
Kenangan saat beberapa teman kampus (juga teman SMA) berkunjung silaturahim.
Kenangan di awal-awal saat bapak (alm.) dan ibu mertua menginap setelah seharian membantu membersihkan rumah sebelum kami tempati. Kami tidur hanya beralaskan busa tipis yang digelar di atas lantai kasar.
Rumah kontrakan yang sangat sederhana, namun kami nikmati keberadaannya.
Tetangga yang baik, sering mengirim masakan. Padahal saya jarang sekali membalasnya (karena ngga bisa masak…).
Dan malam ketika kontraksi hebat saat akan melahirkan anak pertama kami, benar-benar tersimpan rapi dalam memori. Sekarang tak terasa, dia sudah sedemikian besar. Kedewasaannya melampaui usianya. (Umi bangga padamu, Nak!)
Rumah kontrakan kami, sekarang sudah tiada lagi. Namun, kenangan-kenangan itu senantiasa tersimpan di hati.
Seorang suami yang memberikan tempat berteduh untuk kami, yang sehari-harinya selalu menemani saya melakukan segala aktivitas. Kegemarannya “mencari angin” alias jalan-jalan, itu yang membuat saya tidak pernah merasa bosan. Jalan-jalan sore mencari camilan atau sekedar menikmati suasana sore sebelum berganti malam. Indah dan selalu terkenang.
Kini kami harus banyak bersyukur, karena telah memiliki rumah sendiri. Hunian yang jauh lebih nyaman daripada rumah kontrakan.
Bayi Belum Mampu Tengkurap
Mempunyai bayi baru lagi, berarti siap-siap excited dengan perkembangannya lagi. Kapan dia fokus melihat, kapan dia akan miring, memegang benda, dan sederet kemampuan motorik lainnya. Kenapa motorik? Karena kemampuan itu yang biasanya jadi bahan perbincangan dengan orang sekitar ketika membicarakan tentang perkembangan bayi. Dan sekarang yang sedang membuat saya “galau” (baca menunggu-nunggu) adalah kapan anak saya akan tengkurap.
Sebenarnya saya tidak terlalu khawatir. Mengingat badannya yang super subur (sekarang 8,5 kg di usia 5 bulan), kemungkinan dia susah untuk tengkurap. Namun kadang-kadang saya tergelitik juga untuk memastikan apakah perkembangan bayi saya memang tergolong wajar. Dan saya pun menemukan artikel ini ketika tadi mencoba searching.
Yap, ini lumayan menjadi pengusir kegalauan saya saat ini. Saya kopi paste di sini saja, supaya dapat diambil manfaatnya bagi para pembaca.
Resep Spaghetti Ayam Praktis
Resep spaghetti sederhana, tanpa saus tomat yang dijual di pasaran, tanpa penyedap rasa. Healthy deh pokoknya ^^ Anak kecil juga bisa ikut mencicipi
Bahan:
-1/4 kg chicken fillet, cincang, blender kasar
-Spaghetti (secukupnya), patahkan jadi dua bagian (atau bisa utuh, sesuai selera)
-1 buah bawang bombay besar
-1 buah bawang putih, cincang
-3 buah tomat besar
-1 sdm margarin
Bumbu:
-2 sdt garam (atau sesuai selera)
-1 sdt lada bubuk
-1 sdm oregano
Cara pembuatan:
1. Rebus tomat, buang kulitnya, blender hingga encer (sebagai saus). Sisihkan.
2. Tumis bawang bombay dan bawang putih, hingga harum.
3. Masukkan daging ayam yang telah digiling, masak hingga berubah warna.
4. Tuangkan tomat yang telah diblender, masak sebentar dengan api sedang.
5. Tambahkan garam, lada bubuk, aduk-aduk.
6. Taburi dengan oregano, masak sebentar, matikan api.
7. Rebus spaghetti kira-kira 3 menit, hingga aldente (jangan terlalu lama agar tidak (bahasa jawanya) ‘lodrok’.
8. Sajikan hangat-hangat.
Bayi Baru Lahir Dapat Bertahan Tanpa ASI
Gemes gemes gemes… kalau ada ibu yang buru-buru ngasih bayinya sufor, dengan alasan ASI-nya belum keluar. Padahal bayi bisa bertahan hidup sampai 48 jam pertama dalam hidupnya, bahkan sampai 72 jam (Sisca Baroto-Utomo, AIMI, di link ini).
Mengapa demikian? Hal ini karena bayi masih punya cadangan makanan di dalam tubuhnya yang didapat dari plasenta selama berada di rahim ibu. Ukuran lambung bayi pun masih sangat kecil, yaitu antara 5-7 ml saja, jadi dia hanya butuh kolostrum (ASI yang pertama kali keluar, berwarna kekuningan yang mengandung zat antibodi), bukan yang lain.
So, ngga usah khawatir kalau ASI belum keluar, bahkan hingga hari ke-tiga setelah melahirkan. Tetap usahakan menyusui dan keep skin-to-skin contact, karena hal tersebut dapat mempercepat keluarnya ASI. Setelah ASI keluar, susui bayi sesering mungkin, agar produksi ASI makin lancar.
ASI is The Best Choice
The Power of ASI eksklusif:
No matter what “size” you have, yakin saja, PASTI BISA menyusui ASI eksklusif.
Saya paling sebel jika ada obrolan tentang “ukuran kecil” pasti ASI sedikit.
It’s totally wrong!
Hanya niat dan tekad bulat, yang akan membuktikan, ibu bisa ngasih ASI banyak atau tidak kepada bayinya.
Terinspirasi dari obrolan dengan seorang ibu di posyandu tadi pagi.
Nenek si bayi, yang menemani si ibu berukuran “maxi” terlihat memegang dot di tangannya.
“Mba, dek T mimi susu nopo?” saya membuka pembicaraan.
Si ibu menjawab singkat, menyebutkan sebuah merk susu.
“Asinya ngga keluar mba…” lanjutnya kemudian.
Saya heran saja. Melihat badannya yang subur, seharusnya produksi ASI-nya bisa banyak.
“Sejak kapan minum sufor?”
“Seminggu…”
Waduh… dini sekali…
“Sekarang udah ngga bisa keluar po? Dipompa juga ngga bisa?”
Saya masih antusias, pengen banget denger jawaban yg melegakan, tapi lagi-lagi intinya beliau sudah nyerah ngasih ASI.
Cerita pun mengalir, katanya puting sakit sampai keluar darah.
“Memang biasanya kalau anak pertama begitu mba.” kata saya sambil mengingat betapa perihnya waktu awal-awal menyusui si sulung.
Dan ending percakapan kami, membuat makin miris, “Besok paling 3 bulan dah maem.”
Menarik nafas panjang, tapi ngga bisa berbuat banyak.
Waktu nimbang, ternyata berat bayinya yang hanya selisih 4 hari dari bayi saya, jauh tertinggal di belakang. Beratnya sama dengan Aisha saat satu bulan.
Makin mantap deh untuk terus ngasih yang terbaik untuk buah hatiku.
Yuuk ibu-ibu, ASI-nya dimaksimalkan… Demi perkembangan emas buah hati kita.
It’s the best choice, always!




Recent Comments