Home > Islam, Renungan > Tawadlu dalam Hal Ilmu

Tawadlu dalam Hal Ilmu

Tawadlu dalam kitab Ihya’ ‘Ulumuddin karya Imam Al Ghozali, berasal dari kata “meletakkan”. Maksudnya adalah meletakkan sesuatu sesuai dengan posisinya. Tawadlu’ juga berarti menerima kebenaran dari siapa saja yang mengatakanya. Sahabat Nabi, al-Fudlail ibn ‘Ayyadl Ra., mengartikan tawadlu’ dengan “patuh dan tunduk kepada kebenaran walaupun datangnya dari anak kecil dan orang budak yang lebih rendah derajatnya dari kita”.

Lawan dari tawadlu adalah sombong atau takabur. Sombong merupakan sifat yang sangat dibenci oleh Allah, bahkan taruhannya adalah tidak adanya peluang untuk masuk surga.“Tidak akan masuk syurga orang yang di dalam hatinya terdapat seberat biji sawi dari sifat kesombongan.”(HR. Muslim).

Sementara, sikap tawadlu termasuk akhlakul karimah (akhlak yang baik) yang dengannya manusia dapat merasakan kenikmatan surga Allah. Rasulullah pernah ditanya oleh seorang sahabat, “Wahai Rasullallah, apa yang paling banyak menyebabkan umatmu masuk surga?, Rasul menjawab, “Taqwa kepada Allah dan akhlak mulia”. HR. Imam Ahmad, Tirmidzi dari ibn Umaiyah.

Sikap tawadlu juga menyebabkan seseorang diangkat derajatnya oleh Allah.

“Tidak berkurang karena sebab sedekah (beramal kepada orang lain), dan tidak bertambah bagi seseorang yang memaafkan saudaranya yang lain, melainkan Allah meninggikan derajatnya. Dan tidak ada orang yang tawadlu’ (rendah hati karena Allah), melainkan Allah akan mengangkat derajatnya”. (HR. Muslim).

Tawadlu harus dilakukan di setiap waktu dan keadaan, termasuk dalam rangka mencari ilmu. Tawadlu dalam mencari ilmu, intinya adalah selalu memposisikan sebagai orang yang tidak tahu ketika belajar atau menuntut ilmu. Dengan sikap tawadlu maka akan menghindarkan diri dari rasa sombong dan sikap meremehkan orang lain serta merasa diri paling pintar dan paham akan ilmu.

Sikap tawadlu seseorang akan bisa diketahui saat dia menerima sebuah kebenaran yang ternyata berbeda dengan yang ia yakini selama ini. Sebagai contoh,  dua orang wanita yang sebelumnya tidak mengenakan hijab (berjilbab) karena mengira bahwa berjilbab itu tidak wajib. Setelah menerima kebenaran (bahwa mengenakan jilbab adalah kewajiban seorang muslimah), maka satu orang kemudian berjilbab dan yang seorang lagi tetap tidak mengenakannya. Orang pertama masuk pada kategori tawadlu, karena ia dengan ikhlas menerima kebenaran yang datang kepada dirinya. Sementara yang lain, merasa sombong akan kebenaran yang datang, sehingga apa pun yang datang tidak akan mengubah pendiriannya.

Contoh lain, misalnya adalah ketika memberikan sebuah kebenaran kepada dua orang, yang pertama adalah orang tua, dan yang ke dua adalah seorang pemuda. Ibaratnya sebuah botol, maka orang tua adalah botol yang terisi penuh, sehingga untuk memberikan suatu pemahaman baru perlu untuk membuang isinya terlebih dahulu, baru mengisinya dengan sesuatu yang lain. Berbeda dengan pemuda atau bahkan anak kecil yang bisa diibaratkan sebagai botol kosong, sehingga lebih mudah untuk mengisinya.

Seseorang yang sudah tua kadang merasa dirinya lebih pandai dari orang lain yang lebih muda usianya. Hal ini karena orang tua merasa telah mempunyai lebih banyak pengalaman daripada rekannya yang masih muda. Saat diberitahu sesuatu hal, ia terkesan meremehkan dan tidak mempedulikan kata-kata lawan bicaranya tersebut. Kasus ini sering sekali ditemui ketika seorang anak memberikan nasihat kebaikan kepada orang tuanya. Karena kesombongannya, merasa lebih tua, kadang orang tua meremehkan nasihat dari sang anak. Padahal nasihat itu berupa sebuah perintah Allah yang nyata-nyata ada dalam Al Qur’an. Atau bisa jadi karena hati orang tua tersebut telah tertutup dari kebenaran, sehingga perintah Allah pun tak dihiraukannya.

Nauudzubillaahi mindzaalik.

Semoga kita senantiasa dapat berlaku tawadlu kapan pun dan di mana pun berada.

Referensi dari: “Tawadlu’ Jalan Menuju Surga, Oleh: Awal Zikri, Lc.” yang diambil dari sini dan sebuah hadits dikutip dari sebuah milis.

About these ads
Categories: Islam, Renungan Tags: , ,
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: