Archive

Archive for the ‘Cerita’ Category

Anak Tetap Sayang Meskipun Ibu Tak Pandai Masak

C360_2016-06-01-16-08-13-618Baper, akronim yang akhir-akhir ini sering didefinisikan sebagai “Bawa Perasaan”, pernah juga melanda saya. Kala itu ketika saya membaca sebuah status yang intinya bahwa ada seorang ibu yang pandai memasak. Dan dia berharap kelak anaknya ini akan punya kenangan manis tentang masakan ibunya ketika dewasa. Saya yang sadar diri bahwa tidak pandai memasak pun langsung baper. Lalu membayangkan apa yang akan terjadi kelak ketika anak saya tidak mempunyai kenangan manis pernah dimasakkan makanan favorit oleh ibunya.

Itu dulu, sekarang kebaperan itu sudah tak ada lagi. Bukan karena saya mendadak suka masak, bahkan masuk dapur pun enggan rasanya. Saya mengandalkan ART untuk memasak menu yg saya inginkan. Dan salah satu keberuntungan besar adalah punya ART yang cukup pandai memasak hehe.

Kini, saya tak lagi baper meski saya tetap tidak punya hobi masak, sehingga berdampak pada kesulitan menuangkan tulisan resep ke bentuk nyata dalam wajan atau loyang.
Saya tak lagi baper meski banyak yg share foto2 menu masakan yg bikin ngiler, karena di balik foto itu saya yakin dapurnya juga butuh satu jam lebih untuk bersih kembali. 😀

Intinya bukan itu ya. Itu intermezzo saja, selingan sebagai pemanis cerita.
Intinya adalah kebaperan saya hilang dengan mengingat apa yang ada pada diri ibu saya.

Sebagai seorang wanita karir alias wanita yang bekerja di luar rumah, ibu saya hanya beberapa jam saja berada di samping saya. Ketika pagi sebelum berangkat sekolah, dan ketika ibu pulang sore hari hingga menjelang tidur. Ibu dan bapak sy bekerja sebagai pedagang di sebuah pasar tradisional. Karena tuntutan ekonomi, ibu pun ikut membantu bapak mencari tambahan rezeki. Jaman kecil dulu, uang 100 rupiah sudah cukup untuk beli nasi kucing. Uang lima puluh rupiah sudah mengenyangkan ketika ditukar dengan sebuah arem-arem. Tapi jaman segitu juga SPP SD per bulan sudah berada di angka 6000. Angka itu tidak mutlak. Masih bisa mengajukan keringanan bagi siswa yang tergolong tidak mampu. Itu di SD-ku, SD Muhammadiyah Wirobrajan yang kan ku kenang selalu. :p

Ibuku bukanlah tipe ibu yang gemar memotret hasil masakannya dan meng-upload di Facebook. Iya, jaman dulu belum ada Facebook. Boro-boro Facebook, Friendster aja belum launching.

Ibu sy memang tak pandai memasak.
Menu makanan yg tersaji setiap hari hanya berkutat di ayam, tempe-tahu, dan telor. Biasanya ayam semur, atau tempe goreng, atau oseng tempe atau telor ceplok, atau telor dadar yang dicampur irisan tempe, atau saat sudah mentok ide, maka ayam, tahu, tempe, dan telor itu pun akan berkolaborasi menjadi satu dalam satu wajan, menjadi semur atau opor. Cukup sekali masak bisa untuk beberapa hari, dengan cara mejik: diangetin. Kalau masih mentok lagi, maka yang menjadi pilihan terakhir dan saya yakin sampai sekarang pun makanan ini tetap menjadi favorit siapa pun di dunia: Indomie goreng. Maaf menyebut merk karena sudah ngga bisa pindah ke lain mie.

Begitulah ibu saya yang menurut saya memang tidak pandai memasak.
Mungkin anak di belahan bumi lain sudah mengenal pizza, burger, atau spaghetti. Tapi, buat saya, makanan-makanan “elit” itu baru saya cicipi ketika sudah punya belahan hati. #eaaa.

Ibu, meski tak pandai masak, saya tetap sayang pada beliau.
Ibu yang tiap pagi menyiapkan sarapan, apa pun menunya.
Menyiapkan bekal ke sekolah berupa sebotol air putih yang penuh terisi di botol aqua 600 ml yang sudah beberapa kali pakai, padahal di bawah kemasannya ada angka satu dalam bingkai segitiga yang artinya hanya boleh sekali pakai. Botol itu nyatanya tetap saya pakai berkali-kali, kecuali jika sudah parah tingkat ke-penyok-annya baru diganti.

Ibu selalu menyiapkan bekal berupa nasi dan lauk, ketika tau saya akan pulang agak sore hari itu, karena ada ekstra kurikuler.
Ibu yang menunggui saya mengerjakan pekerjaan rumah, meski kadang beliau tak paham apa yang tengah saya kerjakan.
Ibu yang rela membolak-balik baju seragam di atas kompor ketika hujan turun setiap hari, dan hanya itu seragam satu-satunya yang akan dipakai esok hari.
Ibu yang mencucikan baju-baju saya, sepatu saya, piring dan gelas bekas makan saya, mengganti sprei di tempat tidur saya, bahkan saat kecil, dengan terkantuk-kantuk menyanyikan lagu “Lir-Ilir” sehingga belum juga genap liriknya, beliau sudah tidur duluan.

Ah, masih banyak kebaikan beliau yang tak bisa disebutkan. Jauh lebih banyak dan tak akan tergantikan dengan sebanyak apa pun balasan saya sebagai seorang anak.

Hanya do’a tulus yang selalu saya panjatkan ketika mengingat ibu dan bapak. Rabbigh firli waliwalidayya warhamhuma kama rabbayani shaghira.
Ya Allah ampuni dosaku dan dosa kedua orang tuaku, dan kasihanilah keduanya sebagaimana mereka telah mengasihiku sejak kecil.

Ibu saya tak pernah marah. Tak pernah sekalipun. Entah, mungkin beliau ibu satu-satunya yang tak bisa marah di dunia ini. Jauh sekali dari anaknya ini. Saya pun heran. Mungkin peribahasa “buah jatuh tak jauh dari pohonnya” itu perlu dikaji ulang.

Oya, dari tadi saya cerita panjang, tapi belum cerita tentang gambar di postingan ini.
Ini adalah roti maryam (harapannya… ). Tapi nyatanya, saya sendiri ragu menyebutnya sebagai roti maryam.
Roti ini sebetulnya hasil campur-campur adonan anak saya dengan bantuan saya ketika membaca resep di buku. Saya juga membantu bagian menggoreng. Anak saya keukeuh kepingin bikin. Dan saya ngga tahan karena dia terus memelas. Dan ketika hasilnya gagal seperti ini pun, saya tetap dibuat surprise ketika anak saya bilang, “Umi tu pandai memasak, pandai bikin roti, dan pandai menjahit.”

Ah, terimakasih anakku…
Saya ngga peduli anak saya berkata benar atau hanya sekedar nge-gombalin uminya setelah uminya mau membantunya bikin roti. Yang jelas, saya senang dipuji begitu. Hihi.

Ya, intinya adalah, para ibu janganlah khawatir jika tidak pandai memasak. Karena tingkat kemahiran memasak bukanlah ukuran yang akan menentukan besar kecilnya rasa sayang anak kepada ibunya.

Kasih sayang orang tua dan do’a tulus memohon kepada Allah, yang akan membawa anak-anaknya kelak untuk selalu memuliakan kedua orang tuanya. Bentuk pemuliaan kepada orang tua ini yang akan terlihat dalam sikap-sikap sayang yang nyata seperti birul walidain atau berbuat baik dan mendo’akan kedua orang tuanya. Apalagi yang akan kita harapkan sebagai orang tua, selain do’a tulus dari anak-anak untuk kita?

#CeritaUminyaSyifa
#KetikaRinduKepadaIbuSedemikianMenggebu

Categories: Cerita, Uncategorized

Mencoba Hobi Baru: Desain Baju

November 10, 2013 2 comments

Tes tes

Agak grogi memulai lagi. Sudah lima bulan tidak menulis di blog ini. Dan kali ini mencoba menuangkan kembali ide di rumah mayaku. Plus, tambahan rasa sedikit excited karena ini pertama kali aku ngeblog pakai WordPress for Android 😀

Langsung saja…

image

Read more…

Categories: Cerita Tags: , , , , ,

Ngasih Hadiah, Ngga Perlu Pas Ultah

May 24, 2013 2 comments

Sebetulnya ide ngasih hadiah hari ini meluncur dari mulut anakku tadi pagi. Kemarin dia sudah membantu saya membereskan kamar. Waktu saya tawarkan membeli makanan ringan sebagai hadiah, dia ngga mau.

Dia bilang, “Kasih hadiah aja.” 🙂

Dan sebetulnya pula, kami (saya dan ayahnya anak-anak) sering memberikan hadiah untuk anak-anak kami. Cuma, saya yang lebih bisa merangkainya dalam bentuk yang indah seperti ini 😀

Kalau hadiah dari sang ayah, biasanya langsung bisa ketahuan, ngga perlu dibuka. Misalkan baru pulang dari Jakarta, ayahnya membawakan buku-buku. Pulang dari Lombok, beliau bawakan kaos. Semuanya serba transparan, ngga ribet pakai dibungkus kado segala 😀

Kalau saya beda, saya ingin memberikan sesuatu yang tampak spesial, walau isinya biasa-bisa saja 😀

hadiah buat Syifa

Berkaitan dengan hadiah ini, kami malah tidak pernah memberikan hadiah saat anak-anak ultah. Kami tahu, bahwa baginda Rasulullah tidak pernah mencontohkan yang demikian 🙂

Kata Rasulullah, memberi hadiah akan menimbulkan kasih sayang.

“Saling memberi hadiahlah kalian, niscaya kalian akan saling mencintai.”
(HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad no. 594, dihasankan Al-Imam Al-Albani rahimahullahu dalam Irwa`ul Ghalil no. 1601)

Nah, kalau ngasih hadiah cuma pas ultah, tandanya sayangnya pas ultah saja?
Salah besar!

Kalau ngasih hadiah pas ultah, tandanya kita tidak mencontoh Rasulullah 🙂
Kita bahkan masuk dalam golongan manusia yang meniru-niru kaum kuffar. Kenapa?

Lihat saja, tradisi memberi hadiah pada saat ultah tidak pernah ada dalam ajaran Islam. Tidak pernah sekali pun dicontohkan Rasulullah.

Back to the gift.

Hadiah ini, sengaja saya bungkus rapi dan rencananya akan saya berikan siang nanti saat menjemput mba Syifa sekolah.

Sudah terbayang, raut muka yang manis dengan lesung pipit “buatan” (bekas kejedot pojokan meja waktu kecil yang ngga ilang-ilang) yang akan terpancar ketika menerima hadiah nanti.

Hadiahnya memang tak seberapa, tapi semoga dia suka 🙂

Categories: Cerita, Diary Syifa, Islam Tags: , , ,

Rumah Kontrakan

November 6, 2012 2 comments

Pagi tadi saya berkunjung ke rumah seorang teman baru. Benar-benar baru karena tidak pernah bertemu sebelumnya. Selama ini hanya berinteraksi lewat dunia maya. Kebetulan, “profesi” kami sama, yaitu sebagai penjual online 😀

Kemarin dia sudah memberikan denah. Saya tahu persis karena daerah yang disebutkannya adalah daerah yang dulu sekali pernah kami (saya dan suami) tinggali semasa masih berdua 🙂

Singkat cerita, saya pun telah bertemu dengan teman saya, ngobrol, dan melakukan transaksi (saya membeli sebuah barang jualannya). Selesai, saya pamit pulang. Nah, di perjalanan pulang inilah memori saya seakan terbuka kembali.

Saya menyusuri jalan yang sangat saya kenal. Jalan yang sudah banyak berubah; rumah-rumah yang berdiri di kanan kirinya, plang-plang baru (yang dulu belum ada), kondisi jalan yang sudah lebih baik, dan rumah itu. Ya, sebuah rumah yang kini sudah tidak ada lagi, berganti dengan rumah baru yang kelihatannya belum lama berdiri.

Motor saya melaju santai. Pandangan saya masih saja tertuju kepada bangunan baru bercat krem. Rumah cukup bagus yang belum selesai dibangun. Di bagian depan masih terlihat belum jadi. Saya melihatnya tidak terlalu lama. Namun saya amati sepanjang motor saya melaju, dari depan hingga bagian belakang rumah itu. Sama sekali tak tersisa “rumah” kami yang dulu.

Daerah jakal km 7, tepatnya di daerah Ngabean. Ya, sebuah rumah mungil yang kami sewa pertama kali sejak awal menikah, enam tahun yang lalu.

Rumah (yang sebenarnya lebih mirip bangunan warung karena bentuknya yang memanjang) sederhana, berlantaikan semen dan bukan keramik. Rumah bercat biru (atau putih dengan pintu berwarna biru? Ah ingatan saya buruk sekali) yang menyimpan banyak memori.

Rumah yang pernah bocor di bagian dapurnya 😀

Rumah yang sewaktu hujan deras sempat “mengundang” pacet turun dari pohon besar di belakang dan masuk ke dalam.

Rumah yang jika malam sering tercium aroma nasi goreng dari warung sebelah yang menempel dengan bangunannya.

Rumah yang penuh dengan suara tawa anak kecil. Ketika itu di depan rumah kami ada rumah tetangga dengan dua anak kecil. Dua rumah di belakangnya adalah rumah saudara mereka, yang masing-masing mempunyai dua dan satu anak kecil. Ramai, saat mereka main ke tempat kami. Mereka mencari-cari suami saya yang sering memberikan “mainan gratis” untuk mereka. Sebuah laptop yang disetelkan VCD kartun 😀 Sekarang rumah-rumah mereka sudah tidak ada 😦

Rumah sederhana itu, banyak sekali kenangan di dalamnya.

Kenangan sewaktu saya melewati hari-hari mabok hamil anak pertama.

Kenangan saat jajan mie ayam favorit suami di warung tetangga. Saat saya lewat, warungnya juga sudah tidak ada lagi.

Kenangan saat beberapa teman kampus (juga teman SMA) berkunjung silaturahim.

Kenangan di awal-awal saat bapak (alm.) dan ibu mertua menginap setelah seharian membantu membersihkan rumah sebelum kami tempati. Kami tidur hanya beralaskan busa tipis yang digelar di atas lantai kasar.

Rumah kontrakan yang sangat sederhana, namun kami nikmati keberadaannya.

Tetangga yang baik, sering mengirim masakan. Padahal saya jarang sekali membalasnya (karena ngga bisa masak…).

Dan malam ketika kontraksi hebat saat akan melahirkan anak pertama kami, benar-benar tersimpan rapi dalam memori. Sekarang tak terasa, dia sudah sedemikian besar. Kedewasaannya melampaui usianya. (Umi bangga padamu, Nak!)

Rumah kontrakan kami, sekarang sudah tiada lagi. Namun, kenangan-kenangan itu senantiasa tersimpan di hati.

Seorang suami yang memberikan tempat berteduh untuk kami, yang sehari-harinya selalu menemani saya melakukan segala aktivitas. Kegemarannya “mencari angin” alias jalan-jalan, itu yang membuat saya tidak pernah merasa bosan. Jalan-jalan sore mencari camilan atau sekedar menikmati suasana sore sebelum berganti malam. Indah dan selalu terkenang.

Kini kami harus banyak bersyukur, karena telah memiliki rumah sendiri. Hunian yang jauh lebih nyaman daripada rumah kontrakan.

Categories: Cerita, Intermezzo, Special

Mengondisikan Anak Di Lingkungan Baru

August 4, 2011 1 comment

Kali ini saya ingin sedikit berbagi cerita saat kepindahan kami ke rumah baru, khusunya mengenai adaptasi anak kami. Cerita yang cukup singkat namun insya Allah ada maknanya 🙂

Ketika pertama kali pindah rumah, ada rasa khawatir akan kondisi psikis anak kami di lingkungan baru nanti. Teman baru, tetangga baru, dan lingkungan yang pasti akan berbeda dengan lingkungan yang dulu. Hal-hal yang berbeda itu adalah, kalau dulu anak kami selalu serumah dengan banyak orang; nenek, kakek, mbah uyut, pakdhe, budhe, juga ponakan kecil (anak pakdhe) yang selama ini selalu menjadi teman mainnya (selain tentu saja adiknya, Sarah) sekarang hanya ada ayah, umi, juga adiknya. Di rumah lama pun (rumah ortu saya), Syifa sudah sering bermain dengan teman-temannya di sana, bahkan sudah hafal jalan ke rumahnya dari rumah teman-temannya. Di sini dia akan ‘kehilangan’ semua itu, minimal tidak akan setiap hari melihatnya. Itulah yang kami khawatirkan.

Malam pertama itu, benar saja, dia merasa kesepian, mencari-cari anggota keluarga di rumah lama. Dia menanyakan mbah kakung dan mbah utinya. Kami berusaha menghiburnya.

Keesokan harinya, sungguh bersyukur, karena beberapa teman kecil mulai berdatangan ke rumah. Syifa yang memang anaknya gampang bersosialisasi, langsung berkenalan dan mengajak mereka bermain. Alhamdulillaah… tidak perlu mengeluarkan banyak jurus untuk membuat Syifa betah di lingkungan baru.

Yang bisa diambil dari cerita ini adalah (dan mungkin bisa digunakan sebagai referensi ketika pindah rumah): segera carikan teman sebaya secepat mungkin untuk anak agar kesepiannya dapat sesegera mungkin terobati.

 

Categories: Cerita, Parenting

Mana Lebih Baik, UHT atau Susu Formula?

August 29, 2010 26 comments

Pulang dari negeri kangguru kemarin, pada pekan pertama tiba di tanah air, kami menyempatkan untuk bersilaturahim ke tempat saudara. Ternyata setahun tidak bertatap muka cukup membuat kami terpana melihat anak-anak saudara kami yang tampak jauh lebih besar daripada sejak kepergian kami dulu. Beberapa keponakan memang terlihat semakin gemuk saja 😀 Memang dari bayi (sejak lepas dari ASI, mereka tidak pernah absen minum susu formula.

Ngobrol beberapa lama, lantas saudara menanyakan apakah di sana Syifa rutin minum susu? Kami jawab tidak mesti. Syifa memang doyan susu, tapi susunya  jenis UHT. Buat saya sendiri, daripada membuat segelas susu dari susu bubuk, saya lebih memilih membelikan susu cair UHT yang langsung minum. Selain praktis, Syifa pun ketika meminumnya langsung “lep” alias habis dalam waktu singkat. Berbeda dengan susu bubuk yang ketika sudah jadi segelas susu butuh waktu lebih lama untuk menghabiskan.

Setelah ngobrol tentang susu itu, saudara kami lantas menyarankan agar kemi memberikan susu bubuk saja. Mereka bilang, susu cair itu (maksudnya UHT) lebih banyak pengawetnya, jadi tidak sehat.

Read more…

Sebuah Paket dari Jogja

September 22, 2009 2 comments

Paket dari JogjaSetelah tiga hari menunggu, akhirnya sampai juga paket dari Jogja ke tangan saya. Beberapa waktu yang lalu saya meminta tolong brother untuk mengirimkan beberapa buku perdana saya ke sini. Plus beberapa obat-obatan yang memang sering saya minum di Indonesia ketika pusing. Alhamdulillah, seperti kata brother, bahwa paket akan datang insya Allah tiga hari.
Tepatnya kemarin siang ketika saya sedang berkutat di dapur, terdengar suara orang menggedor-gedor pintu (bukan mengetok, karena suaranya keras sekali). Unit yang baru ini memang tidak mempunyai bel sehingga tamu harus menggedor pintu ketika bertamu agar terdengar dari dalam rumah. Saya sempat kaget saat itu, namun segera menuju pintu untuk membukanya. Dan benar saja, paket yang sudah saya tunggu-tunggu itu sudah tampak di depan mata saya, tengah dipegang oleh seorang petugas bertubuh tinggi gemuk. Read more…