Toilet Training

Mengajarkan anak untuk BAK dan BAB di kamar mandi (toilet training) memang tidak mudah. Butuh beberapa kesiapan, terutama kesiapan dari si anak itu sendiri. Toilet training merupakan cara untuk melatih anak agar bisa mengontrol ‘hajatnya’, apakah itu saat ia ingin buang air kecil (BAK) atau buang air besar (BAB). Selain itu, anak diharapkan mampu BAK dan BAB di tempat yang telah ditentukan. (http://wrm-indonesia.org).

Bagi anak usia kurang dari 12 bulan, toilet training masih susah dilakukan. Hal ini karena pada usia tersebut anak masih tidak bisa mengontrol keinginan BAK dan BAB. Sedangkan usia 18-24 bulan, ada beberapa yang telah siap melakukannya. Namun ada juga beberapa anak yang hingga usia 30 bulan masih belum menunjukkan kesiapan.

Toilet training bisa mulai dilakukan pada usia 1-3 tahun. Yang perlu diperhatikan saat akan melakukan toilet training selain berdasarkan usia adalah anak seharusnya juga sudah siap secara emosional. Harus ada kemauan dari si anak sendiri, tidak melawan atau menunjukkan tanda-tanda ketakutan. Jika anak bertahan kuat, sebaiknya ditunggu beberapa saat. Bila anak baru diajarkan pada usia 3 tahun, maka dikhawatirkan akan susah mengubah pola yang telah menjadi perilaku. Jika sampai usia 4 tahun belum bisa BAK dan BAB di tempat yang sewajarnya, maka dianggap kurang wajar. Bila demikian, perlu kiranya orang tua memberikan pengertian kepada si anak tentang cara yang benar.

Berikut ini beberapa tanda si kecil siap melakukan toilet training:
1. Tidak mengompol beberapa jam sehari, minimal 3 sampai 4jam.
2. Ia berhasil bangun tidur tanpa mengompol sedikit pun
3. Tahu waktu untuk buang air kecil dan besar dengan menggunakan kata ’pipis’ atau ’pup’, serta BAB dan BAK menjadi teratur.
4. Sudah mampu memberitahu bila celana atau popok sekali pakainya sudah kotor ataupun basah.
5. Bisa memegang alat kelamin atau minta ke kamar kecil sebagai ’alarm’ bahwa keinginan BAK atau BAB memanggil
6. Bisa memakai dan melepas celana sendiri
7. Memperlihatkan ekspresi fisik misalnya wajah yang meringis, merah atau jongkok seperti saat ia buang air
8. Tertarik dengan kebiasaan masuk ke dalam toilet, seperti kebiasaan orang-orang lain di dalam rumahnya.
9. Minta untuk diajari menggunakan toilet.

Sedangkan tahap-tahap toilet training adalah sebagai berikut:

  • Mengenalkan dan membiasakan si kecil untuk BAK dan BAB di toilet. caranya adalah dengan memulai mengajari anak untuk masuk ke kamar mandi (WC).
  • Ajari anak untuk mengatakan bahwa ia akan BAK atau BAB. Anak mungkin akan memberitahu anda pada saat dia sudah mengompol atau BAB. Hal ini merupakan tanda bahwa anak anda mulai mengenal fungsi tubuhnya. Ajarkan anak anda bahwa lain kali ia harus memberi tahu anda sebelumnya.
  • Bawalah si kecil ke toilet pada waktu-waktu akan BAK (misal bangun tidur) dan ajari menggunakan toilet. Istiilah yang biasa digunakan adalah “tatur”. Tatur dilakukan dengan mengajak anak untuk melakukan BAK di kamar mandi saat hendak tidur ataupun bangun tidur. Akan lebih baik lagi jika setiap 3 jam sekali saat siang hari, anak ditatur agar BAK menjadi rutin dan si anak cepat belajar mengetahui waktu BAK.
  • Pujilah bila anak berhasil dan jangan tergesa memarahi bila si anak melakukan kesalahan.

Sumber referensi: http://wrm-indonesia.org dan http://keluargasehat.wordpress.com

Gambar diambil dari http://www.frumsatire.net

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.