Home > Bayi, Cerita, Diary Syifa, Islam, Perkembangan Anak > Berbagi Cerita: Menyapih Si Kecil

Berbagi Cerita: Menyapih Si Kecil

Seminggu yang lalu saya ngobrol dengan suami tentang rencana penyapihan Syifa. Sebenarnya hal ini sudah kami bicarakan jauh-jauh hari, tentang kapan waktu penyapihan Syifa dan bagaimana caranya agar Syifa tidak rewel. Untuk masalah waktu jelas, di dalam Al Qur’an sudah ada petunjuk yang jelas, yaitu dua tahun, bagi yang ingin mencapai tahap kesempurnaan penyusuan.

Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma´ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (Al Baqarah:233)

Dua hari lalu Syifa genap dua tahun. Penanggalan ini mengacu pada penanggalan qomariyah. Jika menurut penanggalan syamsyiah, Syifa lahir tanggal 30 Agustus jadi masih sekitar satu bulan lagi. Sebelum berangkat ke Sydney, orang tua saya sudah memberikan banyak nasihat, di antaranya adalah dengan menggunakan biji mahoni yang pahit untuk dioleskan ke puting. Lalu saat menyapih, anak biasanya akan rewel, sementara si ibu akan merasakan yang dinamakan “ngrangka’i” atau rasa nyeri dan tegang pada payudara.

Berbekal hal tersebut saya mulai ancang-ancang (bersiap-siap) untuk menghadapi kesemuanya. Saya berangkat ke Sydney dengan tidak lupa membawa “senjata” saya berupa biji mahoni. Biji ini rasanya pahit untuk dioleskan pada puting saat menyapih. Alhamdulillah benda itu tidak tersita oleh petugas😀

Saat yang dinantikan tiba. Saya memulai menggunakan biji tersebut. Apa yang terjadi? Syifa langsung spontan berhenti menyusu. “Pahit”, katanya. Yes. Kataku senang. Kubilang kalau Syifa sudah ngga boleh menyusu lagi, karena miminya pahit. Dia menurut. Sampai waktunya tidur, dia tidak menyusu, namun rewel dan beberapa kali terbangun di malam hari. Saat bangun, ia pasti minta mimi. Namun kembali kubilang bahwa miminya pahit, maka ia urung menyusu.

Itu kulakukan seminggu sebelum Syifa genap dua tahun. Saat malam, saya dan suami mengobrol tentang ini. Ternyata beliau kurang setuju. Beliau bilang seharusnya pas dua tahun, baru disapih. Bukankah yang sempurna itu jika sudah dua tahun? Ya, aku ingat. Tapi kan gapapa kalau cuma kurang seminggu? Lalu beliau menjawab, kalau yang sempurna dua tahun, berarti kurang dari itu, meski cuma sehari tetap saja tidak sempurna.

Yah… sia-sia dong, usaha semalam ini. Ditambah lagi suami bilang bahwa kalau bisa jangan menggunakan mahoni, diberitahukan saja nanti dia tahu. Insya Allah jika niatnya karena Allah pasti bisa.

Saat itu, aku mulai merasakan apa yang dinamakan “ngrangka’i”, karena sudah sejak sore hari sampai subuh ini aku tidak menyusui Syifa. Lalu beberapa saat kemudian Syifa terbangun dan minta mimi. Alhamdulillah, kembali kuberikan haknya yang masih seminggu lagi. Perlahan rasa itu hilang sejalan dengan proses menyusui lagi. ASI kembali Syifa dapatkan sampai seminggu ke depan.

Selama seminggu ini, saya gunakan untuk memberikan keterangan kepada Syifa, bahwa dia sudah besar, dan kalau anak sudah besar ngga boleh nenen lagi, minumnya ganti susu. Dia paham dan setuju walaupun sangat susah untuk melarangnya menyusu saat hendak tidur. Ya, Syifa saat itu masih tak bisa tidur tanpa menyusu.

Lalu, sampai saatnya tiba…

Waktu itu Syifa sedang bersama saya menjaga anak teman karena ditiggal bekerja oleh ibunya, Ghazy namanya. Kebetulan, ada teman yang bisa dijadikan contoh buat Syifa. Ghazy usianya sebulan lebih tua dari Syifa namun sudah disapih sejak dulu karena mamanya harus kerja. Saya bilang bahwa Syifa sudah besar seperti Ghazy. Ghazy juga sudah ngga nenen, jadi Syifa juga harus seperti Ghazy, ngga nenen lagi. Malu dong sama Ghazy… Akhirnya dia yang tadinya sudah bersiap-siap nenen, jadi urung menyusu. Hal itu saya lakukan sampai di sore hari sejak ia akan tidur.

Saat mau tidur, dia kembali minta mimi. Kuberitahu lagi, dan kuyakinkan lagi bahwa dia sudah besar, jagi ngga nenen lagi. Kutawarkan untuk mengelus punggunya atau menepok-nepok pantatnya. Ia menurut, lalu tidur miring membelakangiku. Begitu terus sampai akhirnya ia tidur sendiri. Alhamdulillah, sampai saat ini usahaku berhasil.

Tengah malam dia terbangun dan menangis, seperti biasa jika terbangun ia akan minta mimi. Kubilang lagi seperti kata-kataku sebelumnya. Dia menangis keras sekali, sampai ayahnya yang harus turun tangan. Kata-kata ayahnya bisa membuatnya terdiam, namun masih sedikit rewel. Kembali kuusap punggungnya dan ia kembali tertidur. Hm.. malam itu tiga kali dia terbangun.

Keesokan harinya adalah giliranku. Aku kesakitan karena “ngrangka’i”. Sakiit sekali rasanya. Bahkan untuk bangun saja sakit. Berjalan rasanya tidak nyaman. Sendi lututku ngilu, gigiku juga ngilu ditambah kepala rasanya pusing. Ya Allah… kapan ini akan berakhir… rintihku. Aku sms kakak iparku, agar ibu menelponku. Aku ingin mengadu, sekedar menceritakan rasa sakitku, di samping sebagai obat rindu, karena sudah beberapa hari ini beliau tidak menelepon.

Kuceritakan semuanya, dari awal proses menyapih sampai detik itu saat “ngrangka’i” menjadi momok yang luar biasa mengerikan bagiku, walaupun aku pernah merasakan juga saat awal-awal hendak menyusui Syifa, sesaat setelah dia lahir. Ibu bilang, paling nanti tiga hari sembuh. Hhh tiga hari menjadi waktu yang sangat berat… Bapak saat itu juga memberikan pesan bahwa Syifa harus lebih banyak minum air putih, makan sayur dan tambahan susu. Nah, itu yang sulit. Karena dari awal sudah ASI, Syifa jadi susah minum susu formula. Dulu pernah kutambah susu formula saat melewati masa ASI eksklusifnya, namun sulit sekali. Kadang sampai melewati batas waktu susu harus habis (biasanya dua minggu untuk kardus kecil), belum juga dihabiskannya.

Saat ini sudah tiga hari sejak proses penyapihan Syifa. Alhamdulillah, Syifa tidak rewel lagi. Jika malam hari, sudah tidak sering terbangun lagi. Dan aku juga sudah tidak merasakan nyeri lagi. Lucunya, Syifa masih aja sering teringat nenennya. Kadang spontan dia minta dipangku, lalu minta nenen. Kalau sudah begitu, kembali kuberikan pengertian seperti yang sudah-sudah atau kualihkan perhatiannya. Alhamdulillah dia semakin mudah mengerti. Dan bersyukur pula, dia juga mulai menyukai susu full cream.

Nah, bagi para ibu yang ingin menyapih, gunakan saja pengertian, jangan bahan-bahan yang pahit. Insya Allah anak kita mau mengerti🙂 Semoga cerita ini dapat bermanfaat bagi para ibu semua.

*Cuplikan ayat Al Qur’an diambil dari http://www.quranterjemah.com

  1. August 6, 2009 at 10:15 am

    selamat sudah berhasil menyapih, ditunggu pola menyapih anak2 berikutnya *anaknya dibuat dulu kali ya..*
    pengalaman saya 3 anak semua berbeda cerita je..

  2. bundanyaKhonsa
    August 6, 2009 at 10:17 am

    terimakasih sudah berbagi

    salam kenal ya bu, qeqeqe:mrgreen:

  3. ririn
    August 6, 2009 at 10:30 am

    alhamdulillah sudah selesai proses menyapihnya…hebat lo syifa pake pengertian saja bisa….kedua anak saya nggak ada yg pake perngertian hehe….:))

  4. August 6, 2009 at 11:18 am

    @mbak Etik: mbak Etik bagi ilmunya dong di blog, buat trik menyapih anak2 saya selanjutnya (insya Allah jika diberi lagi):mrgreen:

    @BundanyaKhonsa: aku memenuhi janjiku kan?😎

    @BundaH2M: alhamdulillah… lha emang Hanim Maryam dulu nyapihnya gimana Bunda? Kalau Hasna kan belum ya hehe

  5. August 6, 2009 at 11:39 am

    alhamdulillah sukses ya ummu syifa.makasih,ceritanya bagus, besok jadi referensi kalo mau nyapih khansa (6 bln lg insyaAllah)…

  6. August 6, 2009 at 12:02 pm

    Alhamdulillah, makasih, semoga bermanfaat ya Ummu Khansa. Semoga sukses juga 6 bulan lagi😉

  7. syifa
    August 8, 2009 at 10:46 am

    ga terasa ya, dah dua tahun putrimu…

  8. August 8, 2009 at 12:28 pm

    iya. Lha mbak’e kapan nih?😆

  9. bunda Helsa
    December 1, 2009 at 3:21 pm

    Alhamdullilah…. Ummu Syifa😆 sudah ngasih informasi buat ak soalnya ak ibu baru sih🙂 jadi masih bingung waktu mau menyapih putriku Helsa…sukses terus ya…ditunggu terus informasi2nya yang lain😛 😛

  10. December 1, 2009 at 3:39 pm

    @Bunda Helsa: alhamdulillah semoga informasi ini bermanfaat. Insya Allah saya terus mencoba menulis perkembangan anak saya yang dapat dijadikan pengalaman bagi ibu-ibu yang lain. Makasih do’anya. Selamat menyapih juga Bunda, semoga dimudahkan, amin.😉

  11. Herdina Rosnaeny
    January 27, 2016 at 5:17 pm

    Pengalaman menyapih yang baik…
    Apa saat itu Syifa sudah pandai berbicara?

    • Ummu Syifa
      June 3, 2016 at 12:51 pm

      Alhamdulillah sudah. Terimakasih.🙂

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: