Home > Islam > Hukum Minum Sambil Berdiri

Hukum Minum Sambil Berdiri

Dulu saya pernah bertanya-tanya (sendiri) tentang hukum minum sambil berdiri. Setahu saya, sebagaimana makan yang harus dilakukan dengan duduk, maka minum pun demikian. Guru agama SMA mengajarkan pada kami 100 hadits ‘Adabun Nabawi, salah satunya adalah adab makan. Saya lupa bunyi dan arti lengkap hadits tersebut, namun intinya bahwa Rasulullah melarang kita makan sambil berdiri.

Saya terkejut waktu mengikuti out bond di Kalikuning dengan teman-teman satu organisasi. Suatu ketika ada seorang senior saya yang minum sambil berdiri. Saya sempat melihat dan tidak suka dengan tingkahnya. Lalu ada yang bilang, bahwa minum sambil berdiri itu boleh. O ya? Tapi sayang, dia tidak menyebutkan dalil tentang itu.

Suatu ketika (lagi), saat saya sedang menonton film debat Ahmad Deedat dengan seorang Pastor (lupa), waktu itu berjudul “Crucifixion, Fact or Fiction?”, saya melihat di antara pidatonya, Ahmad Deedat minum sambil berdiri. Saya dibuat bingung lagi. Masa’ sih orang yang agamanya hebat macam beliau melanggar hadits?

Akhirnya pertanyaan yang sejak lama mengganjal di benak saya terjawab juga. Ternyata memang ada hadits yang mengatakan bahwa minum sambil berdiri itu boleh. Hadits tersebut ternyata tak kalah shohihnya dengan hadits yang melarang minum sambil berdiri.

Berikut saya kutipkan arti hadits-hadits tersebut yang saya dapatkan dari ustsarwat.com.

Hadits yang melarang minum sambil berdiri

Dari Anas ra. dari nabi SAW bahwa beliau melarang seorang laki-laki mium sambil berdiri. Qatadah berkata, “Kami bertanya kepada Anas, “Bagaimana bila makan sambil berdiri?” Beliau SAW menjawab, “Itu (makan sambil berdiri) lebih jahat lagi (hukumnya).” Maksudnya lebih buruk lagi.

 

Dari Abi Hurairah ra. berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Janganlah kalian minum sambil berdiri. Bila lupa maka muntahkanlah.” (HR. Muslim)

Hadits yang membolehkan minum sambil berdiri

Dari Ibnu Abbas ra. berkata, “Aku memberi minum nabi SAW air zam-zam, maka beliau meminumnya sambi berdiri. (HR Bukhari dan Muslim)

Hadits tersebut dishahihkan bukan hanya oleh Imam Bukhari tetapi Imam Muslim juga sepakat bahwa kedudukannya shahih. Hadits ini tegas sekali menyebutkan bahwa Rasulullah SAW pernah minum air zam-zam sambil berdiri.

Dari An-Nazzal bin Sabrah ra. berkata, “Ali ra datang ke pintu Rahbah dan beliau minum sambil berdiri. Beliau berkata, “Sungguh aku melihat Rasulullah SAW minum sebagaimana kalian melihat aku minum.” (HR. Bukhari)

Dari Umar ra. berkata, “Dahulu kami pernah di zaman Rasulullah SAW makan sambil berjalan dan minum sambil berdiri.” (HR Tirmizi)

 

Dari Amru bin Syu”aib ra dari ayahnya dari kakeknya berkata, “Aku pernah melihat Rasulullah SAW minum sambil berdiri dan sambil duduk.” (HR Tirmizi)

Imam At-Tirmizi menjelaskan bahwa derajat kedua hadits ini adalah hasan shahih. Menurut sebagian ulama, kalau Al-Imam At-Tirmizy mengatakan suatu hadits berkekuatan hasan shahih, maka ada dua kemungkinan. Kemungkinan pertama, hadits itu punya 2 sanad. Sanad pertama hasan dan sanad kedua shahih. Kemungkinan ke dua, hadits itu punya 1 sanad saja, oleh sebagian ulama dikatakan hasan dan oleh ulama lain disebut shahih.

 

Lalu bagaimana kita menyikapinya? Para ulama pun berbeda pendapat mengenai hal ini.
Syeikh Al-Albni rahimahullah, di dalam kitabnya As-Silsilah Shahihah, lebih cenderung untuk melarang seseorang minum sambil berdiri, kecuali dalam keadaan udzur. Meskipun demikian, beliau tetap mengakui keshahihan hadits-hadits yang menyebutkan bahwa Rasulullah SAW minum sambil berdiri.
Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berpendapat bahwa hukum minum sambil berdiri mutlak dibolehkan. Lantaran ada hadits shahih yang cukup banyak yang menyebutkan bahwa nabi SAW melakukannya. Meskipun demikian beliau pun menerima keshahihan hadist yang melarang minum sambil berdiri. Maka kesimpulan beliau bahwa minum itu boleh sambil berdiri, tapi lebih utama bila sambil duduk. Dengan lafadz itu pula beliau menuliskan pendapatnya dalam kitab Riyadhus-Shalihin.
Sebagian ulama dari kalangan mazhab Malik mengatakan bahwa hadits-hadits yang melarang minum sambil berdiri adalah hadits yang mansukh, yaitu hadits yang dhaif derajatnya. Bahkan sebagian lain mengatakan bahwa hadits-hadits itu sudah dihapus hukumnya. Lihat Al-Mausu”ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah.

Kenapa tidak ditampilkan satu dalil saja yang paling kuat lalu yang lain ditolak? Juga kenapa tidak diambil satu pendapat saja, lalu yang lain dibuang, biar tidak selalu dalam keadaan bimbang?

Jawaban Ustadz: kami tidak pernah dididik untuk membuang suatu dalil yang sekiranya masih dijadikan landasan oleh para ulama. Kami juga tidak diajarkan untuk terlalu mudah menafikan jawaban para ulama.

About these ads
Categories: Islam Tags: ,
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: