Home > Islam, Melahirkan, Merawat Bayi, Parenting > Anjuran Adzan di Telinga Bayi Baru Lahir

Anjuran Adzan di Telinga Bayi Baru Lahir

Sebagian dari kita mungkin sudah hafal dengan berbagai hak-hak bayi yang baru lahir, seperti mengumandangkan adzan di telinganya. Namun apakah kita juga sudah mengerti bahwa memang ada hadits yang menganjurkannya, atau hanya ikut-ikutan semata? Saya menemukan hadits tentang hal tersebut sudah sejak lama, bahkan saya cantumkan pula dalam buku saya. Namun baru sekarang ini saya menemukan referensi yang menyatakan bahwa hal tersebut ternyata tidak dianjurkan oleh Rasulullah SAW karena hadits-hadits yang menjadi landasannya adalah hadits yang lemah.

Semoga Allah mengampuni kami atas ketidaktahuan kami saat melakukannya pada putri pertama kami, amin.

Berikut saya copy-kan ulasannya yang saya dapatkan di link http://rumaysho.wordpress.com/2009/01/27/anjuran-adzan-di-telinga-bayi-yang-baru-lahir

Dalil Para Ulama yang Menganjurkan

Hadits pertama:
Dari ‘Ubaidillah bin Abi Rofi’, dari ayahnya (Abu Rofi’), beliau berkata,
رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَذَّنَ فِي أُذُنِ الْحَسَنِ بْنِ عَلِيٍّ حِينَ وَلَدَتْهُ فَاطِمَةُ بِالصَّلَاةِ
“Aku telah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengumandangkan adzan di telinga Al Hasan bin ‘Ali ketika Fathimah melahirkannya dengan adzan shalat”. (HR. Ahmad, Abu Daud dan Tirmidzi)

Hadits kedua:
Dari Al Husain bin ‘Ali, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ وُلِدَ لَهُ مَوْلُودٌ فَأَذَّنَ فِي أُذُنِهِ الْيُمْنَى وَأَقَامَ الصَّلَاةَ فِي أُذُنِهِ الْيُسْرَى لَمْ تَضُرَّهُ أُمُّ الصِّبْيَانِ
“Bayi siapa saja yang baru lahir, lalu diadzankan di telinga kanan dan dikumandangkan iqomah di telinga kiri, maka ummu shibyan tidak akan membahayakannya.” (Diriwayatkan oleh Abu Ya’la dalam musnadnya dan Ibnu Sunny dalam Al Yaum wal Lailah). Ummu shibyan adalah jin (perempuan).

Hadits ketiga:
Dari Ibnu Abbas, beliau mengatakan,
أذن في أذن الحسن بن علي يوم ولد ، فأذن في أذنه اليمنى ، وأقام في أذنه اليسرى
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adzan di telinga al-Hasan bin ‘Ali pada hari beliau dilahirkan maka beliau adzan di telinga kanan dan iqamat di telinga kiri.” (Diriwayatkan oleh Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman)
Untuk memutuskan apakah mengumandangkan adzan di telinga bayi termasuk anjuran atau tidak, kita harus menilai keshohihan hadits-hadits di atas terlebih dahulu.

Penilaian Pakar Hadits Mengenai Hadits-Hadits Di Atas

Penilaian hadits pertama:
Para perowi hadits pertama ada enam,
مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنْ سُفْيَانَ قَالَ حَدَّثَنِى عَاصِمُ بْنُ عُبَيْدِ اللَّهِ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِى رَافِعٍ عَنْ أَبِيهِ
yaitu: Musaddad, Yahya, Sufyan, ‘Ashim bin ‘Ubaidillah, ‘Ubaidullah bin Abi Rofi’, dan Abu Rofi’.
Dalam hadits pertama ini, perowi yang jadi masalah adalah ‘Ashim bin Ubaidillah.

Ibnu Hajar menilai ‘Ashim dho’if (lemah). Begitu pula Adz Dzahabi mengatakan bahwa Ibnu Ma’in mengatakan ‘Ashim dho’if (lemah). Al Bukhari dan selainnya mengatakan bahwa ‘Ashim adalah munkarul hadits (sering membawa hadits munkar).

Dari sini nampak dari sisi sanad terdapat rawi yang lemah sehingga secara sanad, hadits ini sanadnya lemah.
Ringkasnya, hadits ini adalah hadits yang lemah (hadits dho’if).
Kemudian beberapa ulama menghasankan hadits ini seperti At-Tirmidzi. Beliau mengatakan bahwa hadits ini hasan. Kemungkinan beliau mengangkat hadits ini ke derajat hasan karena ada beberapa riwayat yang semakna yang mungkin bisa dijadikan penguat. Mari kita lihat hadits kedua dan ketiga.

Penilaian hadits kedua:
Para perowi hadits kedua ada lima,
حدثنا جبارة ، حدثنا يحيى بن العلاء ، عن مروان بن سالم ، عن طلحة بن عبيد الله ، عن حسين
yaitu: Jubaaroh, Yahya bin Al ‘Alaa’, Marwan bin Salim, Tholhah bin ‘Ubaidillah, dan Husain.

Jubaaroh dinilai oleh Ibnu Hajar dan Adz Dzahabi dho’if (lemah).
Yahya bin Al ‘Alaa’ dinilai oleh Ibnu Hajar orang yang dituduh dusta dan Adz Dzahabi menilainya matruk (harus ditinggalkan).
Marwan bin Salim dinilai oleh Ibnu Hajar matruk (harus ditinggalkan), dituduh lembek dan juga dituduh dusta.
Syaikh Al Albani dalam Silsilah Adh Dho’ifah no. 321 menilai bahwa Yahya bin Al ‘Alaa’ dan Marwan bin Salim adalah dua orang yang sering memalsukan hadits.

Dari sini sudah dapat dilihat bahwa hadits kedua ini tidak dapat menguatkan hadits pertama karena syarat hadits penguat adalah cuma sekedar lemah saja, tidak boleh ada perowi yang dusta. Jadi, hadits kedua ini tidak bisa mengangkat derajat hadits pertama yang dho’if (lemah) menjadi hasan.

Penilaian hadits ketiga: Para perowi hadits ketiga ada delapan, وأخبرنا علي بن أحمد بن عبدان ، أخبرنا أحمد بن عبيد الصفار ، حدثنا محمد بن يونس ، حدثنا الحسن بن عمر بن سيف السدوسي ، حدثنا القاسم بن مطيب ، عن منصور ابن صفية ، عن أبي معبد ، عن ابن عباس yaitu: Ali bin Ahmad bin ‘Abdan, Ahmad bin ‘Ubaid Ash Shofar, Muhammad bin Yunus, Al Hasan bin Amru bin Saif As Sadusi, dan Qosim bin Muthoyyib, Manshur bin Shofiyah, Abu Ma’bad, dan Ibnu Abbas. Al Baihaqi sendiri dalam Syu’abul Iman menilai hadits ini dho’if (lemah). Namun, apakah hadits ini bisa jadi penguat hadits pertama tadi? Kita harus melihat perowinya lagi. Perowi yang menjadi masalah dalam hadits ini adalah Al Hasan bin Amru. Al Hafidz berkata dalam Tahdzib At Tahdzib no. 538 mengatakan bahwa Bukhari berkata Al Hasan itu kadzdzab (pendusta) dan Ar Razi berkata Al Hasan itu matruk (harus ditinggalkan). Sehingga Al Hafidz berkesimpulan bahwa Al Hasan ini matruk (Taqrib At Tahdzib no. 1269). Kalau ada satu perowi yang matruk (yang harus ditingalkan) maka tidak ada pengaruhnya kualitas perowi lainnya sehingga hadits ini tidak bisa dijadikan penguat bagi hadits pertama tadi. Ringkasnya, hadits kedua dan ketiga adalah hadits maudhu’ (palsu) atau mendekati maudhu’. (Takhrij ketiga hadits di atas adalah faedah dari guru kami Ustadz Abu Ali. Semoga Allah selalu merahmati dan menjaga beliau)

Dari pembahasan di atas, terlihat bahwa hadits pertama tadi memang memiliki beberapa penguat, tetapi sayangnya penguat-penguat tersebut tidak bisa mengangkatnya dari dho’if (lemah) menjadi hasan. Maka pernyataan sebagian ulama yang mengatakan bahwa hadits ini hasan adalah suatu kekeliruan. Syaikh Al Albani juga pada awalnya menilai hadits tentang adzan di telinga bayi adalah hadits yang hasan. Namun, akhirnya beliau meralat pendapat beliau ini sebagaimana beliau katakan dalam Silsilah Adh Dho’ifah no. 321.

Jadi kesimpulannya, hadits yang membicarakan tentang adzan di telinga bayi adalah hadits yang lemah sehingga tidak bisa diamalkan.

*gambar bayi diambil dari sini

  1. Anita
    February 2, 2010 at 11:10 am

    Aku dulu dikasih tau Isma Mi, klo haditsnya dhoif.

  2. Anita
    February 2, 2010 at 11:10 am

    Tapi klo dhoif. kenapa di buku2 itu tidak pernah ada yg membahasnya ya?

  3. February 2, 2010 at 11:13 am

    Aku malah baru tahu mbak.
    Iya, di ensiklopedi muslim pun malah dianjurkan. Mungkin karena perbedaan pendapat yang ada. Wallahu a’lam.

  4. February 3, 2010 at 10:12 pm

    yupe ilmu yang bermanfaat, ada beberapa pendapat si memang. tapi dhaifnya benar. perbedaannya lebih mengamalkannya untuk niatan apa. klo untuk dasar hukum fiqh atau aqidah nda bisa….
    ek mbak vitri tertarik promosi bukunya di radio ? talkshow…ane usahakan gratis. Nanti ane kabari de..
    salam buat keluarga

    • Ummu Syifa
      February 4, 2010 at 6:44 am

      Lah kalau memang haditsnya dhoif kan ndak perlu lagi diamalkan to😀
      Btw untuk tawarannya makasih banyak ya. Radio mana nih? Ya saya tunggu kabar selanjutnya.

  5. February 4, 2010 at 12:41 pm

    nda papa diamalkan, menurut saiyah lho kembali ke niat
    MQ fm jogja

    • Ummu Syifa
      February 4, 2010 at 2:36 pm

      trus niatnya apa?😀

  6. moef
    February 5, 2010 at 10:28 am

    fadilah amal heheheh
    kirim kontak antum ke email muftisany@yahoo.com
    untuk tawaran ngisi di radio, segera y

    • Ummu Syifa
      February 5, 2010 at 10:43 am

      lah mosok mengamalkan yg dhoif masih dibilang utama sih? salah-salah malah termasuk mengada-adakan suatu perkara.
      Btw ngisinya kapan? Sy lagi ngga di Jogja lho.

  7. April 15, 2010 at 12:05 pm

    hmmm
    tdk juga kok;
    silakan kalau menganggpnya lemah.
    tapi ada pendapat netral mengenai persoalan ini.

    http://www.muslimdaily.net/konsultasi/5520/hukum-mengadzani-bayi-yang-baru-lahir

  8. July 28, 2010 at 5:25 am

    COba baca dulu tulisan di sini:
    http://rumaysho.com/belajar-islam/keluarga/2761-kritik-anjuran-adzan-di-telinga-bayi-.html.
    Kita bisa bandingkann manakah yg berdasarkan dalil ataukah tidak. Salah satu ulama yang mendukung bahwa adzan di telinga bayi termasuk amalan mengada-ada adalah Imam Malik. Jadi coba ditelusuri dulu keshahihan haditsnya lantas diamalkan. Jika lemah, para ulama sepakat bahwa hadits lemah tidak boleh diamalkan.
    Bicaralah agama dengan ilmu.

    • Ummu Syifa
      July 28, 2010 at 8:14 am

      Jazaakallah ustadz. Artikel yang saya cantumkan juga dari blog ustadz namun yang di wordpress. Jazaakallah khayr atas ilmunya, perkara adzan ini sudah kami tinggalkan sewaktu kelahiran anak kedua kami Juni lalu juga setelah menemukan artikel ustadz tersebut.

    • July 30, 2010 at 10:10 am

      @M abduh: hmm,, mas mas….

      makanya mas, jangan fanatik thd satu mazhab saja
      klo saya sih emang berpendapat tdk perlu azan.
      tetapi jika ada yg memakai azan, bukn berarti mereka tdk pakai dasar yg kuat mas….

      maka baca referensi yg netral juga…

      lagian, pendapat seorang ulama tdk bs menjadi dasar mutlak kebenaran hakiki
      itulah kenapa fiqih itu ada..

      krn perbedaan dlm memahami suatu kasus.

      dan hadisnya pun tidak lemah dlm pndangan ulama hadis tertentu…

      so, ga perlu lah terlalu fanatik2 banget…

      KESIMPULAN pd blog ini pun adl kesimpulan si pemilik blog saja. bukan kesimpulan SYARIAT.
      😀

      • Dman
        May 26, 2013 at 5:13 pm

        Fanatik thd suatu madzhab memang tdk boleh, tp mengembalikan semua ke dua sumber dalil itu harus: Quran dan Sunnah. Lah kalo hadits nya sendiri dhoif, mana bisa bisa diikutin?

        Anda bilang jgn terlalu fanatik2 lah. Tapi sy bilang, maaf, anda sepertinya fanatik dgn sesuatu madzhab.
        Kalo mau fanatik, fanatik lah thd Q dan H, jangan fanatik sama madzhab.

  9. tommi
    August 2, 2010 at 8:30 pm

    Assalamu’alaikum, setelah membaca artikel diatas secara lengkap, saya menyimpulkan permasalahan ini bukan hanya pada masalah madzhab tetapi jg sudah menjalar pada kritik hadits, dan kritik haditsnya pun bukan oleh sembarang org tetapi oleh para ulama masyhur. Dan org2 yg memilih untuk mengerjakan ini jg punya dasarnya dari para ulama yg menganggap hadits ini minimal hasan (walaupun pendapat mereka cenderung lemah).

    Saudara2 kaum muslimin pun punya perbedaan pandangan dalam menilai hadits dho’if untuk fadhillah amal, sebagian menilai bisa mengamalkannya sepanjang bukan dalam masalah halal haram, sebagian menilai jangan mengamalkannya bila tidak didahului oleh hadits shohih sebelumnya sebagai bentuk kehati2an. Saya sudah baca artikel di muslimdaily tersebut dan saya jg sudah membaca pendapat Ibnul Qoyyim di Tuhfatul Wadud Fii Ahkamil Maulud yg cenderung beristihsan (menganggap baik) dalam permasalahan amalan ini.

    Adapun saya…hmm…saya cenderung untuk tidak mengamalkan ini apalagi hadits mengenai adzan di telinga bayi ini menuai perselisihan di kalangan ulama dari sejak dahulu. Sudah ma’ruf bahwa menjauhi perselisihan adalah lebih selamat dan mengerjakan sunnah2 menyambut bayi yg berasal dari hadits2 shahih adalah paling utama ketimbang mengerjakan sunnah dari hadits2 yg masih diperselisihkan.

    Afwan, ini pendapat saya, saya menerima jika ada pendapat yg lain lagi. Saya tidak fanatik pada ulama tertentu, hanya berusaha untuk ittiba’ pada Qur’an dan As Sunnah As Shohihah. Dan sayapun menghargai jika ada yg berbeda pendapat dengan saya. Tolong diperbaiki jika ada komen saya yg salah.

    • Dman
      May 26, 2013 at 5:31 pm

      Top!
      Cuma dua hal yg boleh difanatikin: Q dan H..
      Semua harus bermuara dr dua hal tsb.

      Kalo sdh bingung menghadapi pendapat ulama, tinggal balikin saja ke hadits:
      Telah kutinggalkan diantara kalian dua hal, yg mana tidak ada org yg tersesat bila berpegang teguh kepada keduanya: kitaabillah wa sunnatun nabiyyih saw.

      So, balik liat haditsnya: dhoif.
      Balik ke Q : walaa taqfu maa laisa laka bihii ‘ilman.

      Gampang..

  10. Anggi Alinda
    June 28, 2011 at 9:41 pm

    mbak, bagaimana dengan anjuran mentahnik bayi baru lahir, dan menimbang hasil cukuran rambut pertama bayi, kemudian dikonversikan dengan harga emas, lalu disodaqohkan? adakah dalil yang jelas tentang amalan ini????? punyakah rujukan tentang amalan-amalan sesuai yang dianjurkan Rasulullah terkait kelahiran bayi???? Jika ada, mohon di share….terimakasih…

  11. orang baik
    October 11, 2011 at 8:34 pm

    Ada hadistnya atau tidak, diadzankan dan iqomat itu baik, tidak ada efek buruknya, Karena bayi akan mendengar hal-hal baik pertama kali. Kecuali Setan menganjurkan akan tidak meng adzan karena setan itu sendiri bisa berwujud seorang ustadz atau blogger. Naudzublillah.

    • Ummu Syifa
      October 19, 2011 at 6:26 am

      setiap amal perbuatan harus berdasar Al Qur’an dan Hadits. Jika tidak maka akan tertolak.

    • Dman
      May 26, 2013 at 5:22 pm

      Masya Allooh, anda mau bilang imam Bukhari itu setan?? Anda mengatakan imam2 ahli hadits/perowi yg mengatakan hadits di atas dhoif adalah setan?? Istighfar lah boss..

      Dan ingat, Allooh berfirman: walaa taqfu maa laisa laka bihii ‘ilman.
      (dan janganlah kamu mengikuti/mengamalkan apa2 yg tidak ada padamu ilmunya)

      Jd kalo dalilnya sendiri lemah, tinggal kembali ke dalil dari Allooh di atas: jangan dilakukan!

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: