Home > Informasi, Parenting, Perkembangan Anak > Alasan-Alasan Memasukkan Anak Ke Playgroup

Alasan-Alasan Memasukkan Anak Ke Playgroup

Sekarang ini telah banyak bermunculan lembaga pendidikan balita yang dikenal dengan istilah playgroup (kelompok bermain). Tak hanya di kota-kota besar, di desa-desa pun kini playgroup juga sudah gampang ditemukan. Playgroup sesuai dengan namanya, biasanya memberikan aktivitas lebih banyak bermain daripada belajar. Hal ini tentu saja disesuaikan dengan usia anak-anak yang berkisar antara 2-4 tahun yang waktunya masih banyak digunakan untuk bermain.

Salah satu playgroup yang cukup terkenal dan berpusat di Jogjakarta membagi rentang usia tersebut menjadi dua kelas, yaitu kelas A dan B, masing-masing untuk anak usia 2-3 tahun dan 3-4 tahun. Playgroup tersebut juga memiliki kurikulum yang bagus dan sangat lengkap, bahkan memasukkan pelajaran agama di dalamnya. Dengan begitu tentu saja akan menarik minat para orang tua untuk memasukkan anaknya ke sana.

Jika ditelusuri lebih jauh, apa sebenarnya yang membuat para orang tua berminat memasukkan anaknya ke playgroup dan apa saja yang bisa diharapkan dengan memasukkan buah hati mereka ke lembaga pendidikan pra-TK ini?

Berikut beberapa alasan dari berbagai sumber yang kami temukan.Banyaknya playgroup yang ada sekarang ini tentunya selain menambah referensi juga tak jarang membuat bingung para orang tua. Selain playgorup yang saya singgung di atas, tentu saja banyak playgroup lain yang memiliki keunggulan masing-masing dan juga memasukkan agama dalam kurikulumnya, bahkan sebagian telah terlihat juga dari namanya yang islami. Dengan lengkapnya kurikulum yang ada dalam sebuah playgroup akan membuat para orang tua tidak ragu lagi memasukkan anaknya ke sana.

Kurikulum yang lengkap biasanya menjadi alasan para orang tua memilih playgroup tersebut. Alasan lain yang cukup kuat untuk memasukkan anak ke playgroup adalah agar mereka lebih pandai. Salah seorang ibu di sebuah surat kabar bercerita bahwa niatnya memasukkan anaknya ke playgroup adalah agar anaknya tidak diam saja di rumah, melainkan dapat beraktivitas di luar rumah. Selain itu ia juga ingin agar anaknya seperti anak tetangganya yang sudah mahir berhitung dan membaca koran di usianya yang baru empat tahun.

Memang sebagai orang tua pasti menginginkan anaknya menjadi anak yang pandai, cepat menangkap pelajaran yang diberikan, serta mudah menyerap ilmu. Playgroup dengan berbagai kegiatan belajar sambil bermainnya, otomatis akan merangsang jiwa kreativitas dan memicu anak untuk belajar lebih dini. Tak jarang dalam kurikulum playgroup juga disisipkan kegiatan belajar seperti di TK, yang meliputi berhitung, menulis, menggambar, bahkan bahasa Inggris. Jadi bukan tidak mungkin ketika lulus dari playgroup dan masuk TK, anak akan sudah mahir membaca dan berhitung.

Playgroup juga tak melulu memberikan kegiatan yang menguras kemampuan otak anak. Selain membuat anak agar pintar dalam hal akademisi, tujuan utama playgroup adalah membentuk jiwa sosialisasi anak. Pada setiap kegiatan, guru akan membagi anak-anak menjadi beberapa kelompok kecil, kemudian memberikan mereka sebuah “masalah” untuk dipecahkan. Dengan demikian anak akan terlatih untuk dapat bekerja sama dengan teman-temannya.

Harapan tentu selalu ada pada diri orang tua yang memasukkan anaknya di playgroup. Tentu saja orang tua menharapkan anaknya akan menjadi lebih cepat selangkah dibanding teman-teman sebayanya yang tidak dimasukkan di playgroup. Dalam hal ini, seorang psikolog Anna Surti Ariani menjelaskan bahwa tidak selayaknya memasukkan anak-anak ke playgroup dengan mengusung harapan berupa kemampuan lebih pada si anak. Beliau menganjurkan agar harapan itu lebih kepada menstimulasi perkembangan anak. Sebab, usia tiga tahun adalah masa berkembangnya kemampuan anak, sehingga harus distimulasi.

Playgroup bagi sebagian orang tua merupakan jenjang yang wajib sebelum anak memasuki TK. Namun kadang bagi sebagian yang lain tidaklah demikian. Mereka beranggapan bahwa masuk TK saja sudah cukup, toh jaman para orang tua mereka kecil dulu juga tidak ada yang namanya playgroup. Mungkin bagi yang berpendapat ke dua adalah mereka yang terbentur pada masalah biaya atau bisa jadi memang tidak menghendaki memasukkan anaknya ke playgroup dengan alasan tertentu.

Kalau dilihat lebih jauh, bisa jadi anak yang masuk ke playgroup memang lebih dulu bisa membaca atau berhitung, namun ketika mereka kemudian berkumpul dengan anak lain di TK yang bahkan belum bisa membaca sebelumnya, sepertinya seiring dengan waktu, kedua anak tersebut (yang masuk TK dengan sudah lebih dulu bisa membaca dan yang belum) akan sejajar kemampuannya. Mereka akan sama-sama mahir membaca ketika lulus TK. Dalam hal ini yang menonjol hanyalah masalah siapa lebih dulu, namun akhirnya kemampuan mereka juga akan sama.

Soal biaya yang dipatok oleh playgroup memang berbeda-beda. Dari sebuah sumber dikatakan bahwa salah satu playgroup ada yang mematok harga sekitar 750 ribu sebulan. Tentu saja bagi mereka yang berkemampuan lebih, biaya seebsar itu mungkin tak jadi soal. Apalagi playgroup selalu menjamin perut siswa siswinya tidak akan kelaparan selama mengikuti kegiatan. Biaya yang dibayarkan setiap bulannya biasanya sudah termasuk ongkos makan dan minum serta snack yang diberikan setiap harinya pada jam-jam makan. Namun bagi mereka golongan yang tidak begitu mampu, biaya ini yang sering menjadi ganjalan. Padahal biasanya orang melihat bagus tidaknya kualitas playgroup dari biaya yang dikenakan. Otomatis ketika mencari playgroup yang murah akan menimbulkan banyak pertanyaan, apakah kurikulumnya bagus, apakah nanti ada perubahan pada diri anaknya, lebih cepat membaca, berhitung, dan lain-lain. Akibatnya, bila memasukkan anak ke playgroup yang asal murah, bisa jadi ketika harapan tersebut tidak terpenuhi dan si anak tidak menunjukkan tanda-tanda kemajuan, maka orang tua juga yang akan putus asa.

Terlepas dari harapan orang tua, ada beberapa referensi yang menyebutkan bahwa alasan yang juga melatar belakangi para orang tua memasukkan anaknya ke playgroup adalah karena mereka tak punya cukup waktu untuk bersama anak-anaknya di rumah. Alasan ini mungkin memang pas bila kondisi orang tua dua-duanya bekerja seharian, pagi berangkat kerja, sore baru pulang. Dari kondisi ini, anak otomatis hanya berada di rumah seharian bersama pembantu atau dengan saudara orang tuanya (bila dititipkan). Daripada mereka bersama pembantu yang mungkin kurang tahu dalam hal mendidik anak dan bisa jadi seharian hanya akan melotot di depan televisi, maka orang tua lalu berpikiran untuk memasukkan saja anaknya ke playgroup.

Jika memang kondisinya demikian, playgroup akan lantas berfungsi ganda menjadi taman bermain sekaligus juga sebagai tempat penitipan anak. Padahal usia batita masih sangat membutuhkan kasih sayang orang tuanya. Andaikan memang keputusan memasukkan ke playgroup adalah pilihan terakhir, diharapkan para orang tua (terutama ibu) tidak lantas melepas tanggung jawab begitu saja. Ibu tetaplah sebagai madrasah pertama bagi buah hatinya. Ia seharunya yang menjadi guru sekaligus pendidik bagi putra-putrinya. Walaupun sesiangan si anak berada di playgroup, maka sebisa mungkin ibu tetap menyisihkan waktu (lebih tepatnya mencari waktu lebih banyak) untuk buah hatinya dalam rangka mendidik dan memberikan kasih sayang yang optimal kepada mereka. Karena memang itulah tugas utama seorang ibu, mengurus rumah tangga dan mendidik anak. Sebagus apa pun playgroup yang dimasuki si anak, jika ibu cuek dan berlepas diri dari tanggung jawabnya selaku pendidik, bisa jadi memasukkan anak ke playgroup tidak akan berguna sama sekali.

——————————————————————————

Tulisan ini khususnya ditujukan untuk saya sendiri agar menjadi pengingat bagi diri saya yang saat ini sedang memiliki batita sekaligus menjadi referensi ketika kelak akan memilih untuk memasukkan anak ke playgroup atau tidak. Namun terlepas dari itu, hal yang akan selalu saya ingat adalah bahwa tugas utama seorang ibu tetaplah di rumah, mengurus suami dan anak, karena inilah fitrah seorang wanita. Insya Allah dengan mendidik anak-anak menjadi generasi yang cerdas dan shalih/shalihah akan berbuah pahala dari Allah serta kepuasan batin tersendiri di hati ibu.

*Gambar diambil dari http://whitfordfamilycentre.com.au

  1. April 30, 2010 at 3:20 pm

    waduh tapi itu baik gk buat pertumbuhan si anak?

    • Ummu Syifa
      April 30, 2010 at 5:03 pm

      tergantung anaknya pak. Dari cerita para ibu yang memasukkan anaknya di playgroup yang saya baca ada sisi positif dan negatifnya. Sisi positif, anak jadi bisa bersosialisasi (tidak merebut mainan yang sedang dipegang temannya) dan sisi negatifnya anak menjadi bosan sekolah (SD) karena sudah masuk playgroup dan TK.

  2. bue.zaki
    May 13, 2011 at 8:50 am

    Saya punya anak usia 2,5 th, sejak usia 2 bulan sudah saya titipkan di Tempat Penitipan Anak (TPA), di TPA ini selain belajar sosialisasi juga diajarkan mewarnai, menempel, menyanyi. Dirumah juga saya ajarkan mengenal buku bacaan yang menarik untuk anak, alhamdulillah sudah bisa berhitung dikit-dikit.

    masih perlukan anak saya ke playgroup, karena seperti yang Ummu Syifa bilang sisi negatif anak jadi bosan sekolah.
    thks.

  3. Ummu Syifa
    May 13, 2011 at 2:43 pm

    Untuk ibunda Zaki, kalau menurut sy, melihat kemampuan ananda yg meningkat setelah masuk TPA, maka bisa saja lanjut ke PG. Biasanya di PG bisa dilakukan masa percobaan dulu, kalau anak betah (bisa dilihat dari responnya, senang atau justru bosan) maka bisa lanjut. Kalaupun anak merasa kurang suka, mengingat metode belajar atau lingkungan PG yg mungkin sedikit berbeda dgn TPA, maka tidaklah mengapa rehat sejenak. Toh ananda masih 2,5 tahun, masih banyak kesempatan utk belajar di rumah dgn ibu🙂

  4. ami
    May 20, 2011 at 12:36 pm

    Asswrwb…ibu, saya juga cancel memasukkan anak ke PG dan tetap di penitipan meski usia anak saya sudah 2,5 tahun. Saya setuju jika harusnya ibulah yang menjadi guru utama anak sampai usia 3 tahun. Masalahnya saya adalah guru di sebuah sekolah swasta yang jam kerjanya fullday. Jujur saja saya dilema, disatu sisi ingin memberikan waktu yang lebih banyak pada anak, tetapi disisi lain bukan keputusan yang gampang jika berhenti bekerja karena banyak faktor yang harus dipertimbangkan. Wacana adanya TPA khusus anak guru disekolah saya memang ada. mudah2an saja tahun ini bisa terealisasi, sehingga saya bisa memberikan waktu disela jam kerja dan jika memungkinkan akan mendatangkan guru privat sesuai minat anak saya…

  5. Yanti
    February 22, 2012 at 8:00 pm

    Selamat malam ibu,
    Saya ingin konsultasi seputar anak saya,di umurnya yang sudah 3,4 tahun apakah wajar dia baru belajar membaca angka dan huruf? Saya baru memulainya pada waktu dia umur 3 tahun.Masih antara bisa dan enggak.Mungkin terkendala saya kurang bisa mengajar dan masih punya 2 anak yang lebih kecil yang harus diasuh sendiri.Apakah itu berarti sebaiknya dia saya sekolah kan masuk pg atau tk ya?
    Terima kasih.

    • Ummu Syifa
      February 23, 2012 at 3:22 pm

      Terima kasih ibu Yanti sudah berkunjung ke blog ini🙂
      Sebelumnya maaf bila jawaban saya nanti kurang memuaskan, karena saya bukanlah ahli dalam bidang ini. Saya pun masih belajar menjadi ibu yang baik bagi anak-anak saya.

      Begini bu, menurut hemat saya, seorang batita usia dua tahun sewajarnya sudah bisa menghafal huruf dan angka. Ini berlaku bila memang ada pengajaran dari ortu maupun lingkungan. Tapi bukan suatu keharusan ya… Mengingat ada sebagian dari ortu yang mungkin belum sempat mengajarkan, jadi anak kurang termotivasi untuk belajar. Atau mungkin karena kondisi anak yang kurang memungkinkan (karena ada keterlambatan, dll).

      Nah, saya dalam hal ini mendukung pendapat bu Yanti untuk memasukkan ananda ke PG, mengingat waktu ibu banyak tersita untuk adik-adiknya. Bukan bermaksud untuk “menyingkirkan” si anak, tapi lebih kepada mengenalkannya kepada lingkungan baru. Siapa tahu, dengan masuk PG, dia justru lebih pandai berinteraksi sosial dengan teman sebaya. Ditambah lagi, kadang anak suka bosan lho bu, apalagi bila ibu di rumah sibuk dengan adiknya yang kecil-kecil.
      Anak saya yang besar saya masukkan PG usia tiga tahun. Alhamdulillah betah. Sekarang saat sudah punya adik, saya memasukkannya ke TK. Kalau hari libur malah kadang bosan karena di rumah tidak ada kegiatan, sedangkan saya mengurus anak kedua yang masih 1,5 tahun.

      Begitu ya bu, bisa dicoba untuk memasukkan anak pertama ke PG. Mudah-mudahan ananda lebih ceria dengan kegiatan dan teman-teman barunya nanti🙂

  6. Ameera
    April 6, 2013 at 10:23 pm

    Sy tdk berencana mmasukkan anak sy k PG.. Sy tdk ingin mnjejalkan anak sy dg pelajaran akademis trlalu dini.. Krn menurut saya,kemampuan mngenal angka,huruf,mmbaca atau mnulis.. Adalah kmampuan dasar seorg manusia.. Yg tdk harus terburu2 untuk dikuasai.. Pasti akan bisa ko nantinya.. Ada saatnya
    Mgkn nnti lsg masuk TK saja d usia 5th

    Jk anak sdh bs baca&mnulis trlalu dini.. Di takutkan dia akan malas skolah nntinya… Krn dia sdh bisa dan kegiatan sekolah mnjadi tdk mnarik lg.. Byk crita sperti ini dr teman atau forum2

    Peran PG bs d ambil alih oleh bunda sndiri,sambil brmain atau brcerita.. Bs mmasukkan pengetahuan sederhana sdikit2 pd anak..
    Mgkn sy lebih trtarik mmasukkan anak sy k sanggar tari, atau musik.. Dsana minat,bakat,kmampuan motorik serta kemampuan sosialnya jg bisa d asah

    Itu pndapat saya… Tp semua kembali lg kpd tujuan msg2 orang tua,mmasukkan anak ke PG.. Anda yg tau minat,kmampuan serta kesiapan anak anda..
    Anak orang lain trlihat lebih pintar? Hmmmm…. Perjalan msh panjang bunda… Pintar atau berhasilnya buah hati… Tdk dilihat dr umur brp dia bs baca dan mnulis kan?😉

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: