Home > Cerita, Intermezzo > Sekali Kali Curhat Itu Perlu

Sekali Kali Curhat Itu Perlu

Curhat adalah mencurahkan isi hati kepada orang lain. Walaupun tidak selalu curhat untuk setiap masalah, namun pada saat-saat tertentu, curhat bisa menjadi obat tersendiri. Saat ada masalah yang sulit misalnya, kita dapat berbagi kepada orang lain untuk meminta solusi atas permasalahan yang kita hadapi atau sekedar memintanya menjadi pendengar yang baik. Tentu saja orang lain yang kita curhati tidak bisa sembarang orang. Orang itu bisa saja sahabat atau suami/istri kita sendiri yang tentunya dapat dipercaya. Kepercayaan itulah yang menjadi kunci sebuah kesetiaan.

Bagi orang introvert, akan terasa susah sekali curhat, kecuali dengan orang yang sangat sangat dekat dengannya, atau minimal memiliki persamaan dalam hal tertentu, status misalnya. Orang yang sama-sama menderita secara ekonomi, bisa jadi lebih mudah untuk saling bertukar pikiran dan menceritakan masalah masing-masing.

Saya pernah curhat. Dengan suami? Sering… Dengan sahabat? Itu pilih-pilih… Setelah curhat memang rasanya jadi plong. Saya merasa ada seseorang yang bisa mendengarkan saya, memberi sebuah jalan terang. Setelah mengungkapkan masalah, saya merasa sepeti membuat sebuah space yang besar dalam dada, yang dapat mengurangi rasa sesak.

Selain curhat, saya memilih untuk tilawah atau sholat. Dua cara ini kadang bisa membuat perasaan lebih enak. Salah satu teman bahkan pernah bercerita bahwa kadang-kadang saat ia sedang mengalami kegelisahan, saat tilawah seakan menemukan solusinya, dari arti ayat-ayat yang dia baca. Sungguh suatu kebetulan yang menyenangkan.

Sholat sendiri sebenarnya, bila bisa meresapi, seakan-akan seperti sedang ngobrol dengan Sang Pencipta. Tentu saja sholat dengan konsentrasi tinggi. Kebanyakan justru saat sholat menjadi susah konsentrasi ketika sedang bermasalah.

Apapun pilihan Anda, semoga menjadi jalan yang terbaik untuk solusi masalah yang sedang dihadapi. Dan curhat? Sekali-kali emang perlu. Coba saja.

Categories: Cerita, Intermezzo Tags: ,
  1. January 17, 2009 at 11:23 pm

    Assalamualaikum ww,
    Betul kata ummu Syifa. Saya begitu kena phk langsung kirim email curhat ke teman. Setidaknya sedikit menghilangkan stress di diri kita. Salam kenal.

  2. January 24, 2009 at 6:41 pm

    Subhanallah…, nice Blog ummi!!! menurut ane curhat emang kudu!!, buat siapapun baik yang introvert or ekstrovert akan sama enaknya kalo curhat sama Sang Pemilik Semesta beserta isinya, di malam yang sunyi, sepi, tenang, anggun, dan teduh…, habis Shalat malam!ato sama mamah dan aa’ di indosiar…, Tapi kalo curhatnya kepada temen lawan jenis en terus-terusan gmana ummi???:mrgreen: bisa bahaya kalleeee ya??? wah, seneng skali bisa terdampar di blog keren ini…..😛 keep on move en blogging ummi…

  3. January 25, 2009 at 8:26 am

    to Alris: wa’alaykumussalam. Makasih kunjungannya. Salam kenal juga.

    to A. Fathy Farhat Khan: makasih sudah berkunjung. Kalo curhat sama lawan jenis ya sama suami/istri aja:mrgreen: Btw ternyata antum penulis ya? Wah saya bisa belajar banyak nih 🙂

  4. January 30, 2009 at 9:53 am

    judulnya saya lengkapin ya …

    Sekali Kali Curhat Itu Perlu ke psikolog

    😀 he he he,
    di indonesia psikolog masih di-asing-kan, halah!
    salah satu alasannya karena biaya,
    but itu dulu, sekarang dah pating sebar tuh psikolog-psikolog di puskesmas-puskesmas ya bisa diakses siapa aja yang mau …

  5. January 30, 2009 at 10:22 am

    Terima kasih Firman, sudah berkunjung ke blog ini. Jangan-jangan antum psikolog ya?🙂
    Curhat ngga harus ke psikolog, justru menurut saya curhat paling enak dengan keluarga sendiri atau bahkan dengan Yang Maha Memiliki🙂

  6. February 2, 2009 at 1:18 pm

    y’ sih curhat thu penting………
    😳 tp klw Qt nya curhat ma org yg benci Qt, yaaaa
    bisa2 dibeberin orang2.

  7. wati
    May 5, 2009 at 4:30 pm

    ass. ummi
    hari ini saya akan coba curhat ke suami mengenai hubungan saya dengan suami, komunikasi khususnya, antara kami jarang sekali komunikasi, pdhl dalam hati membludak segalanya, ingin rasanya menjadi keluarga yang sakinah, romantis, harmonis. tapi apa daya, suami ringan tangan, cuek, egois & keras kepala. sayapun menjadi ‘dingin’ karena penghianatannya dulu. setelah baca ini saya tersentuh dana akan mencoba bicarakan & curhat pada suami hari ini. terimakasih ummi. doakan saya..

  8. May 5, 2009 at 10:35 pm

    @Wati: Terima kasih sudah mampir ke rumah maya saya. Semoga Allah senantiasa memudahkan segala urusan kita, amin.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: