Home > Cerita, Special > Long Distance Love, Antara Aku dengan Dia

Long Distance Love, Antara Aku dengan Dia

LDLBuku yang diberikan cuma-cuma oleh teman saya Rina (matur nuwun sanget nggih) membuat hati saya bergejolak saat membacanya. Judul dalam buku tersebut sudah sangat kukenal, karena saat ini aku sendiri tengah mengalaminya. LDL ku dengan ayah Syifa sudah berlangsung sejak pertengahan Februari lalu. LDL yang dimulai dua hari menjelang hari wisudaku, otomatis membuat hari bersejarah itu menjadi kenangan yang tak begitu istimewa karena satu anggota keluarga tak hadir. Ya satu anggota keluarga yang begitu istimewa malah tidak bisa hadir. Iri juga saat menyaksikan sahabatku melaksanakan wisuda dengan ditemai oleh suaminya, dan bahkan terasa komplit karena saat itu beliau juga tengah tujuh bulan mengandung anak pertamanya. Sedang aku, Syifa juga terpaksa tidak ikut. Kutinggalkan dia di rumah bersama mbah uyutnya, karena prosesi wisuda yang lama akan membuatnya bosan dan mungkin saja akan rewel. Akhirnya wisuda hanya berlangsung di GSP saja. Aku memutuskan untuk tidak mengikuti syukuran yang diadakan di fakultas walaupun juga telah membeli undangannya. Jam 11 wisuda berakhir, dan setelah menikmati snack dari panitia, juga semangkuk sup buah, kami (aku, bapak, dan ibuku) segera pulang ke rumah. O iya, waktu itu brother bersedia mengantar-jemput ku. Jadi kami pulang berempat dengan dua sepeda motor. Tak lupa kubawakan oleh-oleh berupa mainan pinguin untuk Syifa. Kuharap ia senang menerimanya.

Kini, rencana besar yang tengah kulakukan adalah untuk segera menyusul ayah Syifa ke Australia. Agendaku adalah mengurus visa melalui kantor IDP di Semarang kemudian dari pihak IDP akan mengirimkannya ke kedutaan Australia. Pengurusan visa lumayan memakan waktu lama, mengingat persyaratan yang diberikan juga tidak sedikit, ditambah lagi keharusan untuk melakukan cek kesehatan di klinik-klinik yang ditunjuk. Setelah semua persyaratan lengkap, aku berangkat sendirian ke kantor IDP di Simpang Lima Semarang. Bersyukur karena perjalananku lancar dan pihak IDP juga sangat membantuku. Menggunakan jasa travel, aku berangkat jam 8 pagi dan sampai rumah jam 20.30. Alhamdulillah Syifa tidak rewel saat kutinggal.

Ternyata syarat-syarat yang kuberikan belum lengkap. Ada satu surat yang menurut pihak IDP kurang meyakinkan. Jadi aku harus kembali mengurusnya lagi. Untung saja aku tidak harus ke sana lagi saat mengantarkan kekurangan syarat itu, cukup melalui pos saja. Satu lagi syarat yang merupakan keharusan adalah cek kesehatan. Alhamdulillah aku sudah melakukan cek di klinik husada kotabaru, dan sekarang tinggal menunggu hasilnya saja lalu mengirimkannya ke kantor IDP. Semoga saja kekurangan surat itu bisa segera kulengkapi dalam pekan ini.

Aku dan suamiku menunggu saat-saat kami dapat berkumpul kembali. Terutama suamiku, yang memang hanya sendirian di sana. Aku masih lebih ‘beruntung’ karena ada keluarga yang dapat mengisi kesendirianku. Sedang suamiku, tentu saja sering merasa kesepian dan sangat membutuhkan kehadiran keluarga, mengingat banyaknya tugas dari kampus. O iya, beliau sedang studi S2 di UNSW atau University of New South Wales, Sydney, Australia, mengambil master of computer science.

Membaca buku LDL menantangku untuk terus bisa bertahan dengan perpisahan sementara ini. Aku harus lebih banyak bersyukur karena ternyata masih banyak pelaku LDL lainnya yang lebih pahit menjalani hidup. Terpisah dengan jarak yang begitu jauh, banyak kendala dalam pembuatan visa, bahkan berkali-kali ditolak. Ada juga yang sungguh merana, karena sudah capek-capek bekerja malah ditinggal kawin lagi oleh suaminya. Huh!

LDL memang menginspirasi. Aku harus lebih berani, aku harus lebih tatag (tahan mengahdapi keadaan) dan aku harus lebih banyak bersyukur atas semua pemberiannya.

Satu lagi, motto yang harus selalu terpatri: jangan menyia-nyiakan pasangan di kala ia dekat di sisi. Semoga Allah senantiasa menjaga hati kami dan memudahkan jalan kami untuk berkumpul bersama kembali, amin.

Categories: Cerita, Special Tags:
  1. May 11, 2009 at 8:19 am

    :mrgreen:

    tetap semangat Ummu, smg dipermudah urusannya, bs segera menyusul ayahnya syifa ke australia

    dont forget, daku nitip kanguru, wkwkkwkw

    ๐Ÿ˜€

  2. May 11, 2009 at 9:02 am

    amin… makasih bundakhonsa. Btw kangguru? ๐Ÿ™„

  3. July 7, 2009 at 10:25 pm

    Assalamu’alaikum
    Dapet link blog ini dari Pak Syarif, dan dapet link pak syarif dari gugel… ternyata kenal dengan Rina bunda khonsa ya Bu? Salam kenal..๐Ÿ™‚
    Sekarang di aussie ya Bu? alhamdulillah, kumpul dengan keluarga kembali..

  4. syifa
    July 8, 2009 at 8:10 am

    berat nian perjuanganmu, nak…. semoga di masa depan ummu syifa menerima gantinya dengan sesuatu yang indah…

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: