Home > Kuliah > Dosen Idola

Dosen Idola

Di kampusku, setiap akan mengambil  blanko KRS (Kartu Rencanal Studi) diharuskan untuk mengisi lembar evaluasi dosen. Pada lembar tersebut terdapat beberapa kriteria penilaian untuk setiap dosen yang mengampu mata kuliah tertentu. Masing-masing kriteria diberi nilai dari 1 hingga 4. Nilai 1 adalah nilai terendah dan 4 adalah yang tertinggi. Kriteria tersebut meliputi kehadiran tepat waktu, penguasaan terhadap materi, kesesuaian materi yang diberikan dengan silabus, ada tidaknya diskusi dalam kelas, dan apakah mahasiswa terdorong untuk belajar setelah menerima kuliah tersebut. Diharapkan mahasiswa dapat mengisinya sesuai dengan kenyataan, agar dapat memberikan hasil yang valid. Namun sepertinya hanya sebagian kecil saja yang serius mengisi lembar tersebut (atau malah ngga ada?). Kebanyakan hanya menyontek lembar evaluasi milik teman yang sudah selesai diisi atau asal saja mengisi. Alasannya, biar cepet dapet KRS. Inilah yang kadang membuat hasil evaluasi menjadi tidak valid. Padahal ada seorang dosen yang dengan bangganya mengumumkan rata-rata scorenya yang lebih dari tiga. Artinya, dosen tersebut selalu mendapat nilai rata-rata atas pada setiap kriteria. Hmm…


Mengisi lembar evaluasi dosen memang bukan hal yang menyenangkan (lebih asyik blogging donk… ). Pertama, karena lembar ini adalah lembar jawab komputer, maka perlu sebuah pensil 2B berikut karet penghapus. Ke dua, perlu konsentrasi tinggi. Anda pernah ikut ujian UM kan? Atau SPMB? Nah, konsentrasi tinggi ini diperlukan agar bulatan-bulatan yang kita hitamkan itu bisa pas dan tidak keluar garis. Hal ini agar proses pembacaan LJK bisa lancar. Ke tiga, perlu sebuah buku panduan akademik. Buat apa? Tentu saja untuk mengisi kode-kode mata kuliah yang wajib diisikan di tempatnya. Saya yakin para mahasiswa ngga ada yang hafal dengan kode mata kuliah yang diambil, kecuali sedikit saja dari mereka. Nah, dari ketiga alasan tersebut, kebayang kan ribetnya mengisi lembar evaluasi dosen? Akhirnya para mahasiswa menempuh dengan jalan pintas, pinjam milik teman yang mengambil mata kuliah sama atau asal mengisi saja. Jadi bisa dipastikan hasil evaluasi tersebut jauh dari kenyataan. So, buat bapak dan ibu dosen, jangan terlalu bangga dengan hasil yang Anda dapat bila score Anda tinggi dan jangan kecewa bila mendapat hasil sebaliknya.

LJK sudah terbukti tidak valid, lalu kira-kira apa ya yang bisa jadi patokan bahwa seorang dosen memang berdedikasi tinggi? Dalam arti memenuhi kriteria yang diberikan oleh fakultas? Kalau menurut saya, hal itu dapat diketahui secara langsung ketika berada di kelas. Dosen yang menyenangkan akan membuat mahasiswa betah berlama-lama di kelas. Selain itu, mahasiswa akan aktif berdiskusi maupun sekedar memberikan pertanyaan. Pertanyaan bisa mengindikasikan dua hal, pertama bahwa mahasiswa mengikuti jam kuliah dengan baik. Pikirannya fokus di kelas, bukan badan saja di kelas, tapi otak ke mana-mana. Ke dua, bisa jadi mahasiswa tersebut benar-benar tidak tahu dengan materi yang diberikan. Tentu saja ini positif, karena dengan bertanya mahasiswa dapat lebih mengetahui pokok materi yang sedang diajarkan. Mahasiswa yang bertanya bukan berarti bodoh. Yang bodoh itu, sudah tidak tahu, tidak tanya pula😀 Hehe, melenceng dari bahasan… Baik, kembali ke topik. Jika kelas rame (dengan diskusi) maka inilah indikasi bahwa dosen tersebut memiliki kriteria yang baik, menyenangkan versi mahasiswa. Ada lho, dosen yang sudah capek-capek ngajar, nulis di papan tulis sampai papannya penuh, ketika bertanya, “Ada pertanyaan?” maka tidak ada yang menjawab. Kelas hening, sehening suasana makam di waktu malam :p

Sekedar info saja, saya sudah hampir tamat kuliah di kimia, namun baru di semester akhir ini menemukan dosen idola versi saya. Wow.. penasaran kan? Seperti apa dosen yang pantas mendapat “award” dari saya?😀 Yang jelas dan yang pertama, untuk urusan kriteria yang ditentukan kampus, saya berani memberikan nilai 4 untuk semua kriteria. Ya jelas, karena dosen tersebut memang memenuhi semuanya. Pertama, tepat waktu. Bahkan mahasiswa belum ada yang datang, beliau sudah duduk di singgasananya (baca: kursi dosen).

Ke dua, penguasaan beliau terhadap materi kuliah, tak diragukan lagi. Saya tak akan menyebut nama, (takut dosen lainnya iri😀 ) namun saya hanya bilang bahwa dosen tersebut adalah dosen biokimia. Mata kuliah biokimia identik dengan rumus-rumus senyawa organik plus reaksi-reaksi yang membingungkan (menurut saya), namun di tangan beliau, rumus-rumus tersebut dengan mudahnya tergambar di papan. Beliau juga pernah menunjukkan kehebatannya dalam menghafal reaksi glikolisis (salah satu tahap reaksi pada pemecahan glukosa), reaksi yang jarang-jarang bisa dihafal saking panjangnya.

Ke tiga, dosen tersebut memberikan materi yang sesuai dengan silabus. Mahasiswa jadi ngga bingung akan kuliah yang sedang diikuti. Kriteria ini sebenarnya tidak wajib karena menurut saya, asal dosen mampu membuat mahasiswa paham, walau sedikit keluar dari silabus, tidak akan berefek terhadap mahasiswa.

Ke empat, dosen selalu (tidak pernah tidak) memberikan diskusi dalam kelas. Dosen memberikan satu pernyataan maupun pertanyaan, dan mahasiswa selalu menanggapinya, baik sukarela maupun terpaksa. Loh kok terpaksa? Soalnya dosen yang satu ini suka main tunjuk. Hal yang mungkin sangat tidak disenangi oleh mahasiswa lain. Namun justru hal tersebut membuat saya terntantang untuk bisa memecahkan persoalan yang diberikan. Dengan metode “main tunjuk” ini pula, kadang-kadang materi yang tidak kita tahu menjadi begitu terekam di otak ketika kita yang kena tunjuk dan saat itu kita tidak bisa menjawab. Alhasil, point itu menjadi sangat kita hafal. (Tau kan maksudnya? saya susah mengekspresikannya…)

Ke lima, pada kriteria “mahasiswa menjadi terdorong untuk belajar setelah menerima kuliah tersebut”, ini relatif. Tentu saja karena dosen tersebut hanya sesekali saja memberikan tugas, maka kami terdorong untuk mencari referensi lebih banyak, dan dengan demikian tertantang untuk belajar lebih banyak. Kalau tak ada tugas ya, 3D aja, duduk, diem, dengerin. Asal pas ditunjuk bisa jawab aja…

Nah, demikianlah sedikit informasi tentang dosen idola saya. O ya, tiga point lagi yang membuat saya kagum pada beliau. Bagi mahasiswa yang terlambat lebih dari lima belas menit (sesuai dengan kontrak kuliah di awal), jangan harap bisa mengikuti kuliah beliau (disiplin banget…). Lalu, beliau selalu menghentikan sejenak acara kuliah ketika mendengar adzan dan iqomah (dari masjid terdekat dengan kampus). Dan terakhir, meski kelewat disiplin, beliau ini sangat humoris. Kelasnya tak pernah sepi dengan tawa. Humor-humor segar yang diberikan membuatku selalu betah berada di kelas beliau. Dan yang pasti, pelajaran jadi ngga kerasa, tahu-tahu kuliah sudah berakhir :p

Categories: Kuliah Tags: ,
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: