Home > Perkembangan Anak > Imitasi Bocah Satu Tahun

Imitasi Bocah Satu Tahun

Imitasi berasal dari bahasa Inggris, imitation, yang artinya menurut ardictionary  (sesuai dengan konteks tulisan ini) adalah 1) the act of limitating dan 2) copying (or trying to copy) the actions of someone else. Imitasi dengan demikian artinya adalah sebuah proses peniruan terhadap tingkah laku seseorang. Peniruan oleh anak kecil terhadap orang dewasa bisa didapat dari proses melihat dan mendengar.

Suatu malam saya mendengar suara pertengkaran ibu dengan anaknya. Suara itu terdengar jelas dari sebelah dinding tembok kamar. Si anak (mungkin berusia sekitar tiga tahun, karena cara bicaranya sudah lancar), saat itu sedang menangis keras. Tiba-tiba dari mulut si anak keluar ucapan

“Buke nakal!” (ibu nakal)

Lalu ibu dengan nada tinggi membalas,

“Kowe sing nakal kok!” (kamu yang nakal kok)

Entah apa yang terjadi hingga si anak memvonis ibunya dengan ucapan nakal.Kata nakal, tentu saja tidak begitu saja “ditemukan” oleh si kecil. Bahkan arti kata nakal sendiri sudah barang tentu tidak dipahami oleh si kecil yang baru berumur tiga tahun. Si kecil mengerti kata nakal, saat dia mendengar dari mulut orang lain, bisa jadi ibunya sendiri. Nakal yang dipahaminya adalah ketika si ibu dengan wajah kesal, melotot ke arahnya, setelah dia melakukan sesuatu hal yang membuat ibunya tidak senang. Kata nakal bisa jadi akan terngiang dan akan berbalik terucap oleh si kecil kepada ibunya, karena dia telah belajar meniru.

Peniruan bukan hanya saat si kecil mendengar. Bahkan proses peniruan lebih banyak dilakukan ketika si kecil melihat dan mengamati tingkah orang lain. Saat ibu menyapu, si kecil mulai tertarik untuk menirukannya. Ia mengambil sapu, lalu dengan tingkah polos dan apa adanya berusaha sebisa mungkin menirukan ibunya menyapu lantai. Saat menemukan sebuah boneka, ia berusaha untuk menyuapi atau memberikan sebotol susu dan mendekatkannya ke mulut boneka. Saat ibu makan, ia meminta piring dan sendok kemudian mulai menyuapkan sendok ke mulutnya.

Usia ini memang usia si kecil mulai aktif untuk menirukan apa saja yang dilihatnya. Jadi, sebagai orang tua, terutama ibu harus ekstra ketat dalam menjaga tingkah laku. Ia harus berusaha menghindarkan diri dari tingkah yang buruk agar tidak dicontoh oleh anaknya. Saat berbicara pun haruslah hati-hati. Kadang-kadang ibu keceplosan untuk mengatakan hal-hal yang seharusnya tidak bagus untuk didengar oleh anaknya, sehingga terekam dalam benak si anak karena begitu singkatnya si anak menirukan apa yang ibu ucapkan. Bahkan dalam buku “Pendidikan Cinta Untuk Anak”, di sana dikatakan bahwa sebaiknya tidak mengucapkan kata-kata “Ya ampun…” tapi diganti dengan kata “Ya Allah…”. Hal ini otomatis akan membiasakan si kecil untuk mendengar kalimat yang baik-baik saja dan mengnhindaran kata-kata yang mubadzir.

Apa-apa yang didengar dan dilihat secara terus-menerus akan menjadi sebuah karakter. Begitu yang saya baca di sebuah majalah. Berkaitan dengan ini, jika si anak hanya melihat dan mendengar hal-hal yang baik saja dari lingkungannya, maka insya Allah ia akan tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter baik pula. Demikian, semoga bermanfaat.

Gambar diambil dari sini.

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: