Bayi · Family · Melahirkan

Kisah Kelahiran Baby Hasna, 09-02-2020

Nggak Niat Lahiran di Bidan, Tapi Ternyata…
(Kisah Kelahiran Baby Hasna, 09-02-2020)
***
Tapi.. Ternyata takdir berkata lain. Baby Hasna satu-satunya anak kami yang lahir di bidan dengan segala ‘drama’nya. Irit sih, tapi penuh dengan perjuangan. 😅

Kehamilan Baby Hasna begitu mudah, alhamdulillah. Tanpa morning sickness yang berarti. Tanpa masalah apapun, kecuali HB rendah. Dan saya memang sudah langganan HB rendah waktu hamil. Vitamin zat besi sudah rutin dikonsumsi, berharap bisa normal ketika menjelang persalinan.

Periksa kehamilan selalu ke dokter di sebuah RS Ibu dan Anak. Tapi pernah sekali periksa ke klinik bersalin dekat rumah untuk sekedar cek HB dan cari opsi tempat melahirkan lain yang lebih dekat dari rumah. Juga pernah sekali cek ANC di puskesmas dekat rumah (karena permintaan dokter untuk cek semua, termasuk cek HIV). Baru tau juga jika sekarang ada cek komplit. Dan di puskesmas semuanya gratis.

Tiba di minggu menjelang kelahiran udah agak resah. Resah menunggu HPL, yaitu tanggal 10 Februari. Kata dokter, semua bagus. Plasenta di atas, kepala bayi sudah di bawah, air ketuban cukup (waktu lahir ternyata banyak banget), berat bayi normal cenderung besar, dengan range 3,2 kg – 3,4 kg. Akan jadi bayi terbesar kami, mengingat kakak-kakaknya dulu paling berat hanya 3,1 kg. (Dan kalau bayinya gede, itu salah suami karena sering membelikan saya es krim).

Tanggal 5 ibu mertua sudah datang, persiapan kalau-kalau lahiran maju biar bisa menemani ketiga anakku di rumah kalau aku melahirkan nanti. Biasanya, persalinanku maju 3 hari dari HPL. Waktu lahiran anak ke dua di OZ malah maju 17 hari.

Tanggal 7 menanti kontraksi namun tak kunjung menghampiri. Memang kehamilan kali ini saya cenderung ‘klumbrak klumbruk’ ala kaum rebahan. Sudah tua plus jarang olah raga pula. Jadi rasa makin berat nggembol bayi ke mana-mana. Buat kalian yang masih muda, sok atuh program nambah segera, mumpung masih fit.

Kembali menyoal si HB rendah. Saya pun ikhtiar dengan kurma. Selain untuk menambah zat besi, beberapa studi menyebutkan manfaat kurma yang dikonsumsi menjelang persalinan, diantaranya adalah mempercepat kontraksi, karena kurma sebagai sumber oksitosin alami.

Akhirnya, berdasarkan studi tersebut, saya pun makan 6-7 butir kurma per hari sejak minggu ke-36.
Rutinitas itu saya lakukan setiap pagi hari sebelum sarapan pagi. Kurma juga mengandung gula, jadi mungkin ini juga yang membuat ukuran bayi saya sedikit lebih besar dari bayi-bayi kami sebelumnya.

Keresahan makin melanda manakala membuka grup bumil yang beberapa diantara mereka sudah memamerkan foto bayi, pertanda sudah melahirkan.

Ya, saya dimasukkan ke dalam grup HPL Februari, oleh rumah sakit tempat saya biasa periksa. Di grup itu sebagai tempat berbagi informasi dan curhat. Sedihnya justru saat sebagian besar malah curhat soal BPJS yang naik, tapi ketika lahir normal malah nggak bisa digunakan untuk lahiran di RS tersebut. Duh, miris saya. Ibu hamil menjelang persalinan bukannya hepi malah pikirannya terbebani. Saya pun menyempatkan komentar untuk mendoakan semoga semuanya diberikan kemudahan melahirkan nanti.

Oya, biasanya bumil sering melakukan sounding ke bayinya, tapi saya tak pernah melakukannya. Saya cuma mengelus perut saja ketika resah menanti kehadirannya. Di tengah keresahan itu saya pun membaca artikel soal nanas yang mempercepat kontraksi. Sebetulnya belum ada bukti ilmiah, tapi kenapa nggak dicoba?

Saya pun meminta pak suami membeli nanas madu yang sering mangkal di pinggir jalan. Tanpa banyak tanya, suami membelikan nanas, tapi bukan nanas madu, karena saat itu sudah malam dan tukang nanas pinggir jalan otomatis sudah kukut lah ya.

Pak suami langsung ke supermarket dan membawa pulang nanas bermerk yang belum pernah saya konsumsi sebelumnya 😅
Memang lebih enak dan lebih berair. Satu buah nanas saya habiskan sendiri. Dua kali makan. Suami dan anak nomor 3 cuma mencicipi sedikit. Saya konsumsi 2 kali. Tanggal 7 dan tanggal 8.

Sudah tanggal 8 dan belum juga ada tanda. Masih anteng-anteng saja. Kurma masih saya konsumsi tiap pagi. Jalan pagi juga (terpaksa) saya jalani. Aslinya saya malas jalan-jalan keliling kampung dengan siluet perut besar, yang kata anak saya sudah lebih besar daripada semangka. Si bontot pun sering bertanya, “Umi, kapan adeknya keluar? Aku udah nggak sabar.”
“Yo sabar..” jawab saya, walau saya sendiri juga nggak sabar menantinya keluar.

Di akhir kehamilan ini saya kena SPD. Apa itu? Googling sendiri ya. Intinya nyeri di daerah sekitar kemaluan, yang baru kali ini saya rasakan di kehamilan. Entah apa penyebabnya saya tidak tahu. Itu juga yang menyebabkan saya enggan bergerak. Bangun tidur sakit. Waktu ganti posisi tidur pun sakitnya luar biasa. Tapi alhamdulillah, setelah melahirkan perlahan rasa itu hilang sendiri, bi idznillah.

Tanggal 9 pagi. Hari Ahad, waktunya telepon si sulung yang mondok. Saya minta maaf lagi karena tidak bisa menjemput untuk pulang bulanan. Alhamdulillah anak itu ‘temuwa’ alias dewasa sekali. Saya sudah bilang jauh-jauh hari sebenarnya, bahwa HPL umi tanggal 10 Februari. Jadi bulan ini yang harusnya bisa pulang tanggal 8 jadi di-skip dulu. “Ora popo, Mi.” katanya.
Dan kala itu dia pun cerita, malah seneng kamar sepi, trus telponnya bisa lama sampai satu jam. Masya Allah. Baarakallahu fiik, Nak.. Kita jumpa sebulan lagi habis ujian Insya Allah ya.. (mendadak mellow).
Saya pun meminta do’anya agar dimudahkan saat melahirkan nanti, cepat dan mudah.

Sorenya jam 4.
Terasa kontraksi yang lama. Saya belum menghitung, tapi sakitnya sudah tak bisa hilang dengan berganti posisi. Ini kontraksi beneran nih.
Saya pun segera sholat Ashar. Kontraksi masih belum teratur, kadang setengah jam sekali, kadang 15 menit. Masih acak. Tapi durasinya sudah semenit. Saya hitung dengan aplikasi Contraction Timer.

Maghrib saya sholat, kemudian sejak saat itu kontraksi sudah mulai 10 menit sekali. Saya tunggu saja, sekalian nunggu Isya’ trus berangkat. Tas yang sudah saya siapkan jauh-jauh hari tinggal angkut saja.

Adzan Isya’ saya cek di kamar mandi, sudah ada lendir darah. Saya mengkomando suami agar habis Isya’ langsung berangkat.
Semua sudah bersiap-siap.
Tiba-tiba..
“Duh Yah, saiki wae Yah. Wis ra tahan Umi.”
Suami nggak jadi Isya’, langsung ambil kunci mobil. Ibu mertua juga ikut siap-siap. Nggak tega liat saya kesakitan, ingin menemani saya.
Saya langsung bergegas. Keluar kamar kerasa kontraksi. Sampai di depan pintu rumah kerasa lagi. Duh ya Allah.. Sampaikan ke rumah sakit dulu.. Sampaikan..

Mobil melaju. Pikiran sudah ke mana-mana. Bentar-bentar kerasa kontraksi di mobil. Saya atur nafas terus, sambil duduk posisi ‘ngempit’. Teringat teman yang lahiran di rumah. Ya Allah, sampaikan.. Sampaikan rumah sakit dulu.. Allah.. Allah.. Dzikir sepanjang jalan.

Sampai di jalan dekat klinik bidan tempat saya periksa dulu, saya menyuruh suami belok saja. Suami pengen ke RS biasa periksa.
“Kene wae!” kataku sedikit membentak. Bersamaan dengan kepala bayi yang rasanya sudah mau nongol saja.
“Ngendi menggoke?”
“Ngarep kuwi.” suami memang belum pernah ke klinik itu. Waktu periksa masih 4 atau 5 bulan, saya motoran sendiri.

Alhamdulillah sampai depan klinik. Saya langsung buka pintu mobil tanpa menutupnya lagi. Jalan cepat dan menemukan mbak yang jaga di depan.
“Mbak tolong, saya mau melahirkan…” kataku sambil menahan kontraksi yang makin hebat.
Si mbak itu pun langsung memandu saya ke ruang tindakan. Saya sudah hafal sebetulnya karena dulu sempat melihat-melihat ruang itu dan juga kamar inapnya. Saat itu saya berubah pikiran. Dari yang awalnya ingin melahirkan di sini karena dekat, namun saya urung, karena kamar inapnya kelas 1 hanya satu saja.

Tiba di ruang tindakan saya langsung persiapan melahirkan. Naik bed sendiri. Kuliat jam 8 malam saat itu. Lega karena sudah ada di atas bed bersalin, namun rasa itu semakin kuat.
“Dicek dulu ya, Bu..”
Saya belum berani mengejan walau dorongan itu sudah begitu kuat. Hanya ambil nafas dan hembuskan putus-putus.
“Sudah bukaan 8.” kata mbak yang jaga lagi. Ya, dia dan juga satu wanita lagi adalah bidan jaga. Dan malam itu hanya ada saya di situ. Klinik sudah mau tutup.
Bidan kemudian mengecek HB saya. Alhamdulillah normal. Namun katanya, seharusnya persalinan ke lima tidak boleh di sini. Tapi karena datang sudah mau lahiran ya harus ditolong.

Dicek kepala belum nongol. Saya disuruh miring kiri agar cepat turun kepala bayinya. Tiba-tiba cairan hangat keluar. Ketuban pecah. Saya masih bernafas pendek-pendek. Sampai akhirnya saya terlentang lagi dan bidan menyatakan pembukaan lengkap.

Saya pun mengejan. Tapi.. Yang keluar malah suara dari leher.. Duh teknik yang salah. Berkali-kali ngeden tiap kontraksi, tapi si bayi belum nongol juga kepalanya. Tiba-tiba kontraksi berhenti.
Rasa ingin menyerah.. Ya Allah..
“Jaraknya berapa lama to dari lahiran sebelumnya?” tanya bidan.
“5,5 tahun.” jawabku sambil menanti kontraksi.
“Oh pantes. Sudah lupa (cara ngejan ya)..”
Kemudian bidan beberapa kali menyuruh mengejan seperti kalau mau BAB. Perasaan saya juga udah gitu, tapi kok ya gagal.
Sampai akhirnya ketika kontraksi datang lagi..
“Ayo Bu.. Sudah kelihatan itu kepala bayinya. Besar kepalanya.. Kalau kuat terus saja Bu..”
Saya pun mengejan sekuat tenaga dan lama.. Sampai akhirnya
.. Owek… Kencang sekali tangisnya.
Alhamdulillah… Alhamdulillah Ya Allah… Akhirnya keluar juga.. Legaa luaar biasaaa…
Suami yang sedari tadi menunggu di samping saya mencium kening saya.

Jam 8.25 bayi kami lahir. Perempuan lagi. 😁
Alhamdulillah. Yang penting semua sudah selesai.
Bayi 3,5 kg dengan panjang 48 cm.
Dalam hatiku, nggak lagi-lagi deh.. Susah bener ngejannya bayi gede.
Alhamdulillah lahiran sesuai do’a, mudah dan cepat. Tapi bikin deg-degan juga..
“Dijahit dulu ya, Bu..”
Duh part paling ngilu.
Dan jahitannya paling banyak.. Qadarullah.

Setelah selesai sesi jahit menjahit, saya diberi infus.
“Harus ya, mbak?” tanyaku.
“Iya, Bu..”
Ternyata sudah SOP-nya begitu. Padahal saya paling nggak suka diinfus. Tangan nggak bebas bergerak. Saya pun diminta menunggu hingga 2 jam kemudian. Saya menunggu sambil menelepon ibu memberitahu bahwa bayi sudah lahir. Sebelum berangkat tadi saya juga sempat telepon untuk meminta maaf dan juga do’a. Suara di seberang membalas dengan tangisan haru.

Dua jam kemudian saya didorong dengan kursi roda, masuk ke kamar inap. Saat bangun dari bed bersalin tadi, baru kerasa dada saya sesak untuk bernafas. Mungkin karena teknik pernafasan yang kurang persiapan. Ah, memang persiapan itu perlu kok, meski sudah melahirkan yang ke-5.

Masuk kamar dengan kondisi seadanya. Satu bed yang nggak begitu empuk. Satu kursi panjang yang nggak bisa untuk tidur penunggu. Satu kamar mandi dalam yang ada shower tapi tanpa water heater. Beruntung ada AC. Gapapa lah. Saya bersyukur. Yang penting udah lairan, meski saya senyum sendiri kalau ingat percakapan dengan teman dulu, “Sepertinya saya nggak jadi lahiran di klinik itu.”
Dan ternyata malah saya lahiran di sini, hehe. Namanya takdir, tidak ada yang tahu ya. Masya Allah.

Paginya dicek, sore ini katanya boleh pulang. Oya, habis lahiran itu sudah dilakukan IMD dan setelah dicek semuanya, bayi langsung dibawa ke kamar saya.

Sorenya siap-siap pulang. Dan waktu di kasir, suami cerita kalau agak ‘terkejut’ dengan biaya yang masih lebih murah dibanding kelahiran anak ke empat di RS, tahun 2014 lalu.

Khadijah Hasna Azizah.
Semoga Allah menjadikanmu berkah untuk keluarga kami dan berkah untuk umat Muhammad. Aamiin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s