Home > Belanja, Informasi > Cerita Tentang Sebuah Koper

Cerita Tentang Sebuah Koper

Kali ini postingnya agak OOT dari tema baby. Saya lagi ingin bercerita tentang pengalaman yang membuat saya terkesan. Tentang sebuah koper yang berakhir dengan kesan mendalam kepada sebuah supermarket di Jogja. Supermarket itu memiliki semboyan “Rumah Belanja Terpercaya”. Mungkin anda yang berada di sekitar kampus tertua akan mengetahui supermarket ini. Dulu, sejak saya masih kuliah dan mengontrak rumah, sering saya belanja di situ. Selain dekat, barangnya juga lengkap. Kali itu, sebuah “masalah” membawa saya pergi ke sana lagi, sendirian.

Cerita bermula ketika suami saya akan mengikuti study tour ke luar negeri beberapa waktu lalu. Mendadak, beliau ingin membeli koper yang berukuran tidak begitu besar, namun cukup untuk membawa barang-barang selama lima hari di luar negeri. Beliau pun memulai petualangannya ke supermarket tersebut. Ternyata di sana hanya tinggal satu koper saja. Dia kemudian “lari” ke malioboro, demi mencari koper lain yang mungkin menarik hati (walau koper satu-satunya di supermarket tadi sudah nyantol di hati).

Mencari ke mana-mana tak juga ketemu yang sreg, motor pun kembali ke supermarket tadi. Diputuskannya untuk menebus koper satu-satunya tadi dan membawanya pulang. Sesampainya di rumah, qadarullah, resleting tidak bisa dibuka. Resleting macet hingga membuat beliau melakukan berbagai cara untuk membuatnya bekerja. Namun nihil. Koper tak mau terbuka. Tampak ada sedikit kerusakan kecil di satu bagian gigi resleting yang membuatnya tidak bisa dibuka. Padahal cerita beliau, ketika dicoba di sana bisa. Jadilah, malam keberangkatan beliau (sebelum esoknya ke LN) menjadi kacau. Beliau pun memutuskan untuk menonton TV saja dan meninggalkan si koper cokelat tergeletak dengan posisi resleting terbuka di tengah (setelah mengalami utak-utik beberapa waktu dengan jarum dan tang).

Pasti suasana hatinya sangat kesal, ditambah badan yang juga kelelahan setelah seharian mengajar. Saya pun mencoba untuk sedikit memperbaiki tampilan reslestingnya, namun tetap belum bisa.

Tiba-tiba saya tidak sengaja melihat struk belanja yang masih disteples dengan kertas merk yang tergantung di salah satu bagian koper. Iseng saya melihatnya, dan menemukan satu nomor yang bisa dihubungi. Saya pun mencoba mengirim sms yang intinya menanyakan apakah koper bisa ditukar dengan yang baru (kondisinya bagus).

Sebenarnya saya pesimis sms saya akan dibalas. Ternyata beberapa lama kemudian hape saya berbunyi, dan sebuah sms yang saya nantikan muncul di layar. Kabar bagus. Koper bisa ditukar maksimal satu hari setelah pembelian. Alhamdulillah, masih ada kesempatan. Kuceritakan tentang sms tersebut, lantas mengatakan pada beliau bahwa besok koper akan langsung saya tukarkan. Sedikit bangga ketika suami bertanya, “Dapat dari mana nomornya?” (Gesit juga ya, saya sebagai istri hehehe). Kujawab saja dengan senyum, kemudian menceritakan penemuan nomor hp tadi.

Singkat cerita setelah mengantar suami ke bandara esok paginya, saya langsung tancap gas ke lokasi. Ngga ada pikiran macam-macam saat itu. Hanya satu pedomanku, koper bisa ditukar dengan yang sama persis atau uang kembali.

Sampai di tempat parkir, berbincang sebentar dengan tukang parkir yang bertanya tentang koper. Kujawab apa adanya. Langsung koper kutenteng menuju pintu masuk. Di sana langsung terlihat wajah seorang petugas jaga yang membawa sebuah handy talky di tangannya. Kutanyakan lokasi customer service, tempat masalah ini akan bisa diselesaikan sesuai dengan petunjuk sms semalam. Saya lupa-lupa ingat lokasi CS karena sudah cukup lama tak kemari.

Awalnya sudah membuat terkesan. Petugas itu menunjukkan bahwa CS ada di lantai dua. Tak hanya sampai di situ, beliau mengantarkan saya sampai di depan CS persis, kemudian menunjukkan dengan ibu jari (bukan dengan telunjuk), suatu isyarat khas orang Jogja ketika menunjukkan sesuatu dengan cara yang halus. Kuucapkan terima kasih.

Sampai di sana kutemui seorang wanita berkerudung lalu menceritakan masalah yang terjadi. Koper kutunjukkan. Semalam aku berhasil membuat resleting yang sempat terbuka, menjadi tertutup kembali, walau masih ada sebagian kecil yang terbuka, namun ada di pojok samping. Kuharap mereka tak melihatnya. Semalam aku berusaha menutupkan resletingnya kembali karena khawatir kerusakan akan dituduhkan terjadi setelah diutak-atik di rumah.

Beliau lantas menyuruhku langsung ke bagian koper untuk mencari ganti koper tersebut. Sebelumnya, beliau memberikan sebuah pernyataan, bahwa koper bisa ditukar barang sejenis (koper juga walau beda merk) atau kalau tidak ada, bisa ditukar dengan barang lain dengan harga sama atau lebih sedikit. Saya manut saja, walau dalam hati tetap ingin uang kembali kalau barangnya tidak ada yang sama persis, karena suami menghendaki koper yang sama persis.

Sampai di bagian koper, karyawan jaga mengatakan bahwa stok koper sudah habis. Tak cuma koper sejenis, namun semua koper habis. Lantas gimana solusinya? Saya tak mau jika harus membeli barang lain dengan harga setengah juta lebih. Itu sangat tidak masuk akal. Saya komunikasikan hal tersebut kepada karyawan dengan bahasa yang halus dan sopan. Beliau juga mengerti. Lalu dipanggilnya seorang petugas lain (mungkin atasannya), yang kemudian menanyai saya, apa mau saya. Yang saya mau, koper yang sama persis atau jika tidak ada saya minta uang saya kembali.

Tak disangka, permintaan saya dikabulkan. Petugas segera melakukan proses retur koper dan akan mengembalikan uang saya 100%. Alhamdulillah… saya senang sekali. Dan itulah yang menjadi keinginan saya sebenarnya, mengambil uang kembali. Seandainya ada koper sejenis, saya malah akan merasa kecewa, karena toh suami sudah berangkat dan akhirnya koper itu menjadi tak terpakai. O iya, akhirnya suami hanya membawa tas ransel saja ke LN😀

Beberapa waktu kemudian,  proses selesai dan saya pun bisa pulang membawa uang setengah juta lebih tanpa kurang sepeser pun. Dalam hati, saya salut dengan pelayanan di supermarket ini. Saya pun bisa pulang dengan lega…

*Bagi yang pernah atau sedang mengalami masalah serupa, jangan ragu untuk menukarkan barang yang rusak, walau mungkin terdapat tulisan di struk belanja bahwa barang yang sudah dibeli tidak dapat ditukar atau dikembalikan🙂

Categories: Belanja, Informasi Tags: ,
  1. June 18, 2011 at 5:58 pm

    wah…tinggal di jogja juga ya…suami dosenkah???bisa ketemuan dong kalo someday ikut kajian…ikut kajian ust aris stiap sabtu ahad gak??? brondong ya pertanyaannya hehehe…

    lagi nebak2 supermaket apa itu…mbo ditulis aja namanya hihi…kan bukan cerita buruk…malah mengangkat nama supermarketnya kan…

    • Ummu Syifa
      June 18, 2011 at 7:05 pm

      makasih mb udah mampir. Iya, suami dosen UII. Kajian ikut tiap ahad di maskam. Hehe, ngga pengen nyebutin nama supermarketnya, ndak dikira iklan😀 Mb Cizkah Jogjanya mana?

  2. June 25, 2011 at 1:36 pm

    baik ya supermarketnya… masyaalloh! di mana nih? sapa tau kalo pulang bisa jadi langganan

    • Ummu Syifa
      June 25, 2011 at 7:56 pm

      supermarket deket mipa Wi😀 Mungkin malah dah langganan hehe

  3. June 27, 2011 at 5:13 pm

    owh… udah langganan sejak smp yaa… ^^

    • Ummu Syifa
      June 27, 2011 at 7:48 pm

      SMP malah ga pernah ke sana, baru langganan sejak berkeluarga🙂

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: