Home > Family > Aisha, Rautan, dan Keberanian 

Aisha, Rautan, dan Keberanian 

Aisha, adalah anak kami yang ke tiga. Saat ini tengah bersekolah di sebuah TK bermanhaj salaf di Yogyakarta. 

Problem yang saya hadapi adalah bahwa meski sudah setengah tahun lebih bersekolah, masih saja sulit untuk ditinggal.

Kadang, mau salim lamgsung masuk kelas. Namun seringnya merengek, rewel, ngga masuk masuk. Narik jilbab umi, ngga mau ditinggal pulang, mbuntutin di belakang. Sampai-sampai menangi keras, karena saya memaksa pulang, dan ustadzah memeganginya. Itu berlangsung beberapa kali. 

Namun, drama itu hanya terjadi saat masuk kelas saja. Waktu dijemput pulang, wajahnya sumringah seperti tidak pernah ada peristiwa apapun sebelumnya. 

Saya sampai heran, bahkan pernah sampai sedih akan keadaan ini. Namun juga geli, karena saya jadi ingat masa kecil saya dulu, yang sama dengan anakku Aisha, ngga mau ditinggal sekolah, harus ditungguin. Dan dulu, nenek saya yang nungguin saya di sekolah, bahkan ikut duduk di kelas, disediakan “dingklik” (kursi pendek) pula sama bu guru TK 😀 

Kembali ke Aisha, akhirnya drama itu pun berakhir. Hanya karena sebuah rautan. Tentu saja ada campur tangan Allah di sini. 🙂 

Ya, dengan iming2 sebuah rautan, lalu dia pun mau salim dan langsung masuk kelas sendiri, seterusnya sampai hari ini.  Masya Allah.. walhamdulillah. 

Seperti sebuah keajaiban.
Saya bilang, “Ais, mau ngga dibeliin rautan, tapi janji besok kalau sekolah, salim  lamgsung masuk kelas?” Dia pun menjawab, “Ya, janji.” Dan disambung dengan Horee.. 

Esoknya, saya antar dia ke sekolah. Dan benar saja, dia salim, jarak beberapa meter dari gerbang, langsung salim, dadah sama saya, lalu berjalan menuju kelasnya. Tanpa drama, tanpa rewel, tanpa narik jilbab saya, dan tanpa membuntuti saya di belakang. 

Ya Allah, senang tak terkira. Memandangi langkahnya yang menjauh, dengan rasa senang dan terharu. Hanya dengan rautan. Kenapa ngga dari dulu dibelikan rautan seperti ini.. 🙂

Saya jadi ingat, bahwa terkadang ada ujian terlebih dahulu, untuk mmendapatkan sebuah kegembiraan. Inilah salah satu ujian seorang ibu, yang menyekolahkan anaknya. Ada drama sebagai bumbunya yang kelak ketika diingat kembali akan membuat tersenyum sendiri. 🙂

Advertisements
Categories: Family
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: