Home > Cerita > Perpisahan, Tak Pernah Menyenangkan

Perpisahan, Tak Pernah Menyenangkan

Sore ini rasanya hampir sama dengan saat aku meninggalkan rumah tercinta untuk menempati rumah yang baru. Rumah baru itu, rumah kontrakan pertama yang kutempati dengan suami. Ya, hanya dengan suami. Aku pergi meninggalkan rumah yang sudah beberapa tahun lamanya memberikan berjuta kenangan. Aku pergi meninggalkan keluarga yang sangat menyayangiku. Aku pergi menjalani hidupku yang baru, bersama teman hidup yang baru.

Perpisahan memang tak pernah menyenangkan.

Ketika kuputuskan untuk menikah dulu -saat itu aku masih berada di tahun ke dua masa kuliah- hal yang paling berat adalah berpisah dengan ibu. Betapa tidak, ibulah yang selama ini menjadi pelipur duka, sekaligus teman cerita sehari-hari. Ibu juga lah orang yang paling asyik diajak bercanda. Dan akhirnya, ibu menjadi orang yang paling kurindu selama hari-hari pertama menempati rumah baru.

Saat itu, malam hari, aku menangis. Suami sempat bertanya, mengapa aku menangis. Aku bilang, kangen ibu. Meski di sampingku sudah ada pendamping hidup yang sangat kucinta, tapi di saat-saat pertama aku berpisah dengan ibu, tetap rasa rindu ini begitu kuat hingga mengalahkan segalanya.

Dan ternyata, ibu pun demikian. Selama seminggu, beberapa kali ibu telepon, sambil menangis. Ibu kangen putri satu-satunya. Itu aku. Bapak sempat bilang waktu itu, bahwa ibu tak seharusnya menangis. Bukankah aku, putri satu-satunya telah bahagia bersama suaminya? Mengapa menangis? Aku berpikir -saat menuliskan ini- apakah kelak aku akan merasakan hal yang sama ketika Syifa telah menemukan pendamping hidupnya?

Aku, yang tak pernah berpisah dengan ibu. Selama duduk di bangku sekolah, aku tak pernah sekalipun merasakan menjadi anak kos. Selalu berangkat dari rumah, cium tangan ibu dan bapak, lalu pulang ke rumah kembali dengan mengucap salam kepada penghuni rumah. Mereka menyambut dengan balasan salam. Seperti itulah ritual sehari-hari. Jadi wajar bila hati ini begitu merasakan kehilangan yang sangat, ketika semua itu tak ada lagi.

Kali ini, aku juga kangen ibu. Empat hari yang lalu, ketika sempat pulang dan merasakan keramaian suasana rumah, memberikan sedikit obat akan rasa rindu kepada keluarga di sana. Saat suami berada di tempat yang jauh, rasa sepi yang ada sedikit terobati dengan berkumpul bersama keluarga tercinta. Kini, saat tiba waktu pulang ke rumah, rindu itu menghampiri lagi. Ah, malam ini aku rindu ibu, rindu rumahku, dan rindu keluargaku, lagi.

Categories: Cerita Tags: , ,
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: