Home > Islam > Utamakan Qada Hutang Ramadhan Sebelum Puasa Syawal

Utamakan Qada Hutang Ramadhan Sebelum Puasa Syawal

“Barangsiapa yang telah berpuasa Ramadhan dan kemudian dia mengikutkannya dengan puasa enam hari dari bulan Syawwal, maka dia seperti orang yang berpuasa selama satu tahun.” [Sahih: Dikeluarkan oleh Muslim dalam Shahihnya, hadits no: 1164]

Hadits di atas menerangkan keutamaan puasa enam hari di bulan Syawal adalah sepeti puasa sepanjang tahun. Puasa Syawal dilakukan mulai tanggal 2 Syawal, setelah hari raya Aidil Fitri. Tidak boleh melakukannya pada tanggal 1 Syawal karena Rasulullah melarang berbuat demikian.

Abu Hurairah berkata yang bermaksud: “Nabi SAW melarang puasa pada hari Aidilfitri dan Aidiladha.” (Hadis sahih al-Bukhari)

Puasa enam hari di bulan Syawal boleh dilakukan secara berurutan maupun tidak, asalkan jumlahnya genap enam hari, sebelum hari terakhir di bulan Syawal. Hal ini karena dalam hadits di atas, Rasulullah menyebutkan secara umum, tanpa memberikan ketentuan hari-harinya. Namun alangkah baiknya bila puasa enam Syawal disegerakan dalam pelaksanaannya berdasarkan firman Allah berikut:

Dan bersegeralah kamu kepada (mengerjakan amal yang baik untuk mendapat) ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. (Surah Ali-Imran, ayat 133)

Lalu timbul pertanyaan, manakah yang lebih diutamakan, qada hutang puasa Ramadhan (bagi yang berhutang) ataukah melaksanakan puasa enam hari di bulan Syawal?

Ada dua pendapat ulama dalam masalah ini.

Pendapat pertama, boleh melakukannya berdasarkan dalil bahawa Aisyah pernah mengakhirkan hutang puasa Ramadan yang perlu diqada hingga ke bulan Syaaban yang akan datang.

Aisyah berkata: “Aku memiliki hutang puasa bulan Ramadan. Aku tidak mampu mengqadanya kecuali pada bulan Syaaban kerana sibuk (melayani) Rasulullah SAW.” (Sahih Muslim)

Ulama yang mengemukakan pendapat pertama berhujah, bahwa sudah pasti Aisyah melaksanakan puasa sunat enam Syawal dan tindakan beliau mengqada puasa Ramadan pada bulan Syaaban menunjukkan dibolehkan berpuasa sunat enam Syawal sekali pun seseorang itu memiliki hutang puasa Ramadan.

Pendapat kedua, tidak boleh melakukan puasa enam Syawal sebelum mengqada seluruh hutang puasa Ramadhan. Hal ini berdasarkan hadits yang telah disebutkan di atas: “Sesiapa yang berpuasa Ramadan kemudian dia mengiringinya dengan enam hari dari bulan Syawal maka seperti ia berpuasa sepanjang tahun.”

Rasulullah SAW mensyaratkan berpuasa Ramadan terlebih dulu, kemudian barulah mengiringinya dengan enam hari dalam bulan Syawal. Ini menunjukkan puasa sunat enam Syawal hanya dilaksanakan sesudah seseorang itu menggenapkan puasa Ramadan. Jika ada puasa Ramadan yang ditinggalkan (lantaran uzur; atau karena haid bagi wanita), ia perlu diqada terlebih dulu barulah diiringi dengan puasa sunat enam Syawal.

Jika diperhatikan secara teliti, pendapat yang kedua lebih rajih (kuat) kerana menepati dalil puasa sunat enam Syawal itu sendiri. Namun, jika seorang itu tidak berkesempatan (disebabkan keuzuran) untuk melakukan qada kemudian berpuasa enam dan dia berkeyakinan akan sempat mengqadakan sebelum Ramadan tahun berikutnya, maka pendapat pertama boleh diterima berdasarkan apa yang dilakukan Aisyah.

Allahu a’lam bis showab.

Source:

http://www.hanan.com.my/print.php?sid=1903

http://www.islamhouse.com/files/id/ih_articles/id_fasting_six_day_of_shawwal.doc

http://www.quranterjemah.com

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: