Syifa Masuk Playgroup

Beberapa bulan lalu, tepatnya ketika anak pertama saya Syifa berusia tiga tahun lebih tiga bulan, saya memutuskan untuk memasukkanya ke playgroup. Sebelum memutuskan hal tersebut, saya dan ayah Syifa banyak menimbang-nimbang keuntungan dan kerugiannya. Lama diskusi kami lakukan, dan akhirnya kami pun yakin dengan rencana kami ini.

Akhir November 2010 Syifa resmi menjadi siswa sebuah playgroup di dekat rumah kami. Nama PG tersebut adalah Bunga Bangsa Ceria (BBC). Masuk sekolah empat kali sepekan, mulai dari jam 8 hingga 11.30 setiap harinya. Tempat ini dulunya digunakan oleh sebuah yayasan di Jakarta untuk menangani anak-anak korban gempa pada bulan Mei 2006 silam. Saat itu, setelah kegiatan usai, banyak warga setempat yang menginginkan kegiatan diteruskan. Pihak yayasan pun kemudian mengalih fungsikan tempat itu menjadi sebuah playgroup hingga kini.

Dibimbing oleh empat orang guru yang kesemuanya wanita berkerudung dengan jumlah siswa sekitar 50-an orang, kadang membuat siswa tidak terlalu diawasi dengan baik. Maka bulan lalu, PG tersebut menambah jumlah tenaga pengajar menjadi tujuh orang, salah satunya laki-laki.

Pertama kali mengikuti kegiatan belajar di sana, ada rasa tak tega yang menyusup dalam benak saya. Pihak PG memberi aturan bahwa siswa hanya boleh ditunggui maksimal satu minggu saja. Setelah itu, siswa harus benar-benar mandiri, tidak boleh melihat orang tuanya berada dalam lingkungan sekolah.

Bersyukur, Syifa bukan anak yang pemalu. Hari pertama dia mengikuti kegiatan sekolah, hari itu juga saya tinggal dia. Saya hanya menunggui beberapa menit saja (sekitar 30 menit) karena si kecil Sarah juga tak mungkin saya tinggal terlalu lama di rumah hanya dengan mbah uyutnya saja.

Awalnya, Syifa tampak sungkan bergabung dengan teman-temannya. Ketika itu, kegiatan dilakukan di halaman sekolah. Tema waktu itu adalah banjir. Ada semacam miniatur sungai yang sengaja dibuat di tanah, kemudian murid-murid diajak untuk melakukan kegiatan mengenal air dan sebab-sebab banjir. Bagus sekali. Dari situ saya sudah tertarik dengan cara belajar di sana.

Saya pun berpamitan kepada Syifa dengan hati yang tidak 100% rela. Tetap ada rasa hilang ketika tak menemukan Syifa di rumah, di hari pertamanya masuk sekolah. Syifa pun saya lihat ada sedikit rasa ‘klayu” ketika saya berpamitan dengannya. Tapi saya yakinkan, bahwa nanti umi jemput begitu sekolah usai.

Beberapa minggu setelahnya, Syifa menampakkan tanda-tanda bahwa ia kerasan di PG tersebut. Walaupun terbilang murah, di PG ini terdapat mainan dan barang-barang keperluan belajar yang cukup lengkap. Bahkan di sudut ruangan ada perpustakaan kecil yang menyediakan buku-buku untuk dipinjam oleh siswa-siswinya. Kurikulumnya tersusun dengan runtut. Setiap orang tua pasti tahu apa yang diajarkan hari ini, karena guru selalu menempelkan informasi mengenai kegiatan hari tersebut di buku penghubung masing-masing siswa. Buku tersebut juga digunakan untuk berkomunikasi dengan orang tua melalui media tulisan. Sesekali guru mengundang orang tua siswa untuk berdiskusi tentang perkembangan anaknya.

Sampai hari ini, ketika sudah hampir setengah tahun berada di sana, keuntungan yang paling terasa adalah bahwa Syifa menjadi lebih mandiri. Komitmen sekolah untuk selalu mendorong siswanya berlaku mandiri, alhamdulillah terbentuk juga di rumah. Dia jadi semangat melakukan segala sesuatunya sendiri, mulai memakai baju, sepatu, makan, bahkan sudah ingin mandi sendiri.

Keuntungan lain adalah bahwa ia pun suka berbagi. Di sekolah, setiap kali snack time, siswa disuruh untuk bertukar makanan dengan kawan yang ada di sebelahnya. Tentu saja hal ini bermanfaat sekali untuk menanamkan sifat suka berbagi dengan orang lain. Di rumah, ia tak segan membagi makanan dengan temannya. Bila ada temannya yang main ke rumah, spontan ia mengeluarkan toples berisi kue dan memberi temannya itu minum air putih.

Untuk masalah akademis saya rasa di setiap playgroup sama, setiap siswa pasti diajarkan menulis dan membaca. Dari saya pribadi, saya tak terlalu mengunggulkan bagian ini, justru attitude yang baik itulah hal positif yang nantinya akan membekas ketika anak telah dewasa.

Berkaitan dengan hal tersebut, ada satu hal yang sampai saat ini belum bisa hilang dari dirinya. Sifat gampang marah ketika keinginannya tidak terpenuhi. Juga sikapnya yang masih suka ngeyel bila diberi tahu, entah itu dengan berargumen panjang atau lebih parahnya berteriak atau menangis sambil meninggalkan lawan bicaranya. Hmm saya anggap itu bagian dari sikap kekanak-kanakannya karena masih dalam proses belajar. Semoga saja perlahan hal tersebut bisa hilang dan berganti dengan sikap yang lebih baik.

*Gambar dari sini

  1. Bunda Nabilah
    April 28, 2011 at 3:05 pm

    Jadi rencana PG berapa lama Mi? TK 2thn terus SD?
    Jadi pengen masukin Nabilah ke PG🙂 Tapi…rasanya masih terlalu kecil…

    • Ummu Syifa
      April 28, 2011 at 8:03 pm

      Insya ALLAH PG-nya 2 tahun, jd bsk msh 1 tahun lg. Sementara ini rencananya spt itu dulu, yg selanjutnya dipikir lg besok🙂

  2. Bunda Ocha
    May 20, 2011 at 12:30 pm

    allhamdullah..ternyata pilihanku memasukan mosya ke playgroup tidak salah..insyallah bulan juli nanti dia sudah bersekolah..gak sabar rasanya ingin liat mosya pakai seragam tk.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: