Home > Cerita, Intermezzo, Special > Rumah Kontrakan

Rumah Kontrakan

Pagi tadi saya berkunjung ke rumah seorang teman baru. Benar-benar baru karena tidak pernah bertemu sebelumnya. Selama ini hanya berinteraksi lewat dunia maya. Kebetulan, “profesi” kami sama, yaitu sebagai penjual online😀

Kemarin dia sudah memberikan denah. Saya tahu persis karena daerah yang disebutkannya adalah daerah yang dulu sekali pernah kami (saya dan suami) tinggali semasa masih berdua🙂

Singkat cerita, saya pun telah bertemu dengan teman saya, ngobrol, dan melakukan transaksi (saya membeli sebuah barang jualannya). Selesai, saya pamit pulang. Nah, di perjalanan pulang inilah memori saya seakan terbuka kembali.

Saya menyusuri jalan yang sangat saya kenal. Jalan yang sudah banyak berubah; rumah-rumah yang berdiri di kanan kirinya, plang-plang baru (yang dulu belum ada), kondisi jalan yang sudah lebih baik, dan rumah itu. Ya, sebuah rumah yang kini sudah tidak ada lagi, berganti dengan rumah baru yang kelihatannya belum lama berdiri.

Motor saya melaju santai. Pandangan saya masih saja tertuju kepada bangunan baru bercat krem. Rumah cukup bagus yang belum selesai dibangun. Di bagian depan masih terlihat belum jadi. Saya melihatnya tidak terlalu lama. Namun saya amati sepanjang motor saya melaju, dari depan hingga bagian belakang rumah itu. Sama sekali tak tersisa “rumah” kami yang dulu.

Daerah jakal km 7, tepatnya di daerah Ngabean. Ya, sebuah rumah mungil yang kami sewa pertama kali sejak awal menikah, enam tahun yang lalu.

Rumah (yang sebenarnya lebih mirip bangunan warung karena bentuknya yang memanjang) sederhana, berlantaikan semen dan bukan keramik. Rumah bercat biru (atau putih dengan pintu berwarna biru? Ah ingatan saya buruk sekali) yang menyimpan banyak memori.

Rumah yang pernah bocor di bagian dapurnya😀

Rumah yang sewaktu hujan deras sempat “mengundang” pacet turun dari pohon besar di belakang dan masuk ke dalam.

Rumah yang jika malam sering tercium aroma nasi goreng dari warung sebelah yang menempel dengan bangunannya.

Rumah yang penuh dengan suara tawa anak kecil. Ketika itu di depan rumah kami ada rumah tetangga dengan dua anak kecil. Dua rumah di belakangnya adalah rumah saudara mereka, yang masing-masing mempunyai dua dan satu anak kecil. Ramai, saat mereka main ke tempat kami. Mereka mencari-cari suami saya yang sering memberikan “mainan gratis” untuk mereka. Sebuah laptop yang disetelkan VCD kartun😀 Sekarang rumah-rumah mereka sudah tidak ada😦

Rumah sederhana itu, banyak sekali kenangan di dalamnya.

Kenangan sewaktu saya melewati hari-hari mabok hamil anak pertama.

Kenangan saat jajan mie ayam favorit suami di warung tetangga. Saat saya lewat, warungnya juga sudah tidak ada lagi.

Kenangan saat beberapa teman kampus (juga teman SMA) berkunjung silaturahim.

Kenangan di awal-awal saat bapak (alm.) dan ibu mertua menginap setelah seharian membantu membersihkan rumah sebelum kami tempati. Kami tidur hanya beralaskan busa tipis yang digelar di atas lantai kasar.

Rumah kontrakan yang sangat sederhana, namun kami nikmati keberadaannya.

Tetangga yang baik, sering mengirim masakan. Padahal saya jarang sekali membalasnya (karena ngga bisa masak…).

Dan malam ketika kontraksi hebat saat akan melahirkan anak pertama kami, benar-benar tersimpan rapi dalam memori. Sekarang tak terasa, dia sudah sedemikian besar. Kedewasaannya melampaui usianya. (Umi bangga padamu, Nak!)

Rumah kontrakan kami, sekarang sudah tiada lagi. Namun, kenangan-kenangan itu senantiasa tersimpan di hati.

Seorang suami yang memberikan tempat berteduh untuk kami, yang sehari-harinya selalu menemani saya melakukan segala aktivitas. Kegemarannya “mencari angin” alias jalan-jalan, itu yang membuat saya tidak pernah merasa bosan. Jalan-jalan sore mencari camilan atau sekedar menikmati suasana sore sebelum berganti malam. Indah dan selalu terkenang.

Kini kami harus banyak bersyukur, karena telah memiliki rumah sendiri. Hunian yang jauh lebih nyaman daripada rumah kontrakan.

Categories: Cerita, Intermezzo, Special
  1. January 6, 2013 at 2:24 pm

    rumah yg pernah tak kunjungi po mi?
    yang deket pojok jalan itu?

    • Ummu Syifa
      January 11, 2013 at 10:35 pm

      iya, di daerah Banteng jakal itu🙂

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: