Home > Bayi, Kehamilan > Punya Banyak Anak, Salah Siapa?

Punya Banyak Anak, Salah Siapa?

baby-feet1Melihat suatu keluarga yang ibunya mengenakan jilbab lebar dan ayahnya berpakaian celana cingkrang, tetangga langsung begitu “perhatian” ketika di dalamnya ternyata banyak kepala kecil yang perlu diberi makan. Ya, di Jawa, sering sekali ditemui istilah “ndrindil”, yaitu keluarga yang punya banyak anak dengan jarak yang termasuk pendek. Bahkan lebih miris lagi dijuluki KB alias “Kerep Bayen” (sering melahirkan).
Menanggapi hal itu, bukan tidak mungkin jika keluarga tersebut menjadi minder karena sering diberi “perhatian lebih” oleh tetangga. Melihat anaknya sakit, disalahkan, dikira kurang perhatian. Melihat baju anaknya kumal sedikit, dikritik, katanya tidak keurus, dan lain sebagainya. Bahkan mungkin bisa saja itu hanya terlihat sekali saja, namun menjadi pembicaraan hangat bahkan hot di tengah kampung. Sungguh miris.

Apa yang hendak saya utarakan pada posting kali ini adalah tentang sebuah takdir.
Terlepas dari apakah orang tua itu mampu atau kurang mampu mengurus anak-anaknya dengan baik, ini bukanlah fokus pembahasan di sini, karena pasti akan melanggar privacy atau “daerah terlarang” bagi sebuah keluarga. Biarlah urusan mengurus rumah dan anak kita serahkan kepada mereka masing-masing.

Back to the topic, Punya Banyak Anak, Salah Siapa?
Jika melihat beberapa kasus di luar, mungkin ada sebagian dari kita yang pernah menemui atau bahkan mengalami sendiri, bahwa begitu susahnya punya anak. Sudah beberapa tahun menikah namun tak kunjung hadir buah hati yang dinanti. Akhirnya, hamil, melahirkan, hanyalah angan yang entah kapan bisa dirasakan. Tentu saja yang demikian akan membuat seorang wanita sedih. Saya sebagai wanita, bisa sedikit mengerti.

Sebaliknya, bagi wanita yang sangat subur, masya Allah… tiap tahun hamil, sehingga hampir setiap tahun genap atau setiap tahun gasal, pasti punya bayi baru. Alhamdulillaah, mungkin bahagianya karena gampang punya anak. Atau, mungkin juga ada yang bersikap sebaliknya? Tapi apa alasannya bila harus bersikap demikian?

Punya banyak anak, bagi sebagian orang (dalam hal ini kita tengok dari sisi wanita) mungkin dianggap merepotkan. Alasannya jelas. Dari bayi harus menyusui, menggendong, menina bobokkan, memberi makan –yang kalau idealis harus homemade, maka pasti repot membuat, meracik, menyiapkan, dan menyuapi-, memandikan, membersihkan kotoran, belum lagi jika tidak punya ART, mencuci dan menyetrika setumpuk pakaian dan popok pasti bukan hal yang ringan. Belum lagi “perhatian lebih” dari tetangga tadi yang pastinya akan menguras emosi.

Lalu, apakah bila hal yang demikian merepotkan dan menguras tenaga, yang seandainya tidak kita inginkan ini, semuanya adalah sesuai dengan skenario kita?
Dan sebaliknya, pada kasus pertama, bila menunggu-nunggu buah hati yang membuat hati sedih itu apakah juga atas kehendak kita?
Kalau manusia mampu, niscaya ia akan membuat hal-hal berjalan sesuai dengan yang ia senangi. Menikah di usia muda, hamil sesuai rencana, anak-anak semua tumbuh sehat terus, belajar dengan riang, tidak rewel, dll. Namun hal itu mustahil. Ada Allah Yang Maha Kuasa, Yang Maha Mengatur Segalanya, termasuk dalam hal punya atau tidak punya anak, satu, dua, tiga, atau bahkan sepuluh anak. Jika anak kadang sakit, itu lumrah. Jika jodoh yang dinanti tak kunjung datang padahal usia hampir kepala tiga, maka kita pun tak bisa memaksa takdir.

Siapa yang mengatur? Siapa yang menentukan? Ada Allah di sana. Hanya Allah Yang Maha Menentukan. Bukan dokter atau bidan yang mampu memutus garis keturunan. Bukan orang tua kita yang bisa menentukan kapan kita menikah. Bukan kita, sekali lagi bukan manusia yang bisa mengatur semua yang terjadi di dunia ini.

Bagi pasangan yang telah menggunakan alat kontrasepsi misalnya, apakah lantas “bebas” dari takdir-Nya jika Allah hendak mengaruniakan kepadanya seorang anak? Tidak.
Bagi pasangan lain yang berusaha sekuat tenaga, menghabiskan uang ratusan juta demi mendapatkan seorang bayi nan lucu, apakah lantas selalu berhasil? Juga tidak.

Semua atas kehendak Allah.

Jadi, nikmati saja skenario yang telah Allah buat untuk kita.

Bagi pasangan yang masih menunggu kehadiran buat hati, jangan putus asa untuk terus berihtiar dan memohon do’a kepada-Nya.
Bagi mereka yang dikaruniai banyak anak, repot mengurus setiap hari, niatkanlah semua hanya untuk Allah.
Hidup di dunia hanya sebentar. Janganlah repot mengurusi lisan orang lain yang berbuntut emosi. Ada atau tidak ada anak, banyak atau sedikit, itu semua adalah karunia-Nya.
Kita, hanya bisa menjalani apa-apa yang telah menjadi kehendak-Nya.

*catatan singkat, di 22 pekan kehamilan anak kami yang ke empat, insya Allah. Mohon do’a untuk kemudahan dan kelancarannya, aamiin*

  1. April 1, 2014 at 7:54 am

    semoga dimudahkan dan lancar ya..🙂

    • Ummu Syifa
      April 1, 2014 at 8:06 am

      Aamiin, makasih mba Inge…🙂

  2. November 14, 2014 at 9:04 pm

    tapi memang berat merawat anak, saya punya anak umur 1 tahun dan sekarang masih pikir pikir untuk punya anak dalam waktu dekat🙂

    silahkan mampir ke Cara Cepat Hamil dalam 2 Bulan

  3. ibna mardiah
    August 22, 2015 at 4:10 pm

    Aq juga sedang hamil yg ke 4,sempat shock karna aq KB pil,anak yg ke 3 baru usia 2thn,sempat stres,berusaha menggugurkan kandungan,stiap hari rasanya mau nangis.padahal suami mendukung punya anak lagi,tp pikiran2 spt yg di utarakan mba di atas membuat saya sering mempertanyakan takdir alloh

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: