"ASI adalah makanan terbaik bagi bayi sampai usia enam bulan. Selanjutnya penuhi kebutuhan ASI buah hati hingga dua tahun usianya."

Aisha, Rautan, dan Keberanian 

March 9, 2017 Leave a comment

Aisha, adalah anak kami yang ke tiga. Saat ini tengah bersekolah di sebuah TK bermanhaj salaf di Yogyakarta. 

Problem yang saya hadapi adalah bahwa meski sudah setengah tahun lebih bersekolah, masih saja sulit untuk ditinggal.

Kadang, mau salim lamgsung masuk kelas. Namun seringnya merengek, rewel, ngga masuk masuk. Narik jilbab umi, ngga mau ditinggal pulang, mbuntutin di belakang. Sampai-sampai menangi keras, karena saya memaksa pulang, dan ustadzah memeganginya. Itu berlangsung beberapa kali. 

Namun, drama itu hanya terjadi saat masuk kelas saja. Waktu dijemput pulang, wajahnya sumringah seperti tidak pernah ada peristiwa apapun sebelumnya. 

Saya sampai heran, bahkan pernah sampai sedih akan keadaan ini. Namun juga geli, karena saya jadi ingat masa kecil saya dulu, yang sama dengan anakku Aisha, ngga mau ditinggal sekolah, harus ditungguin. Dan dulu, nenek saya yang nungguin saya di sekolah, bahkan ikut duduk di kelas, disediakan “dingklik” (kursi pendek) pula sama bu guru TK 😀 

Kembali ke Aisha, akhirnya drama itu pun berakhir. Hanya karena sebuah rautan. Tentu saja ada campur tangan Allah di sini. 🙂 

Ya, dengan iming2 sebuah rautan, lalu dia pun mau salim dan langsung masuk kelas sendiri, seterusnya sampai hari ini.  Masya Allah.. walhamdulillah. 

Seperti sebuah keajaiban.
Saya bilang, “Ais, mau ngga dibeliin rautan, tapi janji besok kalau sekolah, salim  lamgsung masuk kelas?” Dia pun menjawab, “Ya, janji.” Dan disambung dengan Horee.. 

Esoknya, saya antar dia ke sekolah. Dan benar saja, dia salim, jarak beberapa meter dari gerbang, langsung salim, dadah sama saya, lalu berjalan menuju kelasnya. Tanpa drama, tanpa rewel, tanpa narik jilbab saya, dan tanpa membuntuti saya di belakang. 

Ya Allah, senang tak terkira. Memandangi langkahnya yang menjauh, dengan rasa senang dan terharu. Hanya dengan rautan. Kenapa ngga dari dulu dibelikan rautan seperti ini.. 🙂

Saya jadi ingat, bahwa terkadang ada ujian terlebih dahulu, untuk mmendapatkan sebuah kegembiraan. Inilah salah satu ujian seorang ibu, yang menyekolahkan anaknya. Ada drama sebagai bumbunya yang kelak ketika diingat kembali akan membuat tersenyum sendiri. 🙂

Advertisements
Categories: Family

Anak Tetap Sayang Meskipun Ibu Tak Pandai Masak

C360_2016-06-01-16-08-13-618Baper, akronim yang akhir-akhir ini sering didefinisikan sebagai “Bawa Perasaan”, pernah juga melanda saya. Kala itu ketika saya membaca sebuah status yang intinya bahwa ada seorang ibu yang pandai memasak. Dan dia berharap kelak anaknya ini akan punya kenangan manis tentang masakan ibunya ketika dewasa. Saya yang sadar diri bahwa tidak pandai memasak pun langsung baper. Lalu membayangkan apa yang akan terjadi kelak ketika anak saya tidak mempunyai kenangan manis pernah dimasakkan makanan favorit oleh ibunya.

Itu dulu, sekarang kebaperan itu sudah tak ada lagi. Bukan karena saya mendadak suka masak, bahkan masuk dapur pun enggan rasanya. Saya mengandalkan ART untuk memasak menu yg saya inginkan. Dan salah satu keberuntungan besar adalah punya ART yang cukup pandai memasak hehe.

Kini, saya tak lagi baper meski saya tetap tidak punya hobi masak, sehingga berdampak pada kesulitan menuangkan tulisan resep ke bentuk nyata dalam wajan atau loyang.
Saya tak lagi baper meski banyak yg share foto2 menu masakan yg bikin ngiler, karena di balik foto itu saya yakin dapurnya juga butuh satu jam lebih untuk bersih kembali. 😀

Intinya bukan itu ya. Itu intermezzo saja, selingan sebagai pemanis cerita.
Intinya adalah kebaperan saya hilang dengan mengingat apa yang ada pada diri ibu saya.

Sebagai seorang wanita karir alias wanita yang bekerja di luar rumah, ibu saya hanya beberapa jam saja berada di samping saya. Ketika pagi sebelum berangkat sekolah, dan ketika ibu pulang sore hari hingga menjelang tidur. Ibu dan bapak sy bekerja sebagai pedagang di sebuah pasar tradisional. Karena tuntutan ekonomi, ibu pun ikut membantu bapak mencari tambahan rezeki. Jaman kecil dulu, uang 100 rupiah sudah cukup untuk beli nasi kucing. Uang lima puluh rupiah sudah mengenyangkan ketika ditukar dengan sebuah arem-arem. Tapi jaman segitu juga SPP SD per bulan sudah berada di angka 6000. Angka itu tidak mutlak. Masih bisa mengajukan keringanan bagi siswa yang tergolong tidak mampu. Itu di SD-ku, SD Muhammadiyah Wirobrajan yang kan ku kenang selalu. :p

Ibuku bukanlah tipe ibu yang gemar memotret hasil masakannya dan meng-upload di Facebook. Iya, jaman dulu belum ada Facebook. Boro-boro Facebook, Friendster aja belum launching.

Ibu sy memang tak pandai memasak.
Menu makanan yg tersaji setiap hari hanya berkutat di ayam, tempe-tahu, dan telor. Biasanya ayam semur, atau tempe goreng, atau oseng tempe atau telor ceplok, atau telor dadar yang dicampur irisan tempe, atau saat sudah mentok ide, maka ayam, tahu, tempe, dan telor itu pun akan berkolaborasi menjadi satu dalam satu wajan, menjadi semur atau opor. Cukup sekali masak bisa untuk beberapa hari, dengan cara mejik: diangetin. Kalau masih mentok lagi, maka yang menjadi pilihan terakhir dan saya yakin sampai sekarang pun makanan ini tetap menjadi favorit siapa pun di dunia: Indomie goreng. Maaf menyebut merk karena sudah ngga bisa pindah ke lain mie.

Begitulah ibu saya yang menurut saya memang tidak pandai memasak.
Mungkin anak di belahan bumi lain sudah mengenal pizza, burger, atau spaghetti. Tapi, buat saya, makanan-makanan “elit” itu baru saya cicipi ketika sudah punya belahan hati. #eaaa.

Ibu, meski tak pandai masak, saya tetap sayang pada beliau.
Ibu yang tiap pagi menyiapkan sarapan, apa pun menunya.
Menyiapkan bekal ke sekolah berupa sebotol air putih yang penuh terisi di botol aqua 600 ml yang sudah beberapa kali pakai, padahal di bawah kemasannya ada angka satu dalam bingkai segitiga yang artinya hanya boleh sekali pakai. Botol itu nyatanya tetap saya pakai berkali-kali, kecuali jika sudah parah tingkat ke-penyok-annya baru diganti.

Ibu selalu menyiapkan bekal berupa nasi dan lauk, ketika tau saya akan pulang agak sore hari itu, karena ada ekstra kurikuler.
Ibu yang menunggui saya mengerjakan pekerjaan rumah, meski kadang beliau tak paham apa yang tengah saya kerjakan.
Ibu yang rela membolak-balik baju seragam di atas kompor ketika hujan turun setiap hari, dan hanya itu seragam satu-satunya yang akan dipakai esok hari.
Ibu yang mencucikan baju-baju saya, sepatu saya, piring dan gelas bekas makan saya, mengganti sprei di tempat tidur saya, bahkan saat kecil, dengan terkantuk-kantuk menyanyikan lagu “Lir-Ilir” sehingga belum juga genap liriknya, beliau sudah tidur duluan.

Ah, masih banyak kebaikan beliau yang tak bisa disebutkan. Jauh lebih banyak dan tak akan tergantikan dengan sebanyak apa pun balasan saya sebagai seorang anak.

Hanya do’a tulus yang selalu saya panjatkan ketika mengingat ibu dan bapak. Rabbigh firli waliwalidayya warhamhuma kama rabbayani shaghira.
Ya Allah ampuni dosaku dan dosa kedua orang tuaku, dan kasihanilah keduanya sebagaimana mereka telah mengasihiku sejak kecil.

Ibu saya tak pernah marah. Tak pernah sekalipun. Entah, mungkin beliau ibu satu-satunya yang tak bisa marah di dunia ini. Jauh sekali dari anaknya ini. Saya pun heran. Mungkin peribahasa “buah jatuh tak jauh dari pohonnya” itu perlu dikaji ulang.

Oya, dari tadi saya cerita panjang, tapi belum cerita tentang gambar di postingan ini.
Ini adalah roti maryam (harapannya… ). Tapi nyatanya, saya sendiri ragu menyebutnya sebagai roti maryam.
Roti ini sebetulnya hasil campur-campur adonan anak saya dengan bantuan saya ketika membaca resep di buku. Saya juga membantu bagian menggoreng. Anak saya keukeuh kepingin bikin. Dan saya ngga tahan karena dia terus memelas. Dan ketika hasilnya gagal seperti ini pun, saya tetap dibuat surprise ketika anak saya bilang, “Umi tu pandai memasak, pandai bikin roti, dan pandai menjahit.”

Ah, terimakasih anakku…
Saya ngga peduli anak saya berkata benar atau hanya sekedar nge-gombalin uminya setelah uminya mau membantunya bikin roti. Yang jelas, saya senang dipuji begitu. Hihi.

Ya, intinya adalah, para ibu janganlah khawatir jika tidak pandai memasak. Karena tingkat kemahiran memasak bukanlah ukuran yang akan menentukan besar kecilnya rasa sayang anak kepada ibunya.

Kasih sayang orang tua dan do’a tulus memohon kepada Allah, yang akan membawa anak-anaknya kelak untuk selalu memuliakan kedua orang tuanya. Bentuk pemuliaan kepada orang tua ini yang akan terlihat dalam sikap-sikap sayang yang nyata seperti birul walidain atau berbuat baik dan mendo’akan kedua orang tuanya. Apalagi yang akan kita harapkan sebagai orang tua, selain do’a tulus dari anak-anak untuk kita?

#CeritaUminyaSyifa
#KetikaRinduKepadaIbuSedemikianMenggebu

Categories: Cerita, Uncategorized

Punya Banyak Anak, Salah Siapa?

April 1, 2014 5 comments

baby-feet1Melihat suatu keluarga yang ibunya mengenakan jilbab lebar dan ayahnya berpakaian celana cingkrang, tetangga langsung begitu “perhatian” ketika di dalamnya ternyata banyak kepala kecil yang perlu diberi makan. Ya, di Jawa, sering sekali ditemui istilah “ndrindil”, yaitu keluarga yang punya banyak anak dengan jarak yang termasuk pendek. Bahkan lebih miris lagi dijuluki KB alias “Kerep Bayen” (sering melahirkan).
Menanggapi hal itu, bukan tidak mungkin jika keluarga tersebut menjadi minder karena sering diberi “perhatian lebih” oleh tetangga. Melihat anaknya sakit, disalahkan, dikira kurang perhatian. Melihat baju anaknya kumal sedikit, dikritik, katanya tidak keurus, dan lain sebagainya. Bahkan mungkin bisa saja itu hanya terlihat sekali saja, namun menjadi pembicaraan hangat bahkan hot di tengah kampung. Sungguh miris.

Apa yang hendak saya utarakan pada posting kali ini adalah tentang sebuah takdir. Read more…

Pergantian Gigi Susu ke Gigi Dewasa Pada Anak

March 11, 2014 4 comments

kalung gigiUmumnya, usia 6-13 tahun adalah masanya anak berganti gigi, yaitu dari gigi susu menjadi dewasa. Kadang-kadang, ada anak yang terlambat dalam proses pergantiannya. Selama tidak terjadi masalah, hal itu tidak mengapa. Namun kadang-kadang, gigi dewasa muncul sebelum gigi susu goyah. Inilah yang dikhawatirkan.

Kondisi ini (gigi susu yang belum lepas padahal sudah masanya lepas) disebut gigi persistensi. Hal ini menjadi salah satu sebab terjadinya gigi berjejal. Akibatnya susunan gigi menjadi tidak rapi.

Berkaitan dengan hal ini, saya punya cerita.
Seminggu yang lalu, anak saya memperlihatkan giginya yang goyah. Saya sebenarnya sudah menunggu-nunggu, kapan gigi susu anak saya akan tanggal. Beberapa kali dalam beberapa kesempatan yang berbeda, saya mengecek gigi anak saya, kalau-kalau sudah ada gigi dewasa yang muncul menggantikan gigi susu.

Dan waktu dia memperlihatkan giginya yang goyah itu, saya pun mengecek sekitarnya. Ternyata, gusi belakang sudah agak menonjol. Saya pun berfikir, itu adalah calon gigi dewasa.
Saya bilang kepadanya, agar giginya digoyang-goyang terus biar cepat tanggal. Namun nyatanya, sampai seminggu si gigi belum juga tanggal. Padahal warna putih di belakang gigi (calon gigi baru) semakin jelas saja.

Akhirnya saya berinisiatif untuk mengajaknya ke dokter gigi, agar giginya dicabut saja.
Ngga perlu penolakan ternyata. Dia pun menurut. Mungkin karena kami (saya dan ayahnya) sempat bilang, “Dicabut sendiri pakai benang saja po?” Jadinya dia memilih untuk ke dokter gigi saja. Walau nyatanya, sampai di sana pun, dia menangis kesakitan hehe. Ini kisah Syifa dicabut gigi susu pertamanya.

Dalam kesempatan itu pun saya berkonsultasi dengan dokter.
Dokter bilang, memang jika sudah terlihat gigi pengganti, lebih baik segera dicabut, karena jika tidak, akan membuat gigi tidak rapi.
Lain halnya, bila gigi goyah sebelum waktunya. Saya sebelumnya juga bercerita bahwa anak ke dua saya (usia hampir empat tahun) sempat goyah gigi depannya gara-gara jatuh, dan sekarang pun masih goyah, meski sedikit (tidak goyah sekali). Waktu itu dia jatuh dan terantuk gigi depannya, yang kebetulan gigis (ada caries). Dokter pun meminta untuk menunggu saja dan justru tidak bagus bila dicabut. Beliau menganjurkan untuk merawat gigi yang terlanjur caries, dengan baik.

Gigi susu sebagai penuntun jalan bagi gigi dewasa. Bila dicabut sebelum waktunya, maka justru akan mengakibatkan susunan gigi tetap anak menjadi berantakan. Gigi susu ini berguna untuk menjaga pertumbuhan lengkung rahang bagus dan menuntun gigi dewasa untuk dapat tumbuh di tempatnya. Bila terlalu dini dicabut, maka gigi dewasa yang tumbuh nanti akan kehilangan petunjuk, sehingga akan salah arah dan posisinya pun menjadi tidak ideal. Selain itu, akan berakibat lengkung rahang menyempit karena “ditinggal” gigi susu jauh sebelum waktunya, sehingga susunan gigi akan menjadi tidak teratur (crowded).

Nah, itu sebagian pengetahuan yang saya dapat. Saya masih menunggu gigi susu-gigi susu anak saya lainnya yang tanggal.
Semoga segera bertahap tanggal sesuai waktunya, dan tergantikan dengan gigi dewasa yang rapi 🙂

Patchwork Pertamaku

November 26, 2013 1 comment

Melihat berbagai motif dan kain yang indah selalu membuatku gatal untuk membelinya kemudian membuat sesuatu lagi 😀

Mungkin istilahnya, aku ini sedang addicted dengan yang namanya jahit menjahit.

Jadilah aku membuat lagi pouch ini dengan patchwork alias menggabung-gabungkan beberapa potongan kain kecil menjadi satu lembaran kain yang berukuran besar.

image

Teknik simpelnya kudapat dari tutorial di Craft by Mood. Silakan buat yang lagi belajar jahit, bisa baca-baca website itu.

Untuk mencari ide, surfing saja dengan kata kunci craft, crafting, patchwork, dll niscaya akan Anda temukan buanyak benda yang menggiurkan 😀

Yang ini pouch ke duaku yang jadi pencil case-nya si sulung.

image

Categories: Hobi Tags: , , , , ,

Simple Pouch Made by Me ^^

November 18, 2013 2 comments

Aku suka menjahit.
Dulu, nenek pernah mengajariku menjahit. Aku pun sempat membeli buku tutorial menjahit yang fenomenal itu, karangan Soekarno (sepertinya semua setuju kalau kubilang fenomenal krn ini buku jadul yang suka direkomendasikan untuk belajar menjahit).

Lalu, saat pindah rumah, mesin pun ‘diwariskan’ padaku, cucunya yang memang tertarik dengan jahit menjahit.
Sebelum pindah rumah, aku sudah sempat membuat sarung bantal dan guling kecil, baju dan gaun kecil, juga tas kecil. Semua dari hasil coba-coba sendiri, dan hasilnya ya… gitu deh *LOL*

Namun sayang, punya bayi baru membuat hobiku berhenti total. Si mesin pun cuma teronggok begitu saja di gudang (udah jadi rumah tikus pulak, iyew..).

Nah, saat akhirnya aku bertemu dengan seorang penjahit baik hati yang mau mengajariku menjahit, aku pun bertekad untuk ‘menghidupkan’ kembali mesin jahitku yang sudah karatan di sana sini, tapi alhamdulillah masih bisa digenjot 😀

Nah, kemarin aku mencoba bikin ini. Tutorialnya dari sini. Aku udah lama nemu situs itu. Awalnya dari page di fb yang kulihat di beranda. Masya Allah, melihat-lihat kainnya yang lucu-lucu membuatku ingin memiliki hihihi. Tutorial di situs itu juga sangat mudah diikuti, plus gambar-gambarnya yang jelas banget, bikin siapa pun yang mau belajar jahit bahkan yg amatir sekalipun (kaya yang nulis blog ini) jadi cepet bisa. Top deh pokoknya.

image

Nah, pouch ini dibikin sebentar aja sebenarnya. Dari sore motong kain, paling 15 menitan. Trus jahitnya yg agak lama, setengah jam mungkin (maklum, newbie :p )

Dan malam itu kuselesaikan langsung pouch ini, mumpung krucil pada tidur.
Paginya jadi kejutan buat sulungku. Langsung dipake buat naruh uang saku sekolahnya 😀

Next, musti buat lagi, yang lain, yang bagus, yang… yang…
Loves to sew 😉

Categories: Hobi

Mencoba Hobi Baru: Desain Baju

November 10, 2013 2 comments

Tes tes

Agak grogi memulai lagi. Sudah lima bulan tidak menulis di blog ini. Dan kali ini mencoba menuangkan kembali ide di rumah mayaku. Plus, tambahan rasa sedikit excited karena ini pertama kali aku ngeblog pakai WordPress for Android 😀

Langsung saja…

image

Read more…

Categories: Cerita Tags: , , , , ,