Rindu yang Menggebu
Tiga belas hari yang lalu, tepat jam delapan malam ketika kuterima pesan singkat dari Ayah Syifa,
Assalamu’alaykum
Mi, Ayah sudah hampir sampai di Madinah, kota yang paling dicintai Rasulullah SAW -orang yang paling Ayah cintai- selain Mekkah. Rasanya seneng banget. Kebahagiaan terhebat dalam hidup Ayah… “
Alhamdulillah, Ayah sudah sampai dengan selamat. Sejak pertama Ayah pergi, tiada yang kumohonkan kepada-Nya selain kemudahan dan keselamatan untuk Ayah, di mana pun dia berada.
Ayah pergi ke tanah suci untuk menemani yangti. Sebenarnya yangkung lah yang sudah mendaftar untuk berangkat haji tahun ini, namun karena beliau keburu dipanggil oleh Allah, jadi kesempatan itu diberikan kepada suamiku. Semoga kelak Ayah bisa menghajikan beliau.
Hari-hari tanpa suamiku adalah hari yang menjemukan. Sepi, tanpa mendengar tawa dan candanya. Ummi rindu Ayah. Empat puluh hari ini adalah hari-hari yang akan penuh dengan kerinduan. Mungkin Syifa juga merasakannya, hanya saja karena masih kecil, ia belum bisa mengungkapkannya. Kerinduan Syifa tercermin dalam sikapnya. Ia kadang memanggil-manggil Ayah.
“Yah… Yah…”
Kalau sudah begitu, pasti langsung ada sesi tanya jawab:
Ummi: “Ayah sek tin…?” (sek (saweg) = sedang)
Syifa: “Ndak…”
Ummi: “Tindak ha…?” (tindak = pergi)
Syifa: “Ji…”
Ummi: “Adek kalih Um…?” (kalih = dengan)
Syifa: “Mmm… ” (Syifa belum bisa bilang Ummi, bisanya baru Mmm…)
Ummi: “Kalih sim…?”
Syifa: “Mbok.” (Simbok adalah panggilan untuk pengasuh Syifa).
Yang sabar ya Nak… Do’akan saja agar Ayah dan yangti selalu diberikan kemudahan segala sesuatunya di sana dan kembali ke sisi kita dengan sehat dan selamat, amin.
duh ummu sabar yah
sabar……
kan jadi merajut kembali kerinduan hehehehe
nanti setelah ketemu cintanya semakin bertambah
Jazakillah mbak.
O ya, setelah ketemu cinta makin bertambah? Hmmm (wait for that moment)